Showing posts with label mengmudi. Show all posts
Showing posts with label mengmudi. Show all posts

Tuesday, February 2, 2021

Perjalanan Jakarta Bali PP Etape Kediri Bali

8.40 WIB
Start Kediri, menuju arah Braan, jalan tidak terlalu ramai, hanya beberapa truk yang mudah disalip, ketemu Harapan Jaya, Menyalip di Mrican, tapi berhasil disalip saat menurunkan penumpang. Dari Braan lanjut ke timur menuju pintu tol, jalan Provinsi tapi sudah banyak lubang.

11.00 WIB
Sampai di Surabaya untuk test antigen di halodoc drive thru, menunggu sekitar 3 mobil di depan, tidak terlalu lama juga. Kurang lebih 40 menitan sampai selesai, untuk hasil akan dikirim melalui aplikasi halodoc sekitar jam satu siang. Langsung melanjutkan menuju Bali, rapid antigen pas berangkat karena untuk masuk bali melalui darat harus rapid antigen maksimal 24 jam sebelum masuk Bali.
Jalur Surabaya menuju Pasuruan tidak terlalu macet, meskipun banyak truk-turk, tapi masih bisa menyalip dari kiri dan kanan.

12.15 WIB
Sampai di rest area Rembang, Pasuruan, sebenarnya kalau mengemudi sampai Pelabuhan pun masih kuat, namun karena sudah memasuki waktu Sholat Zuhur, maka saya mampir dulu di Rest Area untuk Sholat Zuhur dan sekaligus makan siang, Tempat Sholat berupa Hangar bekas kontainer yang dimodifikasi menjadi Mushola, begitu juga toiletnya, yang mana bangunannya kalau dilihat dari luar, berbentuk hangar/kontainer yang dimodifikasi. Namun untuk kebersihan sudah terjaga dengan baik.
Untuk makannya, ada soto, pecel, dsb, saya memesan pecel seharga Rp.20.000.

Selesai makan, saya pesan tiket kapal feri terlebih dahulu melalui website ferizy, ternyata untuk mengisi NIK tidak perlu lengkap sekali, cukup isi dengan angka seadanya, pembayaran melalui internet banking. Namun yang bermasalah disini adalah pembayaran melalui mandiri banking yang ternyata tidak bisa digunakan karena di dalam e banking mandiri tidak mendukung pembayaran Virtual Account, akhirnya melalui menu atm bank permata bisa. Harga tiket sekitar 180 ribu.

Akhirnya perjalanan dilanjutkan kembali melalui tol sampai Probolinggo, saya hanya memacu dengan kecepatan maksimal 100kmh yang kalau pakai aplikasi GPS aslinya hanya sekitar 97 kmh. Mobil Avanza New tahun 2013 ternyata hanya menghasilkan RPM 3500 pada gigi 5 di kecepatan itu, yang menurut saya masih lebih tinggi daripada Ertiga yang mampu bertahan di kisaran 3000 RPM, bahcan Calya pun hanya berkisar 3000 RPM saja.

Saya memutuskan keluar melalui pintu tol Grati untuk menghemat biaya tol, mengingat juga pengen merasakan jalur yang belum pernah dilewati, jika biasanya orang-orang melalui Pintu Tol Probolinggo Barat. Ternyata setelah keluar tol Grati, jalur arteri yang dilewati cukup mulus, terawat, berbeda sekali saat melalui Jalur Nganjuk Jombang tadi. Jalur menuju Probolinggo ini halus dan cukup lebar untuk salip kiri, meskipun harus sedikit meminta jalan dengan sopir2 truk yang berjalan pelan. Karena masih belum paham medan, marka tetap patuhi, berbeda dengan orang yang sudah sering lewat situ, sudah paham mana yang bisa nyaman untuk menyalip.

Akhirnya masuk kota Probolinggo yang perlu santai bawanya karena sering bertemu dengan kemacetan dan lampu merah, hal ini wajar, jika bawanya langsung main gas pol, akan sia-sia karena di depan ada lampu merah, jadi nanti sampainya tidak ada bedanya, namun walau santai, tetap memanfaatkan celak dari kiri dan kanan.

Keluar Probolinggo, perjalanan dilanjutkan ke timur sampai Kraksaan, hujan rintik mengguyur dari sini, motor pun terlihat lebih sedikit karena seperti biasa jika hujan, motor seakan hilang.
Lepas Kraksaan perjalanan dilanjut ke timur dengan kecepatan yang santai tapi tetap terus menyalip kendaraan di depan.

Sempet ketemu bus pariwisata di sekitar Pasir Putih, cukup susah untuk mendahului bis di jalur yang berkelok-kelok, pada suatu kesempatan, ada jalan yang lumayan lebar bahu jalannya, di depan bus ini ada truk, depan truk ini ada matic, saya salip kiri bus dan truk yang berjalan pelan, begitu akan melanjutkan menyalip truk dari kiri, ternyata bus pariwisata menyalip truk dari kanan. dan ternyata matic yang di depan truk minggir ke kiri dan memelan, akhirnya mobil saya terpaksa harus mengerem. Memang matic kalau dilepas gas pas jalan datar, seolah-olah ngerem mendadak. Jadi berhati-hatilah di belakang matic yang lagi ngebut, tiba-tiba ngerem sendiri tanpa lampu rem menyala seolah-olah ngerem.

Akhirnya bus berhasil disalip setelah beberapa tikungan, dan walaupun harus lewat kiri, posisi motor masih di depan.

15.30 WIB
Isi Bensin di sekitar sebelum alas baluran 250.000 Rupiah sampai full, setelah selesai lanjut gas melalui alas baluran di tengah rintik hujan tipis. Memasuki Ketapang harus menyalip rombongan truk besar yang berjalan pelan, padahal tadinya tidak terlalu ketemu dengan rombongan truk, disini sempat papsan dengan bus sleeper Tami Jaya arah barat, serta Gunung Harta arah barat.

17.00 WIB
Memasuki Pelabuhan Gilimanuk, langsung menunjukkan bukti pembelian tiket kapal feri melalui ferizi, discan barcode langsung bisa masuk. Sebelum masuk kapal, mencari toilet di pelabuhan kurang lebih 20 menit, yang ternyata feri masih menunggu dan belum berangkat.



Gambar kondisi kendaraan dalam kapal, cukup sepi dan tidak terisi penuh. 20.00 WITA
Alhamdulilah berhasil menyeberang dengan selamat, tidak ada goncangan-goncangan yang besar karena cuaca bagus. Di pelabuhan Gilimamnuk ini diperiksa STNK dan SIM oleh Polisi, setelah itu diarahkan ke pemeriksaan oleh Kemenkes untuuk pemeriksaan rapid antigen. Oleh petugas kesehatan disarankan lain kali bukti periksa diprint agar bisa divalidasi, karena saat itu saya bawa hasil tes dalam bentuk aplikasi halodoc, setelah diperiksa ternyata bisa langsung pergi, tidak ada pemeriksaan validasi, jadi sebenarnya bisa saja sih langsung bablas.

Selanjutnya perjalanan saya arahkan menuju Rumah Makan, karena sudah masuk waktunya makan, dan karena kesulitan mencari Rumah Makan, pilihan saya tetapkan pada rumah makan Bidadari yang kelihatan bagus di reviu google map. Untuk menuju kesana cukup membutuhkan waktu kurang lebih setengah jam saja, kondisi masih hujan rintik-rintik, ditambah belum hapal tikungan jalan memaksa saya melajukan kendaran dengan pelan, tidak bisa secepat yang sudah hapal jalan seperti angkutan-angkutan komoditas.

Sesampainya di Rumah Makan Bidadari ternyata sudah ada satu mobil kecil, satu elf, dan satu Bus De Nasima warna hitam arah Gilimanuk, karena selesai makan bus ini mengarah ke Gilimanuk, selesai berlibur dari Bali. Untuk kondisi rumah makan disini standar seperti rumah makan Bus-Bus pada umumnya, saya mengambil nasi, sayur, telur dikenai biaya sekitar 20ribu saja, untung tidak menggetok harga ya.

Mushola juga apa adanya sekelas mushola Rumah makan bus, karpet/sajadah yang sudah usang, dan toilet yang cukup bersih. Rumah makan ini cukup luas sebenarnya, namun malam itu hanya sedikit yang makan disitu.

Sebenernya saya pengen makan di Rumah makan Sari Asih, tapi karena lupa lokasinya di google Map dan ragu masih buka apa belum, jadinya saya makan di Rumah Makan Bidadari saja yang ternyata jelas sudah buka, daripada yang Bidadari dilewatin, ternyata di depan belum tau udah tutup apa masih buka.

21.30 WITA
Selesai makan, perjalanan dilanjutkan walaupun hujan masih turun. Jalan berkelok kiri dan kanan perlu kesabaran dan kehati-hatian.

00.00 WITA
Sampai di Kuta Bali


Read More...

Saturday, January 30, 2021

Perjalanan Jakarta Bali Etape Boyolali Kediri

Etape ini adalah Etape keempat dari rangkaian perjalanan Bali Jakarta Pulang Pergi, Etape kali ini akan mencoba melakukan perjalanan dari Boyolali ke Kediri masih menggunakan avanza 2013 manual.

14.30 WIB
Perjalanan dimulai sore hari agar sampai tujuan tidak terlalu malam, rencananya Solat Zuhur dijamak dengan solat Ashar, dan mahrib dijamak dengan Isya sesampainya di tujuan. Berangkat dari Boyolali menuju timur, kemudian masuk pintu tol Kartasura, keluar pintu tol Palur, keluar sini karena kalau dilihat di peta jalur tol Palur ke Ngawi masih segaris lurus dengan jalur arteri jalur biasa, yang ternyata perhitungan saya meleset besar mengingat jalur dalam kota Sragen ini sering ketemu lampu merah.

Memasuki hutan Ngawi harus benar-benar tertib mengingat sering ada razia garis marka jalan. saya pun masuk tol Ngawi keluar tol Caruban karena jalan tol ini langsung lurus ke timur tanpa harus memutar-mutar baik melalui maospati maupun karangjati.
Selanjutnya dari Nganjuk, menuju arah selatan, arah Kediri, dimana sepanjang jalan ini sering sekali bertemu dengan motor yang keluar malam minggu.


19.00 WIB Sampai Kediri jam 7 malam, dan langsung mencari tempat makan, pertama kali nyari nasi goreng sampaing sma dua Kediri namun sudah tutup, akhirnya berhenti di tongseng depan Hotel Penataran, karena antriannya banyak, saya sampai menunggu satu jam sampai makanan siap dihidangkan, untuk porsinya cukup kecil menurut saya, jadi lebih baik langsung membeli dua porsi nasi goreng. Ringkasan perjalanan
Waktu tempuh sekitar 4,5 jam Boyolali Kediri, keluar masuk tol, jika full tol mungkin bisa 3,5 jam, biaya tol sekitar 80 ribu dan menghemat 1 jam perjalanan, waktu tempuh 4,5 jam ini sama dengan waktu tempuh saat naik motor melalui jalan biasa, sedangkan jika menggunakan mobil bisa sampai 7 jam melalui jalan biasa.
Read More...

Perjalanan Bali Jakarta

Setelah menyelesaikan etape I dari Bali menuju Boyolali, saya melanjutkan etape II, yaitu dari Boyolali menuju Jakarta, armada yang digunakan masih sama Avanza G Tahun 2013.

07.00 WIB
Berangkat dari Boyolali

07.30 WIB
Mampir Rumah Makan Cikal Gading yang menunya komplit, makan disini dengan sistem prasmanan atau ambil sendiri, menu yang saya suka adalah sambal tumpang dan tumis kacang, ada juga tahu bakso dan beraneka ragam lauk, biasanya buka 24 jam, namun karena adanya aturan saat pandemi, Rumah makan ini dibatasi bukanya atau tutup di malam hari.

08.00 WIB melanjutkan perjalanan menuju semarang, kali ini saya akan mulai masuk tol via Tol Sukun, karena tentunya jalan arteri dari Salatiga sampai Semarang saat ini seharusnya tidak akan semacet saat belum ada jalan tol. dan ternyata benar saja, pagi itu memang tidak terlalu macet, sesampainya di sukun saya berubah pikiran bablas sampai Jatingaleh, dan akan masuk tol mulai dari sana saja.

08.30 WIB
Masuk Tol Jatingaleh

08.40 WIB
Memasuki pintu tol kalikangkung, terlihat saldo tol masih 1.182.000 yang berarti perjalanan Tol Probolinggo Barat sampai Kartasura menghabiskan biaya tol 340.000 dengan penghematan waktu kurang lebih sampai 4 jam. 09.00 WIB
Mengisi bensin di rest area Kendal sebesar 260 ribu, sampai full diisi pertalite.

10.00 WIB
sampai di Pintu tol Comal Pemalang, artinya sebentar lagi akan berpindah provinsi.

11.30 WIB
Melewati Gerbang Tol Palimanan

12.20 WIB
Melewati Subang, dimana jika keluar akan ketemu rumah makan rosalia indah, gunung mulia

Jam 14.10 WIB
Sampai di Jakarta keluar tol Cikampek Ringkasan perjalanan Jarak Tempuh 488 kilometer,
Waktu Tempuh 7 jam termasuk istirahat 30 menit dan isi bensin 10 menit Biaya Bensin 260 K Biaya Makan 20 K Biaya Tol sekitar 300 ribu yang menghemat sekitar 4-5 jam perjalanan
Read More...

Perjalanan Bali Jakarta

Perjalanan ini akan saya bagi beberapa etape, Etape I dari Bali-Boyolali, Etape II Boyolali-Jakarta, Etape III Jakarta Boyolali, Etape IV Boyolali-Kediri, Etape V Kediri-Bali
Etape I Bali-Boyolali 06.40 WITA

Berangkat dari Kuta, menggunakan armada avanza tahun 2013 yang ternyata tidak ada indikator radiatornya, entah kenapa ya tidak dikasih, tapi setelah browsing-browsing indikatornya memang bukan menggunakan jarum seperti avanza terdahulu, tapi menggunakan tanda kecil berupa gambar icon termometer yang pada saat itu tidak terlihat jika tidak menyala.

Sampai di Denpasar mampir pom bensin isi angin ban keempat2nya butuh diisih sehingga biayanya 16.000
Perjalanan dari Denpasar menuju utara diawali dengan arus pekerja yang menuju kota Denpasar, yang ternyata pagi itu cukup padat, namun untuk araah keluar kota cukup lengang, ternyata banyak juga pekerja yang berangkat pagi itu menggunakan motor yang didominasi motor matic, entah sekarang mengapa jarang ditemui motor bebek.

Lepas Denpasar, arah menuju Gilimanuk terbilang lebih sepi daripada arah sebaliknya yang sering ketemu dengan antrian truk-truk ekspedisi yang berjalan santai diikuti beberapa mobil pribadi. Memang jalan yang sempit membuat kita tidak dapat langsung mendahului truk-truk yang berjalan santai, tapi harus bersabar menunggu arah sebaliknya kosong. Sempet dibloong Lorena di jalur lurus dan menurun, namun balik saya salip karena ternyata terlalu pelan jalannya.

Untuk kondisi jalan pun cukup halus, hanya ada beberapa lubang yang bisa dihindari mengingat cahaya masih terang, berbeda jika jalan malam, pastilah lubang2 tersebut cukup membuat kesulitan pengendara untuk menghindarinya. Sempat berpapasan dengan Bus Mansion bus jurusan Purwokerto Denpasar, serta Gunung Harta yang tidak sempat teridentifikasi jurusan mana, untuk arah gilimanuk sendiri sempat bertemu Lorena, dan Kramat Djati saat di dalam kapal penyeberangan.

10.00 WITA

Cuaca pagi cerah, dengan melaju santai tanpa harus mosak-masik sampailah saya di Pelabuhan Gilimanuk jam 10 tepat, saya pun menuju tempat cek pertama yang ternyata adalah tempat penjualan tiket offline, padahal saya sudah membelinya semalam, dan biasanya tempat cek pertama tadi ada pemeriksaan rapid antigen yang ternyata tidak ada pemeriksaan sama sekali, jadi sia-sia kemarin periksa rapid sebesar 175K, tapi demi keamanan kita dan orang sekitar, tidak masalah.

Lanjut melaju menuju Kapal dengan menunjukkan bukti pembelian di loket, lalu kita diberikan dua karcis masuk kapal, satu untuk discan saat masuk.

Kapal tidak terisi penuh karena masa pandemi, padahal jika tidak pandemi, kendaraan sampai antri di pintu masuk, para penumpang saat di dalam kapal wajib keluar dari mobil dan beristirahat di dek atas kapal. Tentunya hal ini karena alasan keamanan, saat ada situasi tidak diinginkan seperti goncangan feri yang keras, dapat menggeser kendaraan satu sama lain sampai menjebat pintu. Pada kesempatan ini saya gunakan untuk istirahat sambil makan siang yang tadi saya bawa. sebenernya bisa juga membeli makan pada pedagang asongan agar sekalian mengisi waktu makan siang.

11.00 WIB
sampai di dermaga Ketapang, Mobil langsung berangkat kembali melewati jalur yang berkelok-kelok yang sangat nyaman, karena jarang sekali ketemu truk maupun antrian kendaraan. Perjalanan kemudian dilanjutkan melalui jalur pantura, melewati alas baluran terlihat kera yang berada di samping kiri-kanan, untuk jalur yang berbahaya menurut saya adalah saat keluar alas baluran dimana jalurnya menurun dan lurus, yang ternyata di ujung jalur berupa belokan tajam, jika kalian terlena tidak mengurangi kecepatan akan sangat bahaya. Selain jalur itu, jalur yang berbahaya adalah jalur irung petruk yang saya lupa dimana.

13.00 WIB
Isi bensin di pom bensin Situbondo sebesar 255.000 rupiah pertalite sampai full, setelah itu langsung berangkat


13.10 Melewati pembangkit listrik paiton yang ternyata dicat biru yang kalau malam hanya terlihat kelap-kelip lampunya.

15.30 WIB
masuk pintu tol Probolinggo Barat
di Tol mobil dipacu maksimal 100kmh menggunakan gigi 5 yang ternyata menggunakan rpm 3500, posisi kakipun harus tetap mempertahankan gas selama kurang lebih beberapa jam, saya gunakan trik dengan memakasi sepatu dan menyender di kanan agar tidak cape.

17.30 WIB
Istirahat di Rest area magetan selama setengah jam untuk Sholat jamak Zuhur dan Ashar, setelah itu melanjutkan perjalanan ke barat, di rest area ini, ketemu Bus Haryanto arah barat yang kalau lewat suara knalpotnya lebih mirip suara pesawat. Selain itu di Tol ini ketemu juga bus Pahala Kencana.

19.45 WIB
Keluar Pintu Tol Kartasura, lalu menuju arah barat

19.00
Masuk Kota Boyolali, disini mau mampir soto seger Fatimah, yang ternyata malah sudah habis dan sebentar lagi akan tutup, akhirnya melipir ke sebelahnya di Rumah Makan Joyo Roso yang masih buka, disitu ada menu gule kambing dan bakso. Ternyata sebenarnya Rumah Makan ini juga akan tutup karena adanya aturan harus tutup malam hari saat pandemi.
Read More...

Tuesday, June 20, 2017

Cara mengukur Posisi Duduk Pengemudi Mobil Sesuai Rekomendasi Keselamatan


Musim mudik telah tiba, tidak ada salahnya kita mengingat kembali salah satu tips mengatur posisi duduk saat mengendarai mobil, karena mungkin saja para pembaca sekalian belum mengetahuinya, termasuk saya sebelumnya hehe, karena saat saya mengatur posisi kursi di mobil, ternyata menurut rekomendasi keselamatan, posisinya belum pas, karena saya terlalu ke depan dalam menyetingnya, padahal menurut saya posisi itulah yang paling pas, soalnya masih pengen lebih dekat melihat kap mesin di depan, jadi duduknya agak ke depan, Dan setelah saya praktikkan posisi mengemmudi dibawah ini, ternyata berpengaruh juga pada kenyamanan beneran, meskipun posisi pandangan mata jadi agak kebelakang.

Biar gak terlalu maju atau mundur, cara gampang membuat patokan duduk pengemudi adalah posisi tangan memegang stir pada arah jam 12, tidak menekuk, tapi juga tidak terlalu susah untuk meraihnya,

bila masih menekuk tangan kita, kita bisa geser kursi ke belakang, dan sebaliknya, menyesuaikan. usahakan posisi duduk kita sesuai jarak tangan kita dengan stir jam 12, menurut para ahli posisi ini adalah posisi yang paling aman dan nyaman, dan ane sudah membuktikannya.

Memang ya. bagi sebagian orang posisi tersebut membuat pandangan kita lebih mundur ke belakang diluar kebiasaan, tapi Insyaallah, posisi pandangan tersebut lama-lama akan terbiasa, dan akhirnya bisa memperekirakan jarak dengan moncong mobil kita.


Read More...