Rasulullah Shallaallahu alaihi wasallam sesekali bercanda dengan para sahabatnya. Canda beliau bersih dari dusta, tidak menyinggung perasaan orang lain, dan beliau tidak pernah tertawa terbahak-bahak. Bahkan, dalam canda beliau terkandung faedah.myspacenote.blogspot 2017
Canda dapat melebur kejenuhan dan menghangatkan susana. Namun, canda dapat berujung petaka bagi seorang Muslim ketika agama dijadikan sebagai bahan candaan atau olok-olok (istihza).
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menuturkan bahwa pernah suatu ketika segolongan kaum Muslim dalam rombongan Perang Tabuk sedang berkumpul. Kemudian salah seorang dari mereka berkelakar, "Aku tidak pernah melihat orang yang perutnya lebih besar (rakus), lebih suka berdusta, sedang pengecut ketika bertemu musuh dalam perang selain ahli qiro'ah kami (yang dimaksud adalah Nabi dan para sahabatnya).
Salah seorang sahabat, Auf bin Malik, yang mendengar ucapan itu langsung bergegas melapor kepada Nabi. Namun, sebelum Auf bin Malik datang ke hadapan Nabi, Allah telah menurunkan wahyu kepada Rasulullah: "Apakah dengan Allah dan ayat-ayatnya dan Rasul-Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok? Tidak usah kalian minta maaf karena kalian kafir setelah beriman." (QS at-Taubah:65-66)
Orang itu kemudian menghampiri Nabi dan berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya hal itu kami lakukan hanya untuk berbincang-bincang (dan) sekadar bergurau di perjalanan, dan kami tidak bermaksud mengejek atau mengolok-olok." Namun, Rasulluah bergeming dan terus mengulang wahyu yang baru saja diturunkan. Orang itu terus bergelantungan di pelana unta Nabi dan terseret-seret di atas kerikil yang terlempar oleh derap unta demi mendapat maaf dari Nabi.
Meski hanya diucapkan oleh satu orang, Allah menunjukkan ayat tersebut kepada mereka semua yang ada di majelis itu, "Kuntum tastahzi-uun, kalian selalu berolok-olok". Sehingga wajib bagi seorang Muslim untuk beranjak pergi tatkala ia berada dalam majelis yang mengolok-olok syiar Allah. "Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkankalh mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain." (QS al-An'an:68)
Istihza mencakup memperolok Allah, kitabullah para malaikat-Nya, para nabi dan rasul, para sahabat Nabi, wali-wali Allah, hadis Nabi dan segala sesuatu yang termasuk dalam syiar agama, baik itu berupa meme atau konten pesan berantai yang disebar melalui medsos, karikatur, iklan, tayangan film, atau panggun-panggung komedi.
Mengolok-olok agama dapat membuat seseorang jatuh pada konsekuensi syariat yang teramat fatal, yakni batalnya keislaman seseorang (Nawaqidh AL iSLAM). Namun, apabila ia bertobat, sesungguhnya Allah menerima tobat seorang hamba s3ebelum napas di kerongkongan.
"Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadapt diri mereka sendiri janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya." (QS az-Zumar:53)
Sebaliknya, di antara tanda ketakwaan seseorang adalah pengagungannya terhadap syiar-syiar Allah. "Dan barang siapa yang menggunakan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati." QS al-Hajj:32. Wallahu a'lam
wisnu t prabowo
Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Tuesday, July 11, 2017
Mewaspadai Istihza
Ane ketik artikel dari koran ya gan, semoga bermanfaat, yaitu isinya kita ga boleh bercanda tentang agama, ngetawain orang ini itu dan sebagainya, intinya kalau bercanda hati-hati ya sis dan gan. Subahanallah dalam Islam kayak gini aja diatur.
Read More...
Wednesday, June 7, 2017
Menjaga Lisan
Hasan al-Bashri pernah berkata:
ما عقل دينه من لم يحفظ لسانه
"Tidak berakal agama seseorang, selama ia tidak mampu menjaga lisannya".
Ali Ibn Abi Thalib berkata:
اللسان قِوام البدن , فإذا استقام اللسان استقامت الجوارح , و إذا اضطرب اللسان , لم يقم له جارحة
"Lisan adalah penopang badan. Bila lisannya teguh, maka sempurnalah seluruh anggota tubuh. Bila lisannya goyah, maka sempoyonganlah jasadnya".
Imam al-Darani berkata:
إذا طلبت صلاح قلبك فاستعن عليه بحفظ لسانك
"Bila engkau ingin kebahagiaan di hatimu, maka dapatkanlah dengan cara menjaga lisanmu".
Tidak akan selamat dari keburukan lisan, kecuali mereka yang mampu mengikatnya dengan kendali syariat.
Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
إن العبد ليتكلم بالكلمة من رضوان الله , لا يلقي لها بالا , يرفعه الله بها درجات , و إن العبد ليتكلم بالكلمة من سخط الله , لا يلقي لها بالا يهوي بها في جهنم
“Sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan keridhoan Allah, namun dia menganggapnya ringan, karena sebab perkataan tersebut Allah meninggikan derajatnya. Dan sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan kemurkaan Allah, namun dia menganggapnya ringan, dan karena sebab perkataan tersebut dia dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Al-Imam Asy-Syafi'i mengatakan: “Apabila ingin berbicara hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika ragu maka janganlah berbicara hingga nampak maslahatnya.” (Al-Adzkar hal. 284)
Pak SHL
June 4 at 1:37pm ·
Read More...
ما عقل دينه من لم يحفظ لسانه
"Tidak berakal agama seseorang, selama ia tidak mampu menjaga lisannya".
Ali Ibn Abi Thalib berkata:
اللسان قِوام البدن , فإذا استقام اللسان استقامت الجوارح , و إذا اضطرب اللسان , لم يقم له جارحة
"Lisan adalah penopang badan. Bila lisannya teguh, maka sempurnalah seluruh anggota tubuh. Bila lisannya goyah, maka sempoyonganlah jasadnya".
Imam al-Darani berkata:
إذا طلبت صلاح قلبك فاستعن عليه بحفظ لسانك
"Bila engkau ingin kebahagiaan di hatimu, maka dapatkanlah dengan cara menjaga lisanmu".
Tidak akan selamat dari keburukan lisan, kecuali mereka yang mampu mengikatnya dengan kendali syariat.
Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
إن العبد ليتكلم بالكلمة من رضوان الله , لا يلقي لها بالا , يرفعه الله بها درجات , و إن العبد ليتكلم بالكلمة من سخط الله , لا يلقي لها بالا يهوي بها في جهنم
“Sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan keridhoan Allah, namun dia menganggapnya ringan, karena sebab perkataan tersebut Allah meninggikan derajatnya. Dan sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan kemurkaan Allah, namun dia menganggapnya ringan, dan karena sebab perkataan tersebut dia dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Al-Imam Asy-Syafi'i mengatakan: “Apabila ingin berbicara hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika ragu maka janganlah berbicara hingga nampak maslahatnya.” (Al-Adzkar hal. 284)
Pak SHL
June 4 at 1:37pm ·
Monday, May 15, 2017
Jagalah lisan anda
Jagalah lisan anda
Jagalah lisan anda
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-carikeburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain
Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?
Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya . dan bertawakallah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang (QS:Al Hujuraat :12)
Read More...
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-carikeburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain
Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?
Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya . dan bertawakallah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang (QS:Al Hujuraat :12)
Wednesday, December 28, 2016
"...SILAKAN YANG MAU UCAPKAN SELAMAT..."
Kopast lagi ya gan, semoga bermanfaat
Assalamu'alaikum...
"...SILAKAN YANG MAU UCAPKAN SELAMAT..."
Bertahun-tahun biasanya kujawab secara offline tentang 25 Desember dan 1 Januari...
Karena menghargai beberapa relasiku yang berprofesi sebagai misionaris...
Mereka tahu dakwahku tapi kami saling menghargai...
Mohon maaf setulusnya, bila tulisan ini akan tidak disukai sebagian dari sahabat-sahabat muslim...tapi sudah saatnya harus dijelaskan terbuka secara ilmu ke-TAWHIID-an..
Read More...
Membaca berita seorang muslim modern menantang Ustadz Yusuf Mansur (Official) untuk menunjukan dalil pelarangan mengucapkan SELAMAT NATAL...
Berharap tulisan ini bukan hanya menjawab tantangannya, tetapi untuk diketahui saudaraku muslimin dan muslimat yang tidak ingin syahadatnya gugur..
Kupasan berdasarkan ilmu TAWHIID...
Bila kita mengucapkan...
... kalimat SELAMAT ULANG TAHUN kepada seseorang, berarti kita mengakui bahwa dia lahir di tanggal itu..
Bila kita mengucapkan...
...kalimat SELAMAT ATAS PELANTIKAN JABATAN, berarti kita mengakui dirinya sebagai pejabat baru...
Bila kita mengucapkan...
...kalimat SELAMAT ATAS KEMENANGAN PERTANDINGAN, berarti kita mengakui lawan sebagai pemenang...
Ternyata kata SELAMAT bermakna PENGAKUAN...
Kalau banyak pertanyaan, bukankah mengucapkan SELAMAT NATAL hanya merupakan sebuah ucapan saja...
Wahai saudaraku,
...Seorang muslim dinilai dari ucapannya...
Bukankah SYAHADAT juga hanya UCAPAN..?
..tapi mengapa setelah berucap SYAHADAT...seseorang menjadi muslim...?
Bukankah BISMILLAH juga hanya UCAPAN..?
..tapi mengapa hewan yang disembelih tanpa mengucap BISMILLAAH, dagingnya haram dimakan...?
Bukankah AQAD NIKAH juga hanya UCAPAN..?
..tapi mengapa setelah diucapkan, suami halal menggauli istri...
Bukankah kata CERAI juga hanya UCAPAN..?
..tapi mengapa bila suami mengucapkan kata ini terhadap istrinya baik secara bercanda maupun tidak, maka akan jatuh hukum CERAI bagi istrinya...
Saat kita mengucapkan SELAMAT NATAL dan TAHUN BARU, atau hari raya agama lain, disitulah awal kita MENGAKUI keberadan Tuhan lain yang berarti kita mengakui adanya beberapa Tuhan.
Berarti sudah tidak sesuai dengan SYAHADAT yang diucapkan dan Surat Al Ikhlas ayat 1 serta beberapa ayat lainnya.
Padahal meng-ingkari 1 AYAT QUR'AN saja...sudah dikategorikan sebagai orang kafir yang sebenar-benarnya...
"Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya..."
[ Qur'an Surat An Nisa (4) ayat 151 ]
Inilah ayat-ayat yang menegaskan TERHAPUSNYA SYAHADAT yang pernah diucapkan dikarenakan ucapan selamat hari raya umat lain...
Sesungguhnya telah KAFIR lah orang-orang yang berkata/mengakui, "Sesungguhnya ALLAH ialah Al Masih putra Maryam, padahal Al Masih sendiri berkata " Hai Bani Israil, sembahlah ALLAH Tuhan-ku dan Tuhan-mu..."
[ Qur'an Surat Al Maidah (5) ayat 72 ]
"...Janganlah kamu mengatakan TUHAN itu tiga, berhentilah dari ucapan itu. Itu lebih baik bagimu. Sesungguhnya ALLAH Tuhan yang Maha Esa. Maha Suci ALLAH dari mempunyai anak..."
[ Qur'an Surat An Nisa (4) ayat 171 ]
"Dan mereka berkata, "Tuhan yang maha pemurah mempunyai anak". Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat MUNKAR"
[ Qur'an Surat Maryam (19) ayat 88-89 ]
Saudaraku umat Nasrani dan para pendeta,
Perbedaan kita hanya pada nabi Isa, padahal bagi kami Nabi Isa adalah salah satu Rasul yang utama.
Maafkan jika menyinggung hati, tapi sungguh telah terbukti dalam Sejarah, bahwa tanggal 25 Desember itu hari kelahiran Janus dan Mitra, Sang Dewa Matahari.
Bunda Maryam melahirkan Nabi Isa disaat pohon kurma berbuah, yang berarti disaat musim panas tetapi 25 Desember adalah musim dingin...
Wahai para pendeta dan missionaris...
Kamipun meng-imani Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa...
Bahkan Nabi kami, Muhammad memiliki paman dari istri yang seorang pendeta nasrani bernama Waraqah...
Jadi Islam sangat paham bagaimana toleransi yang benar...
Wahai para penganut nasrani.
Silakan saja rayakan natal sesuai keyakinan...
Karena bagi kami..."UNTUKMULAH AGAMAMU dan UNTUKULLAH AGAMAKU"
Tapi tegas kusampaikan...
Jangan paksa pegawai muslim berpakaian santa...
Sebagaimana kami tidak pernah pula memaksa para misionaris menggunakan peci dan sorban disaat Iedul Fitri...
Jangan paksa undang pejabat muslim hadiri natal di gereja...
Sebagaimana kami tidak pernah memaksa para pendeta hadir pada Sholat Iedul Fitri...
Saudaraku umat muslim,
Silakan saja ucapkan SELAMAT NATAL..
Silakan saja gunakan topi Santa...
Tapi jangan menyesal ...
....bila sholat kita batal...
......mati pun bukan sebagai muslim...
Karena SYAHADAT KITA SUDAH GUGUR...
Saudaraku,
Kajilah Qur'an......karena semua pertanyaan hidup sudah ada jawabannya didalam.
Kalau penjelasan panjang ini masih meragukan hati...
Periksa saja SHOLAT SHUBUH kita, apakah sudah berjama'ah di masjid setiap hari..?
Semoga bermanfaat.
Wassalamu'alaykum...
Kang Dwin
Yayasan HUMAIRA
Pendidikan-Sosial-Kemanusiaan
Di Share Dari instaGram @IndonesiaBertauhid
.
Follow dan Dukung #Gerakan #IndonesiaBertauhid di Line klik http://line.me/ti/p/%40gur5945i
Sebarkan Status Ini...! Ini Merupakan Kepedulian Kita akan aqidah Ummat Islam..!
Membagikan = Peduli
Tidak Membagikan = Tidak Peduli
Salam #Tauhid
Tuesday, December 27, 2016
Sungguh Beruntung Orang-Orang yang Beriman
orang yang khusyu'dalam shalatnya,
menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna
orang yang menunaikan zakat
orang yang memelihara kemaluannya, Kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak terceIa. Tetapi barang siapa mencari di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas
orang yang menjaga amanat-amanat dan janjinya
orang yang memelihara shalatnya
Mereka itulah orang yang akan mewarisi surga Firdaus kekal di dalamnya
QS AL Mukminun ayat 1-11
Read More...
menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna
orang yang menunaikan zakat
orang yang memelihara kemaluannya, Kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak terceIa. Tetapi barang siapa mencari di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas
orang yang menjaga amanat-amanat dan janjinya
orang yang memelihara shalatnya
Mereka itulah orang yang akan mewarisi surga Firdaus kekal di dalamnya
QS AL Mukminun ayat 1-11
Tuesday, October 4, 2016
Orang yang Tidak Akan Pernah Mencicipi Nikmat Surga
Ada empat macam orang yang merupakan kewajiban Allah untuk tidak memasukkan mereka ke dalam surga dan tidak mencicipkan kepada mereka nikmat surga yaitu, pecandu khamar, pemakan riba, pemakan harta anak yatim tanpa alasan yang hak, dan orang yang menyakiti ibu bapaknya. (Riwayat Hakim)
Orang yang tidak pantas dimasukkan ke dalam surga dan tidak pula pantas merasakan nikmatnya surga ada empat macam orang, yaitu pecandu minuman keras, karena minuman keras adalah minumannya setan, minuman ini akan mengakibatkan mabuk, orang yang dalam keadaan mabuk akan beranni melakukan dosa apa pun termasuk berzina dan membunuh. Kedua pemakan riba.
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba) maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba) maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamanya” (QS Al-Baqarah [2]:275).
Ketiga pemakan harta anak yatim tanpa alasan yang dibenarkan, karena harta anak yatim haram untuk dimakan.
Dikutip dari Buku Karya H.M. Alfis Chaniago – Indeks Hadits dan Syarah.
Sumber : Mimbar Jumat Dewan Mubaligh Indonesia Edisi Khusus /Th.2016
Read More...
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba) maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba) maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamanya” (QS Al-Baqarah [2]:275).
Ketiga pemakan harta anak yatim tanpa alasan yang dibenarkan, karena harta anak yatim haram untuk dimakan.
Dikutip dari Buku Karya H.M. Alfis Chaniago – Indeks Hadits dan Syarah.
Sumber : Mimbar Jumat Dewan Mubaligh Indonesia Edisi Khusus /Th.2016
Pengaruh Budaya Barat
Budaya Barat yang masuk ke Timur memberikan pengaruh pada perkembangan kepribadian individu. Sebagian wanita modern menganggap nikah muda adalah hal yang sangat menyiksa. Umumnya mereka menginginkan nikah di atas usia dua puluh lima tahun bagi wanita dan tiga puluh tahun bagi laki-laki. Jelas ini pengaruh yang berbahaya, karena bukan saja merusak tatanan budaya yang ada juga berpengaruh pada pola pengalaman nilai-nilai Islam. Sementara orang Barat memiliki budaya permisif, lembaga perkawinan hanya seremonial, dan kepuasan seks biasanya sudah mereka rasakan sebelum menikah. Jika pola tersebut diterapkan disini, maka jika dalam keadaan mendesak atau dorongan seks sudah sangat memuncak, nafsu seks dipuaskan dengan membeli kesenangan seks di “kedai-kedai cinta” tertentu. Nauzubillahi min dzalik. Wallahu’alam bish showaab.
Sumber : Mimbar Jumat Dewan Mubaligh Indonesia Edisi Khusus /Th.2016
Read More...
Sumber : Mimbar Jumat Dewan Mubaligh Indonesia Edisi Khusus /Th.2016
Wednesday, August 17, 2016
Butuhnya Manusia akan Ilmu
Sebagaimana halnya makanan, yang dipergunakan manusia untuk kelangsungan hidup. Karena seandainya kemimana tidak dipupuk dengan ilmu, maa ibarat tanaman menjadi layu bahkan hancur. Sehingga tidaklah terwujud keberadaan iman seorang kecuali dengan ilmu. Al Imam Ahmad menyatakan: “Manusia sangat membutuhkan ilmu dari sekedar menyantap makanan dan minuman, karena makanan dan minuman dibutuhkan oleh manusia sekali atau dua kali dalam sehari. Sedangkan ilmu ilmu dibutuhkan setiap saat.
Bahkan seluruh makhluk Allah sangat butuh kepada ilmu. Karena tidak akan tega urusan makhluk kecuali dengan ilmu. Langit-langit dan bumi bisa berdiri kokoh adalah dengan ilmu, begitu pula diturunkannya para rasul dan kitab-kitab-Nya juga dengan ilmu. Serta tidak akan diketahui perkara halal-haram kecuali dengan ilmu. Oleh karena itu, kewajiban seseorang dalam menuntuk ilmu syar’I berlangsung hingga menjelang wafat.
Diriwayatkan oleh Al Hakim, Rasulluah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda: “Dua keinginan yang tidak pernah merasa puas darinya: keinginan terhadap ilmu dan tidak pernah merasa puas darinya, dan keinginan terhadap dunia, dan tidak pernah merasa puas darinya.
Oleh karena itu para imam kaum muslimin apabila dikatakan kepada mereka: “Sampai kapan engkau menuntut ilmu?” maka dia mengatakan “sampai wafat!” Nu’aim bin Hammad berkata: “Aku mendengar Abdullah Ibdul Mubarak radiyallahu’anhu berkata: sekelompok kaum mencelanya karena beliau sering menuntuk ilmu hadist. Maka mereka mengatakan: “sampai kapan engkau mendengarkan (hadits)? Beliau menjawab: “sampai mati!” Al Hasan bin Manshur Al Jashshosh berkata: “Aku mengatakan kepada Ahmad binHambal radiyallahu’anhu:”Sampai kapan engkau akan menulis hadits?” maka beliau menjawab : “Hingga wafat!” Abdullah bin Muhammad Al Baghawai berkata: “Aku mendengar Ahmad bin Hambal berkata: “Sesungguhnya aku menuntut ilmu sampai masuk ke liang kubur.” Muhammad bin Isma’il As Shooigh berkata: “aku tinggal bersama ayahku di Baghdad, kemudian lewat di hadapan kami Ahmad bin Hambal dalam keadaan memegang sandal. Lantas ayahku menarik bajunya, dan berata: “wahai Abu Abdillah (panggilan Ahmad bin Hambal), apakah engkau tidak malu! Sampai kapan engkau menuntut ilmu? Beliau menjawab: “sampai mati!”.
Demikianlah beberapa perkataan para ulama yang menerangkan begitu semangatnya mereka dalam menuntut ilmu. Sehingga mereka mencurahkan waktu dan tenaga untuk meraih lezatnya ilmu. Sesungguhnya bagi siapa saja yang memahami hikmah dibalik perintah menuntut ilmu tersebut niscaya dia tidak akan pernah menyia-nyiakan waktunya sedikitpun dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Dia akan merasa rugi tatkala luput dari manisnya ilmu. Dia akan memanfaatkan masa sehatnya untuk banyak menimba ilmu sebelum tiba masa sakit. Serta dia akan mengisi waktu hidupnya dengan hal-hal yang mengundang keridhoan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebelum ajal tiba.
Begitulah seharusnya cerminan seseorang mukmin yang mengharapkan perjumpaan Rabbnya. Seiring dengan itu, syetan juga tak pernah menyerah untuk menjerumuskan manusia ke lembah kebodohan. Sehingga dengan kebodohan seseorang terhadap ilmu mengakibatkan lemahnya keimanan dan minimnya ketaqwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sesungguhnya orang yang bodoh tidak mengetahui hakekat iman taqwa. Dan tidak mengetahui pula jalan untuk menuju keselamatan berdasarkan ilmu dan keyakinan yang mantap. Tentu saja hal ini semakin membuka peluang bagi syetan untuk menggiring orang tersebut kepada kemaksiatan dan kesesatan.
Tatkala kebodohan telah merajalela, maka akan meningkat pula kemaksiatan, kriminalitas, cinta kepada dunia yang berlebihan dan takut apabila kematian menjemputnya, dan sebagaimana. Semua ini merupakan diantara sebab lemahnya kaum muslimin, sehingga Allah menimpakan kehinaan kepada mereka.
Rasa gentar yang menghunjam pada jiwa-jiwa musuh-musuh Islam hilang seiring dengan dicabutnya kewibawaan kaum muslimin. Sehingga musuh-musuh kaum Muslimin tidak segan-segan untuk mengintimidasi dan memberangus persatuan kaum muslimin. Sementara mayoritas manusia terlena dengan kehidupan dunia yang fana ini dan melupakan akherat yang kekal abadi.
Oleh karena itu diantara sifat-sifat penuntut ilmu yang diajarkan oleh Rasulluah Shallallahu’alai wasallam adalah ikhlas dalam menuntut ilmu. Sebab dengan keikhlasan ini akan menghantarkan seseorang kepada tingkatan hamba yang sangat butuh kepada ilmu dan membentenginya dari riya’(ingin dipuji oleh orang lain) dan sebagainya.
Rasulluah Shallallahu’alai wasallam bersabda:”Barangsiapa yang mempelajari ilmu dari apa-apa yang dia cari dengannya wajah Allah Azza wa Jalla. Tidaklah dia belajar kecuali untuk memperoleh bagian dari dunia, maka dia tidak akan mencium wangi syurga pada hari kiamat.” (HR Ibnu Majah dan Ahmad)
Dalam berhias dengan keikhlasan ini juga harus dibimbing dengan ilmu dan tidak cukup dengan modal semangat semata. Sebab berapa banyak orang yang pada awalnya ikhlas dalam melaksanakan amalan, namun tatkala berada di tengah perjalanan mengalami penurunan secara drastis. Ini semua tidak lepas daripada peran syetan dalam menggoda bani Adam.
Syetan berupaya untuk memberikan ras was-was di dalam diri manusia sehingga mempengaruhi keikhlasan. Oleh karena itu peran ilmu sangat besar terhadap kehikhlasan seseorang. Cukuplah bagi seorang muslim akan berita Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa ilmu merupakan sebaik-baik ganjaran dalam berbuat kebaikan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan orang yang membawa kebenaran(Muhammad) dan membenarkankannya, mereka itulah orang-orang yang bertaqwa. Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Tuhan mereka. Demikianlah balasan bagi orang yang berbuat baik, agar Allah akan menutupi (mengampuni) bagi mereka perbuatan yang paling buruk yang mereka kerjakan dan membalas mereka dengan ganjaran yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.” (Az Zumar:35). Demikianlah sifat dan kedudukan ilmu yang sangat mulia sebagai ganjaran yang paling berharga bagi seorang muslim yang ingin menggapainya. Oleh karena itu kebutuhan manusia terhadap ilmu merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Jikalau ingin mendapatkan keberuntungan dunia dan akhirat maka tempuhlah jalan ilmu syari’at. Sehingga dengan demikian Allah akan mempermudah baginya untuk menuju surga yang diidam-idamkan. Kita memohon kepada Allah agar dibukakan pintu hati kita dengan taufik dan hidayah-Nya. Sehinga kita senantiasa butuh kepada ilmu yang bermanfaat. Wallohu’alam bish showab.
Sumber : buletin Jumat “Mimbar Jum’at Dewan Mubaligh Indonesia Edisi 674/Th. 2015-2016”
Read More...
Bahkan seluruh makhluk Allah sangat butuh kepada ilmu. Karena tidak akan tega urusan makhluk kecuali dengan ilmu. Langit-langit dan bumi bisa berdiri kokoh adalah dengan ilmu, begitu pula diturunkannya para rasul dan kitab-kitab-Nya juga dengan ilmu. Serta tidak akan diketahui perkara halal-haram kecuali dengan ilmu. Oleh karena itu, kewajiban seseorang dalam menuntuk ilmu syar’I berlangsung hingga menjelang wafat.
Diriwayatkan oleh Al Hakim, Rasulluah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda: “Dua keinginan yang tidak pernah merasa puas darinya: keinginan terhadap ilmu dan tidak pernah merasa puas darinya, dan keinginan terhadap dunia, dan tidak pernah merasa puas darinya.
Oleh karena itu para imam kaum muslimin apabila dikatakan kepada mereka: “Sampai kapan engkau menuntut ilmu?” maka dia mengatakan “sampai wafat!” Nu’aim bin Hammad berkata: “Aku mendengar Abdullah Ibdul Mubarak radiyallahu’anhu berkata: sekelompok kaum mencelanya karena beliau sering menuntuk ilmu hadist. Maka mereka mengatakan: “sampai kapan engkau mendengarkan (hadits)? Beliau menjawab: “sampai mati!” Al Hasan bin Manshur Al Jashshosh berkata: “Aku mengatakan kepada Ahmad binHambal radiyallahu’anhu:”Sampai kapan engkau akan menulis hadits?” maka beliau menjawab : “Hingga wafat!” Abdullah bin Muhammad Al Baghawai berkata: “Aku mendengar Ahmad bin Hambal berkata: “Sesungguhnya aku menuntut ilmu sampai masuk ke liang kubur.” Muhammad bin Isma’il As Shooigh berkata: “aku tinggal bersama ayahku di Baghdad, kemudian lewat di hadapan kami Ahmad bin Hambal dalam keadaan memegang sandal. Lantas ayahku menarik bajunya, dan berata: “wahai Abu Abdillah (panggilan Ahmad bin Hambal), apakah engkau tidak malu! Sampai kapan engkau menuntut ilmu? Beliau menjawab: “sampai mati!”.
Demikianlah beberapa perkataan para ulama yang menerangkan begitu semangatnya mereka dalam menuntut ilmu. Sehingga mereka mencurahkan waktu dan tenaga untuk meraih lezatnya ilmu. Sesungguhnya bagi siapa saja yang memahami hikmah dibalik perintah menuntut ilmu tersebut niscaya dia tidak akan pernah menyia-nyiakan waktunya sedikitpun dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Dia akan merasa rugi tatkala luput dari manisnya ilmu. Dia akan memanfaatkan masa sehatnya untuk banyak menimba ilmu sebelum tiba masa sakit. Serta dia akan mengisi waktu hidupnya dengan hal-hal yang mengundang keridhoan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebelum ajal tiba.
Begitulah seharusnya cerminan seseorang mukmin yang mengharapkan perjumpaan Rabbnya. Seiring dengan itu, syetan juga tak pernah menyerah untuk menjerumuskan manusia ke lembah kebodohan. Sehingga dengan kebodohan seseorang terhadap ilmu mengakibatkan lemahnya keimanan dan minimnya ketaqwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sesungguhnya orang yang bodoh tidak mengetahui hakekat iman taqwa. Dan tidak mengetahui pula jalan untuk menuju keselamatan berdasarkan ilmu dan keyakinan yang mantap. Tentu saja hal ini semakin membuka peluang bagi syetan untuk menggiring orang tersebut kepada kemaksiatan dan kesesatan.
Tatkala kebodohan telah merajalela, maka akan meningkat pula kemaksiatan, kriminalitas, cinta kepada dunia yang berlebihan dan takut apabila kematian menjemputnya, dan sebagaimana. Semua ini merupakan diantara sebab lemahnya kaum muslimin, sehingga Allah menimpakan kehinaan kepada mereka.
Rasa gentar yang menghunjam pada jiwa-jiwa musuh-musuh Islam hilang seiring dengan dicabutnya kewibawaan kaum muslimin. Sehingga musuh-musuh kaum Muslimin tidak segan-segan untuk mengintimidasi dan memberangus persatuan kaum muslimin. Sementara mayoritas manusia terlena dengan kehidupan dunia yang fana ini dan melupakan akherat yang kekal abadi.
Oleh karena itu diantara sifat-sifat penuntut ilmu yang diajarkan oleh Rasulluah Shallallahu’alai wasallam adalah ikhlas dalam menuntut ilmu. Sebab dengan keikhlasan ini akan menghantarkan seseorang kepada tingkatan hamba yang sangat butuh kepada ilmu dan membentenginya dari riya’(ingin dipuji oleh orang lain) dan sebagainya.
Rasulluah Shallallahu’alai wasallam bersabda:”Barangsiapa yang mempelajari ilmu dari apa-apa yang dia cari dengannya wajah Allah Azza wa Jalla. Tidaklah dia belajar kecuali untuk memperoleh bagian dari dunia, maka dia tidak akan mencium wangi syurga pada hari kiamat.” (HR Ibnu Majah dan Ahmad)
Dalam berhias dengan keikhlasan ini juga harus dibimbing dengan ilmu dan tidak cukup dengan modal semangat semata. Sebab berapa banyak orang yang pada awalnya ikhlas dalam melaksanakan amalan, namun tatkala berada di tengah perjalanan mengalami penurunan secara drastis. Ini semua tidak lepas daripada peran syetan dalam menggoda bani Adam.
Syetan berupaya untuk memberikan ras was-was di dalam diri manusia sehingga mempengaruhi keikhlasan. Oleh karena itu peran ilmu sangat besar terhadap kehikhlasan seseorang. Cukuplah bagi seorang muslim akan berita Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa ilmu merupakan sebaik-baik ganjaran dalam berbuat kebaikan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan orang yang membawa kebenaran(Muhammad) dan membenarkankannya, mereka itulah orang-orang yang bertaqwa. Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Tuhan mereka. Demikianlah balasan bagi orang yang berbuat baik, agar Allah akan menutupi (mengampuni) bagi mereka perbuatan yang paling buruk yang mereka kerjakan dan membalas mereka dengan ganjaran yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.” (Az Zumar:35). Demikianlah sifat dan kedudukan ilmu yang sangat mulia sebagai ganjaran yang paling berharga bagi seorang muslim yang ingin menggapainya. Oleh karena itu kebutuhan manusia terhadap ilmu merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Jikalau ingin mendapatkan keberuntungan dunia dan akhirat maka tempuhlah jalan ilmu syari’at. Sehingga dengan demikian Allah akan mempermudah baginya untuk menuju surga yang diidam-idamkan. Kita memohon kepada Allah agar dibukakan pintu hati kita dengan taufik dan hidayah-Nya. Sehinga kita senantiasa butuh kepada ilmu yang bermanfaat. Wallohu’alam bish showab.
Sumber : buletin Jumat “Mimbar Jum’at Dewan Mubaligh Indonesia Edisi 674/Th. 2015-2016”
Keutamaan Sholat Malam
Kerjakanlah shlatul-lail (shalat Sunnah di malam hari) karena sesungguhnya hal tersebut merupakan kebiasaan orang-orang shaleh sebelum kalian. Sebagai pendekatan diri kepada Allah Swt. Sebagai pencegahan dari perbuatan dosa, sebagai kifarat dari perbuatan-perbuatan buruk dan sebagai pengusir penyakit dari tubuh. (Riwayat Ahmad melalui Bilal r.a.)
Alangkah besarnya manfaat yang terkandung di dalam shalatul lail hingga pelakunya dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang saleh. Shalat merupakan amal taqarrub seorang hamba kepada Rabbnya, karena itu dikatakan bahwa shalat merupakan miraj-nya orang-orang mukmin. Dan juga shalat dapat mencegah pelakunya dari perbuatan yang keji dan mungkar, serta dapat menghapuskan dosa-dosa. Di samping itu, banyak mengerjakan shalatul lail dapat mengusir segala macam penyakit. Allah Swt. telah berfirman :
“Dan pada sebagian malam hari shalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS Al-Isra (17):79)
Selain itu salah satu keutamaan shalat tahajud yang lain adalah Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang mengerjakan shalat malam ke beberapa derajat, baik di dunia maupun akhirat.
Di dunia orang yang mengerjakan shalat malam akan mendapat kesuksesan dalam hidup dan disegani oleh banyak orang sedangkan di akhirat akan mendapatkan tempat termulia di sisi Allah yaitu surga.
Demikian keutamaan-keutamaan yang akan diperoleh bagi orang-orang yang selalu mengerjakan shalat malam.
(Dikutip dari buku karya H.M. Buya Alfis Chaniago-Indeks Hadits dan Syarah)
Sumber : buletin Jumat “Mimbar Jum’at Dewan Mubaligh Indonesia Edisi 674/Th. 2015-2016”
Read More...
Alangkah besarnya manfaat yang terkandung di dalam shalatul lail hingga pelakunya dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang saleh. Shalat merupakan amal taqarrub seorang hamba kepada Rabbnya, karena itu dikatakan bahwa shalat merupakan miraj-nya orang-orang mukmin. Dan juga shalat dapat mencegah pelakunya dari perbuatan yang keji dan mungkar, serta dapat menghapuskan dosa-dosa. Di samping itu, banyak mengerjakan shalatul lail dapat mengusir segala macam penyakit. Allah Swt. telah berfirman :
“Dan pada sebagian malam hari shalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS Al-Isra (17):79)
Selain itu salah satu keutamaan shalat tahajud yang lain adalah Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang mengerjakan shalat malam ke beberapa derajat, baik di dunia maupun akhirat.
Di dunia orang yang mengerjakan shalat malam akan mendapat kesuksesan dalam hidup dan disegani oleh banyak orang sedangkan di akhirat akan mendapatkan tempat termulia di sisi Allah yaitu surga.
Demikian keutamaan-keutamaan yang akan diperoleh bagi orang-orang yang selalu mengerjakan shalat malam.
(Dikutip dari buku karya H.M. Buya Alfis Chaniago-Indeks Hadits dan Syarah)
Sumber : buletin Jumat “Mimbar Jum’at Dewan Mubaligh Indonesia Edisi 674/Th. 2015-2016”
Islam Memuliakan Wanita
Artikel yang bersumber dari sebuah buku, semoga berguna, silahkan dibacaya gan, cek this out.
Penulis membahas masalah ini karena orang-orang yang dengki dan orang-orang bodoh menganggap Islam telah merendahkan martabat wanita dengan syariat-syariatnya. Hal itu berkaitan dengan anjuran tetap berada di rumahnya, wajibnya mereka memakai jilbab, wajibnya melayani suami, diterimanya persaksian dua orang wanita sedang laki-laki cukup satu orang, hak warisnya separuh dari hak laki-laki, atau kedengkian mereka hanya karena Islam membolehkan seorang laki-laki ta’addud(poligami/beristri lebih dari satu).
Sungguh, dibolehkannya poligami justru mengangkat martabat kaum wanita. Bagaimanapun, seorang wanita yang bersuami lebih baik daripada wanita yang hidup sebagai perawan tua, hidup menjanda, atau bahkan bergelimang dosa lagi menghinakan diri dengan hidup melacur. Bahkan, ada wanita yang jahat dan zhalim mengatakan kepada suaminya: “Lebih baik engkau berzina/melacur daripada aku dimadu.” Na’udzu billahi min dzalik.Read More...
Dalam Islam, seorang laki-laki lebih baik dan lebih mulia jika menikah lagi(berpoligami) daripada ia berzina/melacur. Karena zina adalah perbuatan keji dan sejelek-jelek jalan yang ditempuh manusia. Allah Swt. berfirman : “Dan janganlah kamu mendekati zina;(zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.”(QS. Al-Isra (17):32)
Sedangkan keberadaan pelacuran dan wanita tuna susila (pelacur) atau penjaja sex komersial (PSK) justru merendahkan dan melecehkan martabat kaum wanita, juga sebagai bentuk penghinaan bagi mereka, serta akan menjerumuskan mereka ke Neraka.
Di muka bumi ini tidak ada agama yang memperhatikan dan mengangkat martabat kaum wanita selain agama Islam. Islam memuliakan wanita sejak dilahirkan hingga meninggal dunia.
Islam benar-benar telah mengangkat harkat dan martabat kaum wanita dan memuliakannya dengan kemuliaan yang belum pernah dilakukan oleh agama lain. Wanita dalam Islam merupakan saudara kembar laki-laki, sebaik-baik mereka adalah yang terbaik bagi keluarganya. Wanita Muslimah pada masa bayinya mempunyai hak disusui, mendapat perhatian dan sebaik-baik pendidikan dan pada waktu yang sam ia merupakan curahan kebahagiaan dan buah hati bagi ibu dan bapaknya serta saudara laki-lakinya.
Apabila wanita telah memasuki usia atau masa remaja, ia dimuliakan dan dihormati, walinya cemburu karenanya, ia meliputinya dengan penuh perhatian sehingga tidak rela kalau ada tangan jhahil yang menyentuhnya, atau rayuan-rayuan lidah busuk atau lirikan mata pria yang mengganggunya.
Apabila wanita telah menikah, hal itu akan dilaksanakan dengan kalimatullah dan perjanjian yang kokoh. Tinggallah ia di rumah suami sebagai pendamping setia dan dengan ini kehormatannya terpelihara, bahkan suami berkewajiban menghargai dan berbuat ihsan (baik) kepadanya dan tidak menyakiti fisik maupun perasaannya.
Apabila wanita menjadi seorang ibu, perintah berbakti kepadanya dinyatakan bebarengan dengan hak Allah. Kedurhakaann dan perlakuan buruk terhadapnya selalu diungkapkan bebarengan dengan kesyirikan kepada-Nya dan perbuatan kerusakan di muka bumi.
Apabila wanita sebagai saudara permpuan, maka dia adalah orang yang diperintahkan kepada saudaranya untuk dijalin hubungan silaturahim, dimuliakan, dan dilindungi.
Apabila wanita sebagai bibi, kedudukannya sederajat dengan ibu kandung di dalam mendapatkan perlakuan baik dalam silaturahim.
Apabila wanita sebagai nenek atau sudah lanjut usia, kedudukannya bertambah tinggi di mata anak-anak, juga cucu-cucunya, dan bagi seluruh kerabat dekatnya. Maka permintaannya hampir tidak pernah ditolak, pendapatnya pun tidak akan diremehkan.
Apabila wanita jauh dari orang lain, jauh dari kerabat atau pendampingnya, maka dia memiliki hak-hak Islam yang bersifat umum, seperti menahan diri dari berbuat buruk atasnya, menahan pandangan mata darinya, dan sebagainya.
Masyarakat Islam tetap memelihara hak-hak tersebut sebaik-baiknya, sehingga wanita benar-benar memiliki nilai serta kedudukan yang tidak akan pernah ditemukan dalam masyarakat non-Muslim.
Lebih dari itu, kaum wanita dalam islam memiliki hak kepemilikan, penyewaan, jual-beli, dan segala bentuk transaksi juga berhak belajar dan mengajar selagi tidak bertentangan dengan syariat agamanya. Bahkan di antara ilmu syar’I itu ada yang bersifat fardhu ‘ain, yang berdosa jika diabaikan, baik oleh laki-lali maupun wanita.
Wanita memiliki hak yang sama dengan kaum laki-laki, kecuali beberapa hak dan hukum yang khusus bagi mereka, begitu pula bagi kaum laki-laki. Semuanya sesuai atau layak bagi masing-masing jenis, sebagaimana dijelaskan secara rinci pada bahasan-bahasannya.
Sumber : Buku Panduan keluarga sakinah oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Friday, January 29, 2016
S2 di ITB
copast lagi gan, semoga bisa menjadi bayang bayang ente semua, diambil dari timeine facebook lagi. postingan asli dari
NUR NOVILINA ARIFIANINGSIH·TUESDAY, 26 JANUARY 2016, judulnya ITB dan Sebagian Diri yang Terakui masih anget gan.... silahkan dibaca-baca semoga bisa memberikan manfaat.
NUR NOVILINA ARIFIANINGSIH·TUESDAY, 26 JANUARY 2016, judulnya ITB dan Sebagian Diri yang Terakui masih anget gan.... silahkan dibaca-baca semoga bisa memberikan manfaat.
Beberapa hari yang lalu temen baik gue, sahabat gue, si Dinul nge-chat gue “Eh boy gue kangen deh sama tulisan-tulisan cangak lu, jadi kemarin gue baca-baca lagi, parah kocak banget. Nulis lagi dong lu buruan” That’s words really heal me from every stress that I got in my life. Sekalipun kadang gue merasa dengan banyaknya permintaan menulis hal konyol gue punya side job jadi sulap badut. Sebenernya gue udah lama pengen nulis hal-hal konyol lagi tapi gue takut ga puas sama hasilnya jadi ketunda mulu sampai kemarin gue baca kata-kata bagus banget dari redaktur eksekutif majalah Tempo, “Tulisan yang sempurna adalah tulisan yang tidak pernah dituliskan” so, let try to show your imperfection!Read More...
Tulisan kali ini gue mau cerita tentang kehidupan baru gue sebagai mahasiswi magister salah satu institut teknologi terbaik di Indonesia yang berlokasi di Bandung sebut saja ITB (jenis kalimat tidak efektif). Gue kemarin-kemarin cukup syok dengan perbedaan kultur yang gue alami di sini, setelah lama mendekam di Kota Semarang dan belajar di UNDIP tercinta, banyak banget hal-hal yang bikin gue geleng-geleng kepala sendiri, menyadari bahwa banyak hal yang gue baru tahu dan gak habis pikir.
Sekedar preface aja, ITB adalah impian terbesar gue waktu gue SMA, gue bahkan beberapa kali masuk rumah sakit gara-gara belajar buat masuk ITB, ITB adalah ikrar bersama gue dan Dinul, sahabat gue. Dulu kita punya mimpi masuk ITB bareng terus S2 di Eropa bareng, gue Belanda, dia Jerman. Tapi Tuhan berkata lain, Ia punya rencana lain, kita berdua ga ada yang di ITB, gue S1 Teknik Lingkungan di UNDIP dan Dinul S1 Ilmu Gizi di UGM. Sepanjang perjalanan mencari ilmu itu, gue dan Dinul terus keep in touch. Kita sama-sama prepare buat S2 di Eropa. Dan lagi-lagi Allah menunjukkan jalan lain, justru disaat gue lupa tentang ITB, Allah mengirimkan gue untuk S2 di sana, dan Dinul saat ini menjadi relawan di Papua (disaat gue selalu pengen jadi Sekjen PBB, Presiden, Menteri, Rektor atau apapun yang berlimpah pengaruh dan kekuasaan, si Dinul selalu fokus mengambil sisi dunia yang terlupakan).
Anyway, tulisan ini bukan bermaksud membandingkan antara satu almamater dan almamater lain, tapi memang ada hal-hal yang nyata perbedaannya dan gue udah mencoba riset kecil-kecilan tentang hal ini, jadi ini serius samber duit bukan perasaan gue belaka, kalo kata @tahilalat ini FAK TAHI DUP! Setidaknya ada 3 hal yang gue rasa ITB punya perbedaan yang mencolok dengan UNDIP atau bahkan Perguruan Tinggi lain di Indonesia.
1. Iklim belajar yang gak manusiawi dan dosen berwatak predator penguasa rimba
Awal masuk dosen sudah mengingatkan “Di sini bukan tempat main-main, ITB bukan tempat kalian bisa masuk, terdaftar, titip absen, nongkrong haha hihi dan dapat ijazah”. Gue pikir ini sejenis gertakan sambalado tapi ternyata… JANGANKAN NONGKRONG SOB! NAPAS JUGA SUSAH! SERIUS INI!!
Kalo dulu jaman gue S1 ada tugas masih bisa SKS alias Sistem Kebut Semalam, bahkan yang disebut Tugas Besar bisa diselesaikan H-2 dengan bantuan teman-teman yang setia kawannya macem udah terikat janji tumpah darah. Di sini boro-boro H-2, tugas kecil, tugas upil, tugas mikroba atau apalah ya namanya, kalau mau agak dihargai kudu dikerjain seminggu sebelumnya.
Dosen biasanya dari 10-15 orang paling yang ganas 2-4 orang bener gak? Kalo di ITB dari 20 dosen, yang berhati lembut dan murah hati paling banyak 2, yang lain rata-rata titisan macan dan siluman uler putih. Tapi gue pikir mereka dedikasinya luar biasa banget. Segala cara dilakukan buat bikin anak-anaknya pinter.
Ada satu ibu dosen yang ngajar Statistik, gila lah ibu ini, luar biasa terkenal kegalakannya. Doi ngasih tugas yang bikin gue sampai ngehubungin temen gue anak statistika IPB buat minta bahan, bahkan temen sekelas gue ada yang NYEWA KONSULTAN STATISTIK PROFESIONAL SOB! Dan kalian tau apa kata-kata ibu dosen ini waktu tugas kita kumpulin??
“Tugas kalian ini jelek sekali, saya dari jaman SMP juga bisa bikin lebih baik!!!!”
Pulangkan sajaaa aku pada ibuku ataauuu ayahku huwwooo huwooo (Hati yang Terluka- Betharia Sonata)
Di ITB ada penyamarataan kurikulum gitu, jadi buat yang S1 nya dulu ga di ITB harus ikut beberapa mata kuliah S1, awalnya gue tersinggung tapi yah gue coba nikmati dan pada akhirnya gue emang gak layak tersinggung karena disitu banyak hal baru yang gue dapat. Mata kuliah persamaan itu pre-requisite namanya, gue harus ambil 5 MATA KULIAH LO BAYANGIN dan itu 0 SKS alias ga masuk transkrip lo, tapi gue ga ngerti kenapa semua orang memperlakukan itu seperti 100 SKS.
“Lin jangan lupa ya besok kita simulasi presentasi buat tugas presentasi pre-requisite mikrobiologi”
Gue mencoba mengorek kuping, sumpah tadi gue denger mau simulasi buat tugas mata kuliah NOL SKS????
Bahkan dulu besoknya seminar skripsi juga banyak yang ga pake simulasi-simulasian… gue berakhir ngupil di kelas sampai mimisan dan tergolek pingsan bercucuran darah.
Perihal kuis juga disini diperlakukan layaknya hidup mati. Ada satu mata kuliah yang dosennya selalu ngasih kuis di awal masuk dan kalian tau apa yang dilakukan anak-anak ITB buat menghadapi kuis ini?
Belajar kelompok di kampus sampai tengah malam!!!
Fix banget padahal dulu, jangankan kuis, UAS juga masih bisa bobo nyenyak di kosan
Dan kalian tau soal yang dikeluarkan ibunya di kuis itu letaknya kecil nyempil nyaris sejenis foot note. Disertai seringai, dosen ini memberikan wejangan
“Kuis ini bertujuan untuk membuat kalian sadar bahwa kalian tidak tau apa-apa, jadi jangan harapkan soalnya adalah sebutkan judul bab ini, sebutkan pengertian ini… itu mah anak TK juga bisa. Sana cari tempat lain kalau mau kuliah santai-santai”
Ibuuuukuuu sayaaaang…. Masih teruuus berjalaan (Ibu-Iwan Fals)
Itu masih belum ada apa-apanya. Pernah suatu hari gue kedapetan presentasi tentang Teknologi Membran yang gue suka pake banget, gue udah baca-baca materinya bahkan 3 minggu sebelumnya. Dan pas sesi tanya jawab dosennya nanya
“Kalau saya punya limbah dan mau pakai membran, jenis membran apa yang harus saya pakai”
Gue jawab “tergantung dari jenis limbahnya bu, dan outputnya akan dibuang atau di reuse”
Dia langsung murka “Anda ini tidak mengerti pertanyaan saya! kalau cuma asal ngomong silahkan di luar! Ini forum akademik”
Gue dilanda kepeningan yang bahkan se-ton paramex pun tak akan mampu mengobati. Gue pikir padahal gue gak jawab “La...Laa Laa aku sayang sekali Doraeemooon”
Pedih
Kampus buka 24 jam, Lab buka 24 jam, parkiran motor selalu penuh bahkan pukul 2 dini hari. Dan seisi semesta ITB adalah pemuda-pemudi yang berdiskusi ilmiah atau membaca setumpuk buku atau jurnal-jurnal.
Awal-awal di sini, karena diserang kepanikan tingkat akut, gue suka nangis kalau ketiduran. Gimana gak panik temen kos gue pulang kuliah misal jam 5 selalu langsung mengurung diri dan belajaaaar sampai jam 4 pagi!!! Terus tidur dan minta gue bangunin jam 6 pagi habis itu dia solat subuh dan ngampus lagi jam 7! Begitu terus tiap hari, ada pula yang jam 3 dini hari baru tidur dan minta gue bangunin jam 5. Semua tau kalau gue bangun pagi karena disini gue doang yang kayaknya tidur malem hari. Mungkin gue ada di sarang kelelawar… gue juga heran… DAN MEREKA TIDUR 2-3 JAM SEHARI LHO!!! Sedangkan gue T,T bahkan tidur di toilet dan angkot belum diitung aja udah menghabiskan waktu 6 jam!!
Iklim belajar yang ga manusiawi ini memang cukup memakan korban, ada Komite tersendiri yang menangani anak-anak depresi di ITB sini, dosen gue salah satu pengurusnya, dia cerita seringkali menangani mahasiswa-mahasiswa yang ketawa-ketawa sendiri kemudian nangis histeris dan menerawang dengan tatapan kosong. Dia pernah bilang “Hebat ya ITB ini, mencetak banyak orang pinter tapi juga banyak orang depresi”
Gue juga pernah ketemu, ada seorang laki-laki agak kemayu gitu dan seorang perempuan yang lagi mengerjakan Gamtek (Gambar Teknik) di kertas A3 di taman, tiba-tiba si laki setengah ewang ini nangis “Gueee gak kuaat cin, gue pasti gagal, gue udah berusaha tapi selalu kayak ginii hasilnya… gimana nilai gueee cin…” kaget dong tentunya gue. Berasa pengen gue peluk sambil bilang “SAMAAAA CIIIIINNNNN”
Dan Si cewek ini dengan dinginnya menjawab “ya udah ih jangan nangis malu-maluin, ayo buru diselesaiin dulu tugasnya. Mana lo yang ga bisa? udah mau deadline, lo mau kita dapet D lagi”
FAK, gue lanjutin baca buku Termodinamika, dan seketika gue merasa bimbang akan penciptaan manusia.
2. Kebebasan Berekspresi di Junjung Tinggi
Masuk kelas harus rapi, minimal pakai kaos berkerah, rambut untuk laki-laki gak boleh gondrong, bahkan di beberapa momen harus hitam putih, harus rok, bla-bla-bla. Di ITB semua itu gak berlaku. Lo bebas sebebas-bebasnya mau pake apa aja ke kampus. Gue lahir dari keluarga yang demokratis, urusan style bebaaaas banget, ibu gue menghargai selera berpakaian semua orang, bagi beliau yang terpenting bukan fisik seseorang tapi isi hati dan kepalanya. Makanya jaman S1 dulu gue terkenal sebagai anak yang nyentrik. Baju merah, celana hijau, kaos kaki ungu. Tapi di ITB ini gue pikir gue satu-satunya orang normal. Bayangin sob ada yang ke kampus pake KUTANG!!!! Gue syok banget! Agak malu-malu gue tanya ke anak S1
“Dek, itu baju yang itu yang putih transparan yang dipake anak cowok itu kutang kan?”
Dengan tatapan heran dia menjawab “Iya, emang kenapa sih ka?”
DIA HERAN GUE NANYA, GUE HERAN DIA GAK HERAN! Gue berakhir nelen cilok tanpa ngunyah beserta tusukannya
Bukan cuma kutang, kadang lo lihat ada yang pake celana training dipadu padankan kemeja, kadang lo liat ada yang pake celana tidur atasnya rompi, daaaan lo bisa temuin mbak-mbak rambutnya di cat HIJAU STABILO pake SEPATU BOOTS SEDENGKUL TAPI BAWAANNYA BUKU FUNDAMENTAL OF CHEMISTRY SEGEDE KARUNG! Kelar idup lo.
3. Tipikal Obrolan dan Humor yang Sulit Dipahami Manusia Pada Umumnya
Kalo lo lagi kumpul sama temen-temen lo apa aja sih yang diobrolin? Pasti gak jauh-jauh dari kegiatan sosial sehari-hari, macem cewek/cowok lu yang ngeselin, ortu lu yang punya rencana umroh atau Nikita Mirzani yang habis ketangkep polisi gara-gara prostitusi artis kan? Kalo disini itu semua gak akan kalian dengar.
Gue: “Kenalin aku Lina”
Si A: “A”
Gue: “Lo aslinya mana?”
Si A: “Bogor”
Gue “waaah sama doooong aku juga”
Si A: “OK”
FIX! Apa cuma gue di dunia ini yang kalo nemu orang bahkan sesama penggemar Teletubbies aja pasti seneng banget dan langsung bisa ngobrol ngalor ngidul dari A sampai Z.
Tapi akan berbeda ketika lo ngomongin ilmu pengetahuan
Si T: “Lin lo tau prinsip kerja konverter?”
Gue: “Hmmm pernah denger tapi lupa gue”
Si T: “Sumpah lo ga tau? Itu kan Teknik Lingkungan banget, gue lagi mau buat tugas tentang converter AC-DC itu, ada beberapa konversi energi yang menggunakan prinsip…….dengan rumus… seharusnya….”
Gue terpaksa sulam alis dan operasi plastik biar kerutan penahan emosi tidak nampak. As you know itu adalah perbincangan yang menemani makan siang. Dan itu bukan satu-satunya perbincangan absurd yang harus gue hadapi!
Disini gossip seputar Nikita Mirzani dan prostitusi artis (lagi-lagi) atau kabar burung operasi plastiknya Aurel Hermansyah kalah dibanding berita Stephen Hawking ilmuwan fisika ternama dunia yang menyatakan dirinya atheis atau peraih nobel baru dari Jepang. Dan seakan-akan mereka kesal diiringi harapan tahun-tahun berikutnya mereka yang dapat nobel tersebut (bahkan gue T.T terlalu pahit untuk dikatakan)
Dari segi perbincangan sudah absurd dari segi humor lebih parah lagi…
Tentunya dulu waktu gue S1 gue punya banyak temen-temen yang kosakata ancurnya itu melebihi tebelnya kamus oxford.
“Heh Silit Pitik (dubur anak ayam red., maafkan Hernawa teman saya) sini koe!”
“Opo sih Gondes (Gondrong Ndeso red.)?”
“Oalah dasar Pinggiran Keramik, raimu koyo ndas coro buntung!” (Dasar pinggiran keramik, mukamu seperti kepala kecoa buntung red., lagi-lagi maafkan Hernawa sebagai pakar kata-kata sampah)
Dan kita selalu berakhir menertawai kekonyolan-kekonyolan yang paling tidak bisa diterima akal sehat manusia. Tapi disini….
Segerombolan anak ketawa ketawa, gue coba mendekat mendengar keseruan apa yang mereka alami
A: “Iya sumpah Di, masa gue pakenya hukum Newton 2, gue pikir kan gradient gitu kan? Anjiiir salah banget gue, Gila aja lo 45 derajat!!” (shitmen1)
B: “Bahahhahahaha paraaah lo, gile ah, eh Wi, sini lu ngapain sih nyari-nyari yang panas mulu, emang lo taneman apa butuh sinar matahari buat fotosintesis” (shitmen2)
C: “bahahaha lu kata gue Autotrof!!!” (shitmen3)
Dan segerombolan anak itu tergelak-gelak, khusyuk bahagia sekali meninggalkan gue yang udah step stadium akhir di belakang mereka, kejang-kejang disertai panas 500 derajat celcius karena sedikit pun gue ga bisa menangkap titik humor Hukum Newton dan fotosintesis ini!!!
Pernah sekali temen gue pas S1 namanya Dian, ke Bandung dan dia sempat mendengar perbincangan anak-anak ITB, dia pulang sambil menitipkan pesan “Please Lin!! Lo harus tetep jadi manusia pliiiis”
Gue ga ngerti lagi
Kalaaaau beginii akupun jadi sibuuuk, berusahaaa mengejar-ngejar diaaa, matahari menyinaari semua perasaan cintaa tapi mengaaapaa hanya aku yang dimaraahiiii (OST Sinchan)
Gue pikir gue hampir nyerah, beruntung banyak orang yang selalu mensupport gue. Ibu bapak gue selalu menghibur gue setiap gue telpon buat cerita sambil nangis-nangis karena depresi berkepanjangan
“Alaaah selooo aja temen-temen sama dosenmu itu kebanyakan belajar karena ga pada encer otaknya, kalo anak mama zzeeeet baca sekilas langsung nangkep” (minta diledakin warga ITB)
Atau bapak gue “Papa juga raport dari 9 pelajaran yang item cuma 3 bisa kok Alhamdulillah beli rumah sama mobil” (minta dimutilasi rektor ITB)
Dan juga Allah mengirimkan sohib gue dari jaman maba, si Ul yang dari dulu sekontrakan sama gue, doi sekarang keterima kerja di Bandung dan berakhirlah kita satu kosan lagi (Satu kamar bahkan). Beruntunglah setidaknya dari jutaan manusia di sini ada satu anak yang ngerti apa yang gue anggap lucu dan apa yang tidak :-P
Bagaimana pun juga ITB pernah menjadi tempat yang sangat gue impikan, dan Allah memberikannya sekarang, mungkin waktunya tidak persis seperti doa 5 tahun yang lalu, tapi gue yakin Dia lebih tau mana yang terbaik bagi hambaNya. Seringkali gue membawa hadir diri gue yang 5 tahun lalu sengaja melancong sendiri ke ITB untuk merasakan euforia anak muda yang haus akan ilmu, kadang kalo udah mellow gitu, gue suka sendirian nontonin latihan marching band maba-maba S1 atau jalan-jalan keliling ITB di sore hari. Dan gue sering senyum-senyum sambil menitikan air mata sendiri (semoga gue gak ditangkep Komite Penanggulangan Depresi ITB)
Dalam adat Jawa yang kental gue adalah anak dengan tempramen tinggi, bengis, ambisius, kompetitif, arogan, tidak sabaran, tidak lemah lembut, dan lain-lain yang membuat gue ‘merubah diri’ agar gue bisa diterima dalam hubungan sosial yang penuh kearifan lokal, yang serba pakewoh (serba ga enakan), halus, sensitif, lembut, tenang, nerimo, dll. Tapi di sini, ada sisi-sisi dalam diri gue yang seringkali berkonotasi negatif itu berjalan searah seperti menemukan tempatnya, membangun sebuah kekuatan besar yang mungkin terlihat angkuh namun ia adalah harapan bagi yang lemah.
Apa yang menjadikannya sebagai yang terbaik di Indonesia?
Apa yang menjadikannya masuk dalam jajaran terdepan di Asia Tenggara?
Apa yang menjadikannya bermanfaat besar untuk manusia dan kehidupan?
Itu semua tidak diisi dengan kemudahan, ada banyak air mata penderitaan di dalamnya. Ada banyak kedisiplinan dan hati yang tersakiti di dalamnya, tapi yang bertahan, ia yang mampu mengubah masa depan.
Semester 1 telah usai, gue menatap nanar list target gue LULUS IPK 3,9 di dinding. Melihat perjalanan 6 bulan kebelakang, gue rasa tembus di angka 3 juga udah mukjizat Ilahi. Namun ternyata lagi-lagi Allah penentu segalanya.
3,82 angka yang tertera di dalam sistem online akademik atas nama Nur Novilina Arifianingsih. Gue terperanjat tak percaya, Ibu gue yang intens menemani masa-masa sulit gue pun tak percaya.
“Lin coba dicek dulu sana, jangan-jangan ketuker sama temenmu” à ini antara gue mau ketawa atau mau nangis, antara saran atau penghinaan, tapi setelah itu ibu gue bilang gini “Dulu kamu nangis-nangis kejer ga lolos ITB karena ga mau kalah sama mama yang bisa masuk UGM dan UI, asal kamu tau aja, dulu S2 di UI IPK mama 2 koma, kamuuu ini 3,82 di ITB lho Lin, mama sudah kalah jauh dari kamu, sekarang fokus mama adalah ngeluarin nama kamu dari Top 3 list game Zuma supaya setidaknya ada satu bidang mama lebih baik dari kamu”
Ibu gue bukan tipe orang yang senang memuji, dan kalimat sejenis itu adalah penghargaan tertinggi dari dia selama gue hidup. Allah always bless me
Mungkin beberapa orang akan mencibir “Ya elah pamer nilai bgt sih” atau “Apalah arti IPK kalau ga bisa bermanfaat” semoga Allah membersihkan hati gue dari kesombongan terhadapNya. Tulisan ini lebih kepada mengingatkan gue bahwa bagaimanapun keadaannya, tetap percaya pada mimpi-mimpi kita, percaya pada kemampuan diri kita diiringi permohonan kepada Yang Maha Segalanya adalah yang paling penting. Kedepan pasti tantangannya akan lebih berat lagi, tapi gue ingin dengan mengingat pencapaian kecil ini semangat dan antusiasme gue tak akan pernah padam.
It’s always seems impossible until it’s done- Nelson Mandela
sumber
Friday, January 8, 2016
Milyader vs Orang Biasa
Bersumber dari gambar fb lagi, ya lagi lagi fb gan,ga papa ya, dari fanpage izin share yaaa
1. Para Milyader mengatur pengeluaran dibawah pendapatan, Orang biasa kedapatan besar pasak daripada tiang
2.Para milyader tidak suka berjudi, orang biasa mengharapkan durian runtuh
3. para milyader selalu belajar dari kesalahan, orang biasa hanya bisa menyesali kesalahan
4. para milyader selalu digerakkan oleh tujuan utama, orang biasa digerakkan oleh hal-hal yang membuat hidupnya terdesak
5.para milyader memiliki kontrol emosi yang tinggi, orang biasa gampang marah, menangis, atau kecewa
6.para milyader selau mengingat tujuan utama, orang biasa terombang ambing karena tidak memiliki tujuan,
7. para milyader selalu konsisten mencapai tujuan, orang biasa memiliki keingnina yang berubah ubah
8. para milyader memiliki daftar yang harus dilakukan, orang biasa selalu mengerjakan semua hal
9. para milyader memilih pekerjaan yang benar-benar mereka cintai, orang biasa memilih pekerjaan yang memiliki gaji besar dan benefit lainnya
10. para milyader menekuni yang mereka cintai, orang biasa bekerja karena terpaksa
11. para milyader bekerja sepenuh hati, orang biasa bekerja karena uang
12. para milyader melakukan sesuatu sampai selesai, orang biasa sering bekerja setengah-setengah.
13. para milyader fokus pada satu pekerjaan, orang biasa pikirannya bercabang-cabang
14. para milyader tidak suka menunda pekerjaan, orang biasa selalu mengerjakan banyak hal, sehingga sering menunda pekerjaan
15. para milyader memberi nilai lebih saat bekerja orang bekerja bekerja sesuai job descripstion
16. para milyader selalu melangkah maju untuk pertumbuhan bisnis, orang biasa berpikir panjang untuk memulai sesuatu, dan sering tidak jadi karena takut;
Read More...
1. Para Milyader mengatur pengeluaran dibawah pendapatan, Orang biasa kedapatan besar pasak daripada tiang
2.Para milyader tidak suka berjudi, orang biasa mengharapkan durian runtuh
3. para milyader selalu belajar dari kesalahan, orang biasa hanya bisa menyesali kesalahan
4. para milyader selalu digerakkan oleh tujuan utama, orang biasa digerakkan oleh hal-hal yang membuat hidupnya terdesak
5.para milyader memiliki kontrol emosi yang tinggi, orang biasa gampang marah, menangis, atau kecewa
6.para milyader selau mengingat tujuan utama, orang biasa terombang ambing karena tidak memiliki tujuan,
7. para milyader selalu konsisten mencapai tujuan, orang biasa memiliki keingnina yang berubah ubah
8. para milyader memiliki daftar yang harus dilakukan, orang biasa selalu mengerjakan semua hal
9. para milyader memilih pekerjaan yang benar-benar mereka cintai, orang biasa memilih pekerjaan yang memiliki gaji besar dan benefit lainnya
10. para milyader menekuni yang mereka cintai, orang biasa bekerja karena terpaksa
11. para milyader bekerja sepenuh hati, orang biasa bekerja karena uang
12. para milyader melakukan sesuatu sampai selesai, orang biasa sering bekerja setengah-setengah.
13. para milyader fokus pada satu pekerjaan, orang biasa pikirannya bercabang-cabang
14. para milyader tidak suka menunda pekerjaan, orang biasa selalu mengerjakan banyak hal, sehingga sering menunda pekerjaan
15. para milyader memberi nilai lebih saat bekerja orang bekerja bekerja sesuai job descripstion
16. para milyader selalu melangkah maju untuk pertumbuhan bisnis, orang biasa berpikir panjang untuk memulai sesuatu, dan sering tidak jadi karena takut;
Sunday, December 27, 2015
Kata Ust. Syafiq (tadi di kajian rekaman) : "Seseorang itu kalau sudah merasa 'baik'... SULIT DIPERBAIKI"
(copast dari fb lagi y gan) silahkan dibaca-baca
Ricky Zulkifli Bokings
16 hrs ·
# sulit diperbaiki
Kata Ust. Syafiq (tadi di kajian rekaman) : "Seseorang itu kalau sudah merasa 'baik'... SULIT DIPERBAIKI"
-----
[1] Perkataan singkat yang menusuk...
Hal ini sebagaimana yang dikatakan Ummul Mu`miniin 'Aa`isyah radhiyallaahu 'anha ketika beliau ditanya:
مَتَى يَكُوْنُ الرَّجُلُ مُسِيْأً
Kapan seseorang itu dikatakan buruk?
Beliau menjawab:
إِذَا ظَنَّ أَنَّهُ مُحْسِنٌ
Ketika dia menyangka dirinya seorang yang baik.
[2] Demikian pula, seorang itu sulit mendapatkan ilmu, ketika sudah merasa berilmu.
Fudhayl bin 'Iyyaadh ditanyakan tentang tawadhu', maka beliau menjawab:
أَنْ تَخْضَعَ لِلْحَقِّ وَتَنْقَادَ لَهُ وَلَوْ سَمِعْتَهُ مِنْ صَبِيٍّ قَبِلْتَهُ مِنْهُ، وَلَوْ سَمِعْتَهُ مِنْ أَجْهَلِ النَّاسِ قَبِلْتَهُ مِنْهُ
Engkau tunduk dan patuh pada kebenaran, meskipun engkau mendengarnya dari seorang anak kecil; (ketika engkau mendapati ia menyampaikan kebenaran), maka engkau menerima kebenaran tersebut darinya. Meskipun engkau mendengarnya dari manusia yang paling bodoh; (ketika engkau mendapati ia menyampaikan kebenaran), maka engkau menerima kebenaran tersebut darinya.
(Hilyatul Auliyaa' 8/91; kutip dari web ust. firanda)
[3] Demikian pula, seseorang itu sulit mengakui dan menghadirkan kekurangan amal dirinya, apabila dia telah menyangka amalnya sudah sempurna (apalagi menyangka amalnya sudah diterima).
Berkata salah seorang ulamaa ketika melihat orang yang mengagumi amalnya:
لاَ يَغُرَنَّكَ مَا رَأَيْتَ مِنِّي فَإِنَّ إِبْلِيْسَ تَعَبَّدَ آلاَفَ سِنِيْنَ ثُمَّ صَارَ إِلَى مَا صَارَ إِلَيْهِ
"Janganlah engkau terpedaya dengan apa yang kau lihat dariku, sesungguhnya Iblis beribadah kepada Allah ribuan tahun, kemudian dia menjadi kafir kepada Allah"
(At-Taisiir bisyarh Al-Jaami' as-Shoghiir 2/606; kutip dari web ust. firanda)
Kita berlindung kepada Allaah dari ketertipuan, seraya kita memohon padaNya husnul khaatimah.. aamiin.
Semoga bermanfaat...
Read More...
Ricky Zulkifli Bokings
16 hrs ·
# sulit diperbaiki
Kata Ust. Syafiq (tadi di kajian rekaman) : "Seseorang itu kalau sudah merasa 'baik'... SULIT DIPERBAIKI"
-----
[1] Perkataan singkat yang menusuk...
Hal ini sebagaimana yang dikatakan Ummul Mu`miniin 'Aa`isyah radhiyallaahu 'anha ketika beliau ditanya:
مَتَى يَكُوْنُ الرَّجُلُ مُسِيْأً
Kapan seseorang itu dikatakan buruk?
Beliau menjawab:
إِذَا ظَنَّ أَنَّهُ مُحْسِنٌ
Ketika dia menyangka dirinya seorang yang baik.
[2] Demikian pula, seorang itu sulit mendapatkan ilmu, ketika sudah merasa berilmu.
Fudhayl bin 'Iyyaadh ditanyakan tentang tawadhu', maka beliau menjawab:
أَنْ تَخْضَعَ لِلْحَقِّ وَتَنْقَادَ لَهُ وَلَوْ سَمِعْتَهُ مِنْ صَبِيٍّ قَبِلْتَهُ مِنْهُ، وَلَوْ سَمِعْتَهُ مِنْ أَجْهَلِ النَّاسِ قَبِلْتَهُ مِنْهُ
Engkau tunduk dan patuh pada kebenaran, meskipun engkau mendengarnya dari seorang anak kecil; (ketika engkau mendapati ia menyampaikan kebenaran), maka engkau menerima kebenaran tersebut darinya. Meskipun engkau mendengarnya dari manusia yang paling bodoh; (ketika engkau mendapati ia menyampaikan kebenaran), maka engkau menerima kebenaran tersebut darinya.
(Hilyatul Auliyaa' 8/91; kutip dari web ust. firanda)
[3] Demikian pula, seseorang itu sulit mengakui dan menghadirkan kekurangan amal dirinya, apabila dia telah menyangka amalnya sudah sempurna (apalagi menyangka amalnya sudah diterima).
Berkata salah seorang ulamaa ketika melihat orang yang mengagumi amalnya:
لاَ يَغُرَنَّكَ مَا رَأَيْتَ مِنِّي فَإِنَّ إِبْلِيْسَ تَعَبَّدَ آلاَفَ سِنِيْنَ ثُمَّ صَارَ إِلَى مَا صَارَ إِلَيْهِ
"Janganlah engkau terpedaya dengan apa yang kau lihat dariku, sesungguhnya Iblis beribadah kepada Allah ribuan tahun, kemudian dia menjadi kafir kepada Allah"
(At-Taisiir bisyarh Al-Jaami' as-Shoghiir 2/606; kutip dari web ust. firanda)
Kita berlindung kepada Allaah dari ketertipuan, seraya kita memohon padaNya husnul khaatimah.. aamiin.
Semoga bermanfaat...
Thursday, December 24, 2015
Ustad Felix Siaw Bila Ibu Habiskan 8 jam di kantor, 3 jam bersama anak, lebih layak disebut ibu apa karyawan?
ada yang nanggepin serius, la jelas2 pernyataan ini sebenarnya candaan saja, tidak bermaksud memojokkan ya hehe, tapi bagi yang serius ni ada tanggapannya juga, copas lagi copas lagi.
Read More...
Hasanudin Abdurakhman
Follow
22 December at 10:31 ·
Sebenarnya sih saya rada malas meladeni manusia pelik yang satu ini. Tapi mungkin akan ada yang galau dengan tweet beginian. Jadi saya kasih obat saja, biar nggak galau.
Mari tanya balik sama si Pelik: Kalau seorang ayah menghabiskan 3 jam di rumah, sedangkan ia habiskan 8-10 jam sehari di kantor, ia seorang ayah atau karyawan?
Mengapa seorang ibu saja yang direcokin? Karena Pelik beranggapan tugas mengasuh anak itu tugas seorang ibu? Pelik pakai dalil apa?
Tugas mengasuh dan mendidik anak itu ada pada ayah dan ibu. Bahkan, firman-firman Allah soal mendidik anak, ditujukan kepada pria. Perhatikan contoh-contohnya di surat Luqman.
Dengan pola pikir yang dipakai Pelik, bagaimana seorang ayah bisa mendidik anak-anaknya kalau ia lebih sering di luar? Pelik akan bingung menjawabnya.
Lebih lucu lagi, kenapa si Pelik ribut benar dengan perempuan kantoran? Apakah Pelik tidak sadar, ada jutaan perempuan bekerja, di sawah, ladang, pasar, bahkan di tengah hutan dan tengah laut. Emak saya dulu bekerja. Ia bekerja bersama ayah di ladang dan kebun kami. Ia juga berdagang. Apakah Pelik juga akan mengejek perempuan-perempuan mulia seperti ini sebagai bukan seorang ibu? Tidak, Pelik. Emakku adalah ibu sejati, karena dari tangan dan tetesan keringatnya ia bisa memberikan pendidikan yang layak untuk anak-anaknya.
Lalu bagaimana kita mendidik anak-anak, sementara kita harus bekerja? Itu biarlah dijawab oleh setiap pasangan ayah ibu, tak perlu kita lapor kepada si Pelik. Kita toh juga tidak pernah rewel mengurusi urusan anak bini si Pelik. Tidak mempertanyakan bagaimana bininya mengurus anak lakinya, sementara dia sibuk berjualan jilbab. Iya toh?
Sekalian aja kita suruh Pelik tanya sama bininya, itu jilbab yang dijual ama bini Pelik, dijahit oleh laki-laki atau perempuan? Itu perempuan ibu atau karyawan?
Pelik ini seorang dai bukan? Seorang dai sejatinya memberi solusi. Atau setidaknya memberi semangat. Tapi tweet ini tak lebih dari sebuah tweet nyinyir tanpa solusi. Jadi, ini tweet keluar dari seorang dai atau seekor monyet?
(Keterangan tambahan saja. Istri saya tidak menekuni profesi di luar rumah. Ini pilihan yang kami buat. Tapi dengan pilihan itu kami tetap menghormati pilihan setiap keluarga untuk bekerja di luar rumah atau tidak, sesuai kebutuhan mereka. Tentu saja dengan harapan agar mereka tidak mengabaikan pengasuhan dan pendidikan untuk anak-anak mereka.)
Walisongo
copast lagi ya gan, silahkan dibaca baca lagi
Read More...
Sofian J. Anom
19 December 2014 ·
Bertemu Walisongo di Candi Prambanan dan Borobudur*)
Jika memakai ilmu perbandingan, bisa dibilang Candi Prambanan dan Candi Borobudur sebanding dengan Masjidil Haram. Hal itulah yang membuat saya makin kagum pada Walisongo.
Maksudnya begini, kalau ada "Masjidil Haram", berarti logikanya ada puluhan "masjid agung" kan? Kalau ada tempat ibadah Hindu-Buddha selevel "Masjidil Haram", berarti bukan tidak mungkin Indonesia zaman dahulu sudah dipenuhi ribuan "mushola" umat Hindu-Buddha.
Orang tidak mungkin bisa membuat sesuatu berskala besar tanpa bisa membuat sesuatu yang berskala kecil-kecil dulu.
Tentu kita jadi bisa membayangkan kalau umat beragama Hindu dan Buddha zaman dahulu adalah golongan mayoritas. Kalau umat beragama Hindu dan Buddha zaman dahulu sangat mendominasi, bagaimana bisa Walisongo membalik kondisi tersebut?
***
Kalau Anda belajar sejarah, Anda pasti makin heran dengan Walisongo. Silakan Anda baca dengan teliti isi buku Atlas Walisongo karya sejarawan Agus Sunyoto.
Menurut catatan Dinasti Tang China, pada waktu itu (abad ke-6 M), jumlah orang Islam di nusantara (Indonesia) hanya kisaran ribuan orang. Dengan klasifikasi yang beragama Islam hanya orang Arab, Persia, dan China. Para penduduk pribumi tidak ada yang mau memeluk agama Islam.
Bukti sejarah kedua, catatan Marco Polo singgah ke Indonesia pada tahun 1200-an M. Dalam catatannya, komposisi umat beragama di nusantara masih sama persis dengan catatan Dinasti Tang; penduduk lokal nusantara tetap tidak ada yang memeluk agama Islam.
Bukti sejarah ketiga, dalam catatan Laksamana Cheng Ho pada tahun 1433 M, tetap tercatat hanya orang asing yang memeluk agama Islam. Jadi, kalau kita kalkulasi ketiga catatan tersebut, sudah lebih dari 8 abad agama Islam tidak diterima penduduk pribumi. Agama Islam hanya dipeluk oleh orang asing.
Selang beberapa tahun setelah kedatangan Laksamana Cheng Ho, rombongan Sunan Ampel datang dari daerah Champa (Vietnam).
Beberapa dekade sejak hari kedatangan Sunan Ampel, terutamanya setelah dua anaknya tumbuh dewasa (Sunan Bonang dan Sunan Drajat) dan beberapa muridnya juga sudah tumbuh dewasa (misalnya Sunan Giri), maka dibentuklah suatu dewan yang bernama Walisongo. Misi utamanya adalah mengenalkan agama Islam ke penduduk pribumi.
Anehnya, sekali lagi anehnya, pada dua catatan para penjelajah dari Benua Eropa yang ditulis pada tahun 1515 M dan 1522 M, disebutkan bahwa bangsa nusantara adalah sebuah bangsa yang mayoritas memeluk agama Islam.
Para sejarawan dunia hingga kini masih bingung, kenapa dalam tempo tak sampai 50 tahun, Walisongo berhasil mengislamkan banyak sekali manusia nusantara.
Harap diingat zaman dahulu belum ada pesawat terbang dan telepon genggam. Jalanan kala itu pun tidak ada yang diaspal, apalagi ada motor atau mobil. Dari segi ruang maupun dari segi waktu, derajat kesukarannya luar biasa berat. Tantangan dakwah Walisongo luar biasa berat.
Para sejarawan dunia angkat tangan saat disuruh menerangkan bagaimana bisa Walisongo melakukan mission impossible: Membalikkan keadaan dalam waktu kurang dari 50 tahun, padahal sudah terbukti 800 tahun lebih bangsa nusantara selalu menolak agama Islam.
Para sejarawan dunia akhirnya bersepakat bahwa cara pendekatan dakwah melalui kebudayaanlah yang membuat Walisongo sukses besar.
Menurut saya pribadi, jawaban para sejarawan dunia memang betul, tapi masih kurang lengkap. Menurut saya pribadi, yang tentu masih bisa salah, pendekatan dakwah dengan kebudayaan cuma "bungkusnya", yang benar-benar bikin beda adalah "isi" dakwah Walisongo.
***
Walisongo menyebarkan agama Islam meniru persis "bungkus" dan "isi" yang dahulu dilakukan Rasulullah SAW. Benar-benar menjiplak mutlak metode dakwahnya kanjeng nabi. Pasalnya, kondisinya hampir serupa, Walisongo kala itu ibaratnya "satu-satunya".
Dahulu Nabi Muhammad SAW adalah satu-satunya orang yang berada di jalan yang benar. Istrinya sendiri, sahabat Abu Bakar r.a., sahabat Umar r.a., sahabat Utsman r.a., calon mantunya Ali r.a., dan semua orang di muka Bumi waktu itu tersesat semua. Kanjeng nabi benar-benar the only one yang tidak sesat.
Tetapi, berkat ruh dakwah yang penuh kasih sayang, banyak orang akhirnya mau mengikuti agama baru yang dibawa kanjeng nabi. Dengan dilandasi perasaan yang tulus, Nabi Muhammad SAW amat sangat sabar menerangi orang-orang yang tersesat.
Meski kepala beliau dilumuri kotoran, meski wajah beliau diludahi, bahkan berkali-kali hendak dibunuh, kanjeng nabi selalu tersenyum memaafkan. Walisongo pun mencontoh akhlak kanjeng nabi sama persis. Walisongo berdakwah dengan penuh kasih sayang.
Pernah suatu hari ada penduduk desa bertanya hukumnya menaruh sesajen di suatu sudut rumah. Tanpa terkesan menggurui dan menunjukkan kesalahan, sunan tersebut berkata, "Boleh, malah sebaiknya jumlahnya 20 piring, tapi dimakan bersama para tetangga terdekat ya."
Pernah juga ada murid salah satu anggota Walisongo yang ragu pada konsep tauhid bertanya, "Tuhan kok jumlahnya satu? Apa nanti tidak kerepotan dan ada yang terlewat tidak diurus?"
Sunan yang ditanyai hal tersebut hanya tersenyum sejuk mendengarnya. Justru beliau minta ditemani murid tersebut menonton pagelaran wayang kulit.
Singkat cerita, sunan tersebut berkata pada muridnya, "Bagus ya cerita wayangnya..." Si murid pun menjawab penuh semangat tentang keseruan lakon wayang malam itu. "Oh iya, bagaimana menurutmu kalau dalangnya ada dua atau empat orang?" tanya sunan tersebut. Si murid langsung menjawab, "Justru lakon wayangnya bisa bubar. Dalang satu ambil wayang ini, dalang lain ambil wayang yang lain, bisa-bisa tabrakan."
Sang guru hanya tersenyum dan mengangguk-angguk mendengar jawaban polos tersebut. Seketika itu pula si murid beristighfar dan mengaku sudah paham konsep tauhid. Begitulah "isi" dakwah Walisongo; menjaga perasaan orang lain.
Pernah suatu hari ada salah satu anggota lain dari Walisongo mengumpulkan masyarakat. Sunan tersebut dengan sangat bijaksana menghimbau para muridnya untuk tidak menyembelih hewan sapi saat Idul Adha. Walaupun syariat Islam jelas menghalalkan, menjaga perasaan orang lain lebih diutamakan.
Di atas ilmu fikih, masih ada ilmu ushul fikih, dan di atasnya lagi masih ada ilmu tasawuf. Maksudnya, menghargai perasaan orang lain lebih diutamakan, daripada sekadar halal-haram. Kebaikan lebih utama daripada kebenaran.
Dengan bercanda, beliau berkomentar bahwa daging kerbau dan sapi sama saja, makan daging kerbau saja juga enak. Tidak perlu cari gara-gara dan cari benarnya sendiri, jika ada barang halal lain tapi lebih kecil mudharatnya.
Kemudian, ketika berbicara di depan khalayak umum, beliau menyampaikan bahwa agama Islam juga memuliakan hewan sapi. Sunan tersebut kemudian memberikan bukti bahwa kitab suci umat Islam ada yang namanya Surat Al-Baqarah (Sapi Betina).
Dengan nuansa kekeluargaan, sunan tersebut memetikkan beberapa ilmu hikmah dari surat tersebut, untuk dijadikan pegangan hidup siapapun yang mendengarnya.
Perlu diketahui, prilaku Walisongo seperti Nabi Muhammad SAW zaman dahulu, Walisongo tidak hanya menjadi guru orang-orang yang beragama Islam. Walisongo berakhlak baik pada siapa saja dan apapun agamanya.
Justru karena kelembutan dakwah sunan tersebut, masyarakat yang saat itu belum masuk Islam, justru gotong-royong membantu para murid beliau melaksanakan ibadah qurban.
***
Kalau Anda sekalian amati, betapa gaya berdakwah para anggota Walisongo sangat mirip gaya dakwah kanjeng nabi. Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana bisa? Hal tersebut bisa terjadi karena ada manual book cara berdakwah, yaitu Surat An-Nahl ayat ke-125.
Ud'u ilaa sabiili Rabbika bilhikmati walmau'izhatil hasanati wajaadilhum billatii hiya ahsan. Inna Rabbaka Huwa a'lamu biman dhalla 'an sabiilihi wa Huwa a'alamu bilmuhtadiin. Terjemahannya kira-kira; Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasehat yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui mereka yang mendapat petunjuk.
Menurut ulama Ahlussunnah wal Jama'ah, tafsir ayat dakwah tersebut adalah seperti berikut: Potongan kalimat awal, ud'u ilaa sabiili Rabbika, yang terjemahannya adalah "Ajaklah ke jalan Tuhanmu", tidak memiliki objek. Hal tersebut karena Gusti Allah berfirman menggunakan pola kalimat sastra.
Siapa yang diajak? Tentunya orang-orang yang belum di jalan Tuhan. Misalnya, ajaklah ke Jakarta, ya berarti yang diajak adalah orang-orang yang belum di Jakarta.
Dakwah artinya adalah "mengajak", bukan perintah. Jadi cara berdakwah yang betul adalah dengan hikmah dan nasehat yang baik. Apabila harus berdebat, pendakwah harus menggunakan cara membantah yang lebih baik. Sifat "lebih baik" di sini bisa diartikan lebih sopan, lebih lembut, dan dengan kasih sayang. Sekali lagi, apabila harus berdebat, harap diperhatikan.
Para pendakwah justru seharusnya menghindari perdebatan. Bukannya tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba ada ustadz yang mengajak debat para pendeta, biksu, orang atheis, dan sebagainya.
Berdakwah tidak boleh berlandaskan hawa nafsu. Harus ditikari ilmu, diselimuti rasa kasih sayang, dan berangkat niat yang tulus.
Apalagi ayat dakwah ditutup dengan kalimat penegasan bahwa hanya Tuhan yang mengetahui kebenaran sejati. Hanya Allah SWT yang tahu hambaNya yang masih tersesat dan hambaNya yang sudah mendapat petunjuk.
Firman dari Allah SWT tersebut sudah merupakan warning untuk para pendakwah jangan pernah merasa sudah suci, apalagi menganggap objek dakwah sebagai orang-orang yang tersesat. Anggaplah objek dakwah sebagai sesama manusia yang sama-sama berusaha menuju jalanNya.
Ayat dakwah itulah yang dipegang Nabi Muhammad SAW dan para pewarisnya saat berdakwah. Maka dari itu, kita jangan kagetan seperti para sejarawan dunia, karena kesuksesan dakwah Walisongo sebenarnya bukanlah hal yang aneh.
***
Kanjeng nabi saja bisa mengubah Jazirah Arab hanya dalam waktu 23 tahun, apalagi Walisongo yang “hanya” ditugaskan Allah SWT untuk mengislamkan sebuah bangsa.
Dakwah bisa sukses pada dasarnya dikarenakan dua faktor saja. Pertama, karena niat yang tulus. Walisongo menyayangi bangsa Indonesia, maka dari itu bangsa nusantara dirayu-rayu dengan penuh kelembutan untuk mau masuk agama Islam. Bila ada kalangan yang menolak, tetap sangat disayangi.
Sekalipun orang tersebut enggan masuk agama Islam, tapi bila ada yang sedang sakit, ia tetap dijenguk dan dicarikan obat. Kalau orang tersebut sedang membangun rumah, maka Walisongo mengerahkan para santrinya untuk menyumbang tenaga. Bahkan, kepada pihak-pihak yang tidak hanya menolak agama Islam, tapi juga mencela sekalipun, Walisongo tetap bersikap ramah.
Kedua, karena “satu kata satu perbuatan”. Walisongo membawa ajaran agama Islam ke nusantara, tentu kesembilan alim ulama tersebut harus menjadi pihak pertama yang mempraktekkan.
Agama Islam adalah agama anugerah untuk umat manusia, maka para wali tersebut selalu berusaha praktek menjadi anugerah bagi umat manusia di sekitarnya.
Semuanya dimanusiakan, karena Walisongo mempraktekkan inti ajaran agama Islam; rahmatan lil ‘alamin. Islam tidak mengenal konsep rahmatan lil muslimin.
Begitulah... Jadi, saya sangat senang kalau bisa berwisata ke Candi Prambanan atau Candi Borobudur, karena di kedua tempat tersebut saya jadi bisa bertemu Walisongo. Pertemuan secara batin.
Tulisan ini bukan untuk menjawab orang-orang yang sering meremehkan Walisongo. Tulisan ini hanyalah tulisan rindu seseorang yang penuh dosa.
Di tengah ketidakberdayaan menatap gaya dakwah yang terlalu mudah memvonis orang lain masuk neraka, saya seringkali jadi merindukan Walisongo.
*) Tulisan asli oleh Doni Febriando, dari buku "Kembali Menjadi Manusia" yang bisa didapatkan di jaringan toko buku GRAMEDIA atau TOGAMAS. Foto adalah ilustrasi.
Yang ingin membagikan sudah saya izinkan sejak saya belum meposting tulisan ini.
Memilih Pemimpin
ini ada catatan lagi dari fb, silahkan dibaca-baca ya, semoga bermanfaat
Read More...
Andi Pratama Dharma
26 September ·
PENDAPAT SAYA TENTANG MEMILIH PEMIMPIN NON-MUSLIM
Bukan untuk diperdebatkan yah. Kalo setuju silakan like atau share, kalo nggak setuju, mangga punya pendapat sendiri. Soalnya nggak ada tombol dislike atau unshare sih.
Penting untuk dicermati, tidak ada niat setitikpun tuk membuat konflik dengan saudara kami yang berbeda agama, hanya mencoba sesantun mungkin menyampaikan pemahaman saya mengenai salah satu kaidah penting memilih pemimpin dalam ajaran Islam.
Belakangan banyak terjadi perbedaan pendapat soal dukung mendukung pemimpin non-muslim, yaitu sejak Ahok menggantikan Jokowi sebagai Gubernur di Jakarta, dan terutama lagi sejak Ahok berencana untuk melanjutkan jabatan Gubernurnya untuk periode kedua, di tengah munculnya calon-calon pemimpin muslim sebagai calon Gubernur Jakarta.
Ini pendapat saya pribadi soal masalah ini, sekali lagi pemahaman pribadi lho. Bukan cuma tentang Ahok aja, tapi di setiap tempat dan segala masa saat bagaimana seorang muslim bersikap ketika calon-calon pemimpinnya ada yang beragama Islam, tapi ada juga yang non-muslim. Kalo mau tau silakan terus baca, kalo nggak mau tau, ya ngapain buka-buka wall saya yah. Jadi bingung eke.
PRINSIP DASAR:
Seorang muslim dalam lingkungan yang mayoritas muslim (beda yah kalo ia tinggal di Amerika misalnya) tidak boleh memilih, mendukung, atau memberikan loyalitasnya kepada calon pemimpin non-muslim. Dasarnya jelas kok, bukan pendapat saya lho, tapi yang nyuruh langsung Yang Maha Tahu kok, jadi jangan ngerasa sok lebih tahu deh. Trus kalo baca ayat-ayat di bawah, jangan ngerasa cuma baca Qur’an aja, tapi bacanya kayak lagi baca Surat Keputusan (SK) dari Bos Besar soal masalah yang super penting. Oke?
Allah SWT memberikan instruksi kepada hamba-hambanya yang mengaku beriman melalui Al-Qur’an yang terjaga dari kesalahan sampai akhir jaman:
“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali/pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (Ali-Imran 28)
(Oh iya. Kalo dipakai istilah kafir di dalam Quran, jangan terlalu sensi yah, atau merasa istilahnya terlalu vulgar, nggak toleran, dsb. Yang dimaksud orang Kafir di sini adalah orang-orang yang mengingkari, artinya menolak nilai-nilai yang dibawa Islam, Quran, dan Rasulullah; as simple as that. Dia bisa aja berakhlak mulia, mungkin jauh lebih banyak berbuat baik dibanding teman-teman muslimnya. So, sekali lagi, jangan sensi yah. Cuma sekedar diferensiasi kok. Yang mukmin artinya percaya, yang kafir artinya nggak percaya).
Nggak cuma di satu ayat aja lho. Di ayat lain Allah SWT juga memberi instruksi serupa dengan redaksi yang sedikit berbeda:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin bagimu; sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Al Maidah 51)
Dua ayat masih kurang? Nih satu lagi yah. Kalo masih kurang juga kebangetan dah.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali/pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?” (An Nisa 144)
Faktanya, masih banyak ayat-ayat lain yang senada, misalnya Al Maidah 57, At-Taubah 23, dan An-Nisa 139; yang menunjukkan betapa pentingnya masalah yang diangkat ini.
Syaikh Yusuf Qardhawi, "Kita selayaknya mengetahui apa yang sangat dipedulikan oleh al-Qur’an dan sering diulang-ulang di dalam surat dan ayat-ayatnya, dan apa pula yang ditegaskan dalam perintah dan larangannya. Itulah yang harus diprioritaskan, didahulukan, dan diberi perhatian oleh pemikiran, tingkah laku, penilaian, dan penghargaan kita."
Buat prinsip dasar, tiga ayat cukup kayaknya yah.
Jadi prinsip dasarnya jelas; sebagai seorang muslim, Allah SWT jelas-jelas melarang kita memilih pemimpin non-muslim. Larangannya bukan sekedar larangan biasa; buat yang masih ngotot Allah memberikan ancaman yang nggak kepalang tanggung:
1. Nggak akan dapat pertolongan Allah
2. Nggak akan dapat petunjuk Allah
3. Termasuk golongan yang zalim
4. Memberi alasan yang nyata buat mendapat siksa Allah.
Oke, prinsip dasar udah jelas. Tinggal masalah yang timbul sama kontroversinya.
KONTROVERSI KE-1:
Gimana kalo pemimpin yang non-muslim lebih jujur, lebih kompeten, pokoknya lebih segala-galanya dibandingkan pemimpin yang muslim? Mendingan pemimpin non-muslim tapi jujur daripada pemimpin muslim tapi korup kan?
Jawaban saya:
Pertama. Kalo setuju pendapat di atas, berarti mustinya Allah SWT ngasih pengecualian dalam perintah di atas. Misalnya jadi begini: “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Kecuali bila pemimpin dari golongan yang non-muslim itu lebih OKE dibandingkan pemimpin dari orang-orang mukmin.”
Tapi Allah Yang Maha Tahu nggak ngasih kekecualian kan?
Atau Allah Yang Maha Kuasa lupa kali yah bahwa mungkin aja ada para calon pemimpin non-muslim yang lebih berkualitas dibanding para kompetitor muslimnya, dan berarti Allah mengabaikan prinsip kompetensi dalam memilih pemimpin? Atau kita menganggap Allah Yang Maha Bijaksana sebenarnya kurang bijak dalam masalah ini, dalam masalah memilih pemimpin non-muslim? Jangan ah, kayaknya malah jadi sok bijak dan sok tahu deh.
Perlu diingat juga, kita cuma bisa mengkaji hikmah larangan Allah sebatas otak kita aja. Sebenarnya, di balik setiap perintah dan di balik setiap larangan-Nya, ada hikmah yang jauh lebih luas di luar jangkauan ilmu kita.
“Ketahuilah! Sesungguhnya Allah jualah yang menguasai segala yang ada di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia mengetahui keadaan yang kamu berada padanya dan pada hari umat manusia kembali kepadaNya, maka Dia akan menerangkan kepada mereka segala yang mereka kerjakan, kerana sesungguhnya Allah Maha Mengetahui akan tiap tiap sesuatu.” (An-Nuur 64)
Kedua. Tahu dari mana bahwa calon pemimpin yang non-muslim lebih segala-galanya dibandingkan calon pemimpin yang muslim? Wake up Bro, wake up Sis, di era super pencitraan hari gini masih percaya sama media main-stream. Nggak belajar apa sama kejadian kemaren? Kejadian kemaren yang mana? Ah, pura-pura nggak tahu lagi. Intinya: kadang yang kita tahu soal kelebihan dan kekurangan para calon pemimpin cuma superfisial aja kok, banyak dipoles atau dijatuhkan sama media karena berbagai konflik kepentingan.
Tapi kan susah juga buat tahu sebenar-benarnya soal kualitas calon-calon pemimpin. Namanya juga manusia milih pemimpin manusia, pasti banyak kekurangan lah. Harap dimaklum.
Eh, tapi sebenernya ada lho yang tau banget soal kualitas masing-masing pemimpin. Siapa tuh? Ya, itu Dia yang bikin ayat-ayat di atas. Makanya nurut!
Ketiga. Oke deh, anggap aja ente tahu segala-galanya soal calon-calon pemimpin ente, yang muslim maupun yang muslim. Anggap aja bahwa calon pemimpin non-muslim yang ada sekarang lebih segala-galanya dibandingkan calon pemimpin yang muslim. Terus gimana dong? Pendapat saya sih gini. Kekuatan dan kelebihan yang ada di sisi manusia itu sumbernya dari Allah juga. Soal pemimpin dan kelebihan dan kekuatan yang dimilikinya, Allah SWT mengingatkan:
“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah” (An Nisa: 139)
Dalam tafsir Fi-Zhilalil Quran, mengenai ayat ini ada ungkapan yang lumayan pas. Saya kutip yah, “Allah Azza wa Jalla bertanya dengan nada ingkar, “Mengapa mereka menjadikan orang-orang kafir sebagai teman dan pelindung? Mengapa mereka menempatkan diri mereka dalam posisi seperti ini dan bersikap seperti ini? Apakah mereka mencari kemuliaan dan kekuatan di sisi orang-orang kafir itu?” Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla yang memonopoli semua kekuatan itu. Karena itu, tidak akan mendapatkan kekuatan tersebut kecuali orang yang setia kepada-Nya, mencari kekuatan itu di sisi-Nya, dan berlindung di bawah naungan-Nya.”
Jadi, kelebihan yang dimiliki seorang pemimpin tidaklah akan ada artinya bila orang tersebut tidak setia kepada-Nya dan berlindung di bawah naungan-Nya. Gimana mau setia, gimana mau minta perlindungan, wong percaya aja kagak.
KONTROVERSI KE-2:
Udah deh Ndi, jangan suka shuudzan. Hati orang siapa tahu sih? Mungkin aja dalam hatinya Ahok ternyata lebih mulia, punya niat memajukan syiar Islam di ibukota, malah mungkin lebih menyayangi kaum muslim di Jakarta dibanding para calon pemimpin yang ngaku-ngaku muslim, yang niatnya mungkin cuma memperkaya diri. Jangan sok tahu hati orang ah!
Jawaban saya:
Hati orang siapa yang tahu sih? Nggak ada yang tahu emang. Yang tahu cuma yang Maha Tahu sih, yang jauh dari kebetulan ngasih petunjuk tentang hati para pemimpin non-muslim lewat firman-Nya:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan kebencian yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (Ali ‘Imran 118)
KONTROVERSI KE-3:
Itu kan cuma teori doang. Dalam prakteknya, mana ada pemimpin besar Islam yang membeda-bedakan jabatan berdasarkan agamanya. Yang penting kan kompetensinya? Iya nggak?
Jawaban saya:
Nggak juga sih. Ibnu Katsir menukil sebuah riwayat dari Umar bin Khathab, “Bahwasanya Umar bin Khathab memerintahkan Abu Musa Al Asy’ari agar pencatatan pengeluaran dan pemasukan Pemerintah dilakukan oleh satu orang. Abu Musa memiliki seorang juru tulis yang beragama Nasrani. Abu Musa pun mengangkatnya untuk mengerjakan tugas tadi. Umar bin Khathab pun kagum dengan hasil pekerjaannya. Ia berkata: ‘Hasil kerja orang ini bagus, bisakah orang ini didatangkan dari Syam untuk membacakan laporan-laporan di depan kami?’. Abu Musa menjawab: ‘Ia tidak bisa masuk ke tanah Haram’. Umar bertanya: ‘Kenapa? Apa karena ia junub?’. Abu Musa menjawab: ‘bukan, karena ia seorang Nasrani’. Umar pun menegurku dengan keras dan memukul pahaku dan berkata: ‘Pecatlah dia!’. Umar lalu membacakan ayat: ‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim‘” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/132).
Heran yah Umar bin Khattab. Nggak toleran banget gitu loh!
KONTROVERSI KE-4:
Ya ampun Ndi, hari gini, masih ngebedain pemimpin berdasarkan agama yang dianutnya. Toleransi dikit napa?
Jawaban saya:
Kayaknya wajar yah, semua penganut agama yang sholeh dan taat pasti lebih suka memilih pemimpin yang seiman dan seagama. Jadi wajar kalo saudara kita yang beragama Kristen lebih memilih Ahok dibanding Sandiaga Uno atau Adhyaksa Daut misalnya. Saya mengerti 200%. Dan saya nggak menuduh mereka nggak toleran karena memilih calon pemimpin yang seiman. Yang saya nggak ngerti tuh kalo Facebook Friend saya yang seiman dan seislam mati-matian mendukung dan mengkampanyekan Ahok di atas para calon pemimpin lainnya yang beragama Islam. Padahal kurang jelas apa coba instruksi dari Yang Maha Tahu dalam berbagai ayat di atas. Kagak ngarti gw mah. Jadi masalah milih pemimpin sih bukan masalah toleransi yah.
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (Al-An'am 116)
KONTROVERSI KE-5:
Dari tadi argumentasinya dari Quran melulu. Sekarang kan jaman demokrasi, internet, era globalisasi, nggak ada argumentasi yang lebih luas dan bisa diterima sama semua orang apa? Emang semua orang setuju sama ayat-ayat Quran?
Jawaban saya:
Makanya, di awal juga saya udah bilang, ini kan pendapat saya, boleh setuju, boleh nggak. Dan buat saya, dalam masalah yang maha penting seperti ini, masalah calon pemimpin yang bakal menentukan hayat hidup orang banyak, masalah yang bakal menentukan apakah syiar Islam bisa berkembang atau direpresi, kayaknya Quran udah lebih dari cukup yah.
“Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (An-Nahl 89)
Malahan cuma Quran yang bisa ngasih panduan biar saya nggak akan menyesali pilihan saya, di dunia maupun di akhirat.
“Dan janganlah engkau mengikuti apa yang engkau tidak mempunyai pengetahuan mengenainya. Sesungguhnya pendengaran dan penglihatan serta hati, semua anggota-anggota itu akan ditanya tentang apa yang dilakukannya.” (Al-Israa 36)
Masa kalo dalam masalah sholat, qurban, puasa, dan lainnya kita berpedoman sama Quran, tapi kalo masalah politik, memilih pemimpin, ekonomi dan masalah lainnya kita nggak mau pake pedoman yang sama.
“Adakah kamu beriman dengan sebahagian Kitab dan ingkar dengan sebahagian yang lain? (Al-Baqarah 85)
KONTROVERSI KE-6:
Ngapain juga sih Ndi, ngebahas masalah yang sensitif kayak gini. Mendingan kan posting yang lucu-lucu, yang damai-damai, yang nggak kontroversial. Apa udah ngerasa paling ngerti soal tafsir Quran? Tujuannya apaan sih?
Jawaban saya:
“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (Huud 88)
KONTROVERSI KE-7:
Terserah lah. Pokoknya apapun yang elo tulis, nggak akan ngerubah pendapat gua soal masalah ini. Apapun yang terjadi, gua tetep dukung Ahok, karena pastinya lebih kompeten...
“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (taufiq) kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” (Al-Baqarah 272)
KESIMPULAN SINGKAT:
Jadi, kalo di lingkungan yang mayoritas muslim, wajar kok kalo kita lebih mengutamakan calon pemimpin yang beragama Islam di atas calon pemimpin non-muslim. Bukannya karena sang pemimpin non-muslim itu tidak kompeten, tidak berkualitas, atau tidak jujur dsb. It’s absolutely had nothing to do with it. Sederhana aja kok, kenapa kita tidak memilih pemimpin non-muslim? Kenapa kok sholat Shubuh harus dua rakaat? Kenapa Zakat Fitrah kok 2,5 liter? Kenapa kok harus naik Haji segala? Karena Allah menginstruksikan hal itu. Period.
"Maka demi Tuhanmu, mereka pada hakikatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An Nisaa’ 65)
Dan soal prinsip yang utama seperti ini, nggak perlu lah sampai menimbulkan friksi sama temen-temen yang berbeda agama, apalagi sama temen-temen yang seiman dan seislam. Tinggal dipelajari aja. Kalo setuju, tinggal dilaksanakan. Kalo nggak setuju, ya silakan juga.
Tapi gimana dong Ndi, gua udah kepalang ngefans sama Ahok nih?
“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(Al Baqarah 216)
Udah ah. Alhamdulillah, sekarang udah plong. Terima kasih Facebook…
Tetap Istiqomah, Rahasia Jalan Allah
copas dari facebook juga nih, bagus
Read More...
Eddy Mandiri with Eddy Mandiri.
1 December at 13:50 ·
Kisah nyata yg diceritakan oleh Ustadz Yusuf Mansur di Kampus UI beberapa bulan lalu.
Dengan gaya khas beliau bercerita :
“Ada kawan saya yang pengen banget anaknya jadi 'Pengusaha Tambang'. Lantas sejak anak itu masuk SMA, kawan saya ini udah giatin ibadah.
. Tahajud oke,
. Dzikir oke,
. dan Wirit oke,
. Sedekah pun oke juga...
Beliau pengen anaknya bisa kuliah di ITS atau ITB, jadi 'Ahli Tambang'.
Hingga pada saat anak ini kelas 12 (SMU kelas 3), Bapaknya jual motor satu-satunya yang beliau miliki untuk disedekahkan, berharap Rahmat dan kelancaran dari Allah untuk test anaknya.
Anaknya ikut seleksi SBMPTN ambil di ITB dan ITS, ambil mandiri juga.
Ambil jurusannya gak jauh-jauh dari 'Pertambangan & Metalurgi' sebab udah jadi cita-citanya dari dulu.
Singkat cerita, ini anak kagak lolos SBMPTN. Masih lega sebab masih ada cadangan yang lewat mandiri.
Mandiri ITB pun gak lolos.
Si bapak bingung "kok Allah gak ngabulin impiannya sih?"
Dia kepengen anaknya jadi 'Ahli Tambang' biar punya manfaat buat ummat di kemudian hari.
Bapaknya pun sudah kehabisan biaya untuk ikut test dan bimbel karena untuk ini & itu pasti perlu banyak biaya.
Akhirnya pasrah, si anak memutuskan untuk kerja.
Gak jadi tukang tambang tapi 'Jadi Supir Pribadi'...
Jauh sekali dari yang diharapkan Bapaknya.
Si anak Tawakkal kepada Allah...
Pasrah sepasrah-pasrahnya sama Allah.
Sambil yakin “Pasti Allah baek ama gue, ini semua pasti ada Hikmahnya ”.
Nah… Kebetulan si anak ini jadi 'Supir Boss Besi' di Surabaya.
Tiap hari ini anak anterin boss nya ke tempat-tempat pengumpul 'Besi Bekas' di daerah Jawa.
Dari Banten sampe ke Jatim udah di datengin semua buat ketemu klien.
Si Boss ngajarin ini anak :
» gimana memilih Besi yg Bagus,
» dimana beli Besi Bagus,
» dan kemana harus dijual.
Singkat cerita...
2 tahun sudah ini anak kerja jadi 'Supir si Boss Besi'.
Si Boss Besi gak punya anak lelaki, akhirnya si boss putuskan dgn istrinya:
“Bu, anak ini amanah, cukup cerdas, biar dia aja yg pegang usaha kita, jadi kita tinggal ngawasin dia aja!”.
Hati anak ini bergetar.
Betapa Allah mengabulkan permintaan ayahnya.
Ia sekarang jadi 'Pengusaha Tambang Besi! Subhanallah.....
Bahkan ketika temen-temennya yang lolos di pertambangan ITS dan ITB masih kuliah, dia yg kemarin gak lolos 'Udah Jadi Pengusaha'.
Lucunya...
Ketika si anak ini menginterview calon karyawan nya lalu melihat CV nya, ternyata si calon karyawan ini lulusan ITB yg seangkatan dengannya, gumamnya dalam hati : “ehmmm saingan gue dulu nih.”.
Yang lolos masih jadi karyawan tapi yg gak lolos malah jadi boss.
Heran kan?
Gak usah heran!
Inilah cara Allah yang kita tidak dapat bocorannya saat itu
Ente bisa punya mimpi jadi dokter... Lalu Allah beri ente penghalang menuju mimpi itu, tapi kalo ente jernih memandang Allah, maka :
~~~~~~~~~~~~~~~~~
'Kegagalan'
bukanlah Penghalang.
~~~~~~~~~~~~~~~~~
Itu justru jalan tol ente semua menuju kesuksesan yg telah Allah rencanakan.
Yusuf Mansur 3 kali ditolak di IAIN Jakarta (sekarang UIN), berkali-kali ditolak di UI, tapi sekarang…
Alhamdulillah....
Yusuf Mansur diundang jadi tamu kehormatan di UI...
yang waktu itu lolos? Belum tentu.”
Yuk terus doakan anak2 qt. Semoga memotivasi kita semua!
Semangat menginspirasi!”
Insya Allah..
Wednesday, December 23, 2015
Mari Ambilkan Baiknya, tinggalkan yang buruk
ngambil dari artikel facebook ya,
Read More...
Nur Edy with NiLa MagFira Hapusah.
30 July 2014 • Weende, Germany •
Bagaimana mereka membentuk karakter anak jika gurunya begitu?
Guru taman kanak-kanak (TK) di Jerman tidak seperti di Indonesia, mereka tidak harus berpakaian rapi. Mereka bahkan terkesan berpenampilan urakan bagi orang-orang Indonesia. Ada yang pake anting di hidung dan bibir, rambut gimbal, bertato, bahkan punk. Tapi saya salut! Saya salut dgn cara guru-guru TK di sini membentuk karakter anak-anak. Terutama tentang "kemandirian". Satu hal yang mudah dianjurkan tetapi sulit dipraktekkan. Anak-anak saya, Nicky (6 thn) dan Lyo (4 thn) selalu menolak makan disuapi, mereka malu dipakaikan sepatu (meskipun Lyo masih sering pakai sepatu terbalik), dan mereka selalu bilang "Ich weiß schon" (saya tau/saya bisa sendiri). Hal lainnya, anak-anak selalu bertanya ke orang tuanya untuk minta izin sebelum melakukan sesuatu yang memerlukan persetujuan.
"Ayah, apakah ini jam nonton anak-anak?"
“Ayah, apakah film ini boleh saya nonton?”
“Ibu, boleh makan ice cream?”
“Ibu, boleh makan coklat?”
Saya senang karena anak-anak malu jika mereka harus dibantu orang tuanya untuk hal-hal yang mereka bisa kerjakan sendiri. Mereka juga tidak semaunya menyalakan TV untuk menonton, atau langsung memakan makanan yang ditawarkan orang lain. Ini bukan bentukan kami, ini didikan sekolah TK. Saya salut! Awalnya saya penasaran, bagaimana mereka mendidik anak-anak semandiri itu? Setelah saya perhatikan, rupanya si guru mengajari anak-anak dengan cara menjadi teman bermainnya. Sambil bermain si guru mempraktekkan bagaimana berperilaku mandiri dan selalu meminta persetujuan murid ketika dibutuhkan. Misalnya menanyakan, “bolehkah gambarnya disimpan di folder?”, “mau ngga hiking dan picnic besok?”. Hal-hal sederhana, tapi dipraktekkan, dan anak-anak juga menemukan kebiasaan-kebiasaan itu di luar sekolah. Cara si guru mengajak dan menghargai si anak sangat berbeda dengan cara mendidik yang bersifat instruksional dan menjadikan murid sebagai sub-ordinat guru. Coba bedakan dua kalimat berikut. Pertama, “anak-anak mau ngga hiking dan picnic besok? Kedua, “anak-anak besok kita akan hiking dan picnic ya”. Kalimat pertama lebih menghargai anak-anak. Guru memintai pendapat anak-anak dan memancing antusisasme mereka, padahal tanpa memintai pendapat mereka, kegiatan hiking dan piknik tersebut telah teragendakan oleh sekolah. Cara tersebut implikasinya besar bagi pembentukan karakter anak untuk berperilaku serupa. Sangat berbeda dengan kalimat kedua yang tidak mengajak anak berpendapat, isinya bukan bersifat ajakan, tapi perintah.
Saya kerap melihat orang tua (termasuk saya dan mungkin juga guru TK) di Indonesia yang menyepelekan hal kecil tapi sangat berarti seperti contoh di atas. Saya sering melihat gambar anak-anak di kertas yang hanya berupa coretan tak berarti, di buang begitu saja oleh orang tuanya. Mungkin mereka berpikir, “gambar apa sih ini?”. Padahal dari hal-hal sekecil itu, kita bisa belajar menghargai anak. Saya memperhatikan perilaku itu di sini. Ketika Si Lyo berumur hampir 3 tahun di awal fase TKnya, gambar dan lukisan Lyo yang hanya berupa coretan-coretan semrawut tetap disimpan oleh gurunya dalam sebuah folder. Suatu hari si guru ingin menunjukkan gambar-gambar tersebut ke kami. Sebelumnya si guru menanyakan ke Lyo, apakah si guru dan kami (orang tuanya) boleh melihat isi foldernya. Jika Lyo mengizinkan, baru kami boleh melihatnya. Begitu si guru mempraktekkan cara menghargai privasi anak-anak. Si Guru lalu menunjukkan kemajuan-kemajuan Lyo dari gambarnya. Dari yang hanya berupa coretan, lalu mulai berbentuk menjadi mobil, rumah, sepeda, dan super hero favoritnya.
Pada banyak hal, cara pandang terhadap sesuatu akan berbeda-beda. Itu dipengaruhi oleh pola pikir dan fakta-fakta di sekeliling objek yang diamati. Kekawatiran saya pada sifat anak kecil lekat dengan kebiasaan meniru, dikaitkan dengan penampilan gurunya yang “begitu” telah pupus. Guru-guru Lyo dan Nicky selalu menempatkan diri sebagai teman bermain anak-anak sekaligus mengajarkan "nilai-nilai kebaikan universal". Si guru mengajarkan kebaikan-kebaikan ke murid dan melarang berperilaku tidak baik. Mereka tidak mereferensikan agama, atau pilihan "genre hidup" (gaya berbusana, punk, bertato, beranting, dll.), itu wilayah privasi yang harus dihargai. Anak-anak juga selalu diberi pemahaman, bahwa mereka harus berperilaku sesuai umur. Misalnya gaya dan genre hidup seperti itu adalah gaya orang dewasa dan tidak boleh ditiru oleh anak-anak. Tentu saja akan sulit memahami semua itu jika cara berpikir seperti kebanyakan orang-orang di negeri kita yang dipakai untuk memahami penampilan si guru karena dia seorang pengajar sekaligus pendidik. Tapi rupanya tidak begitu pemahaman yang ada di sini. Satu hal yang harus dimenegerti, Jerman adalah negera sejahtera, berbeda dengan negara kita. Pola pikir mereka tidak lagi pada hal-hal yang tidak substansial. Mereka kebanyakan berpenampilan seadanya, HP dan busananya banyak yang tidak bermerk mahal karena mereka lebih memilih fungsi dan substansi. Itu salah satu ciri masyarakat di negara-negara sejahtera . Pada konteks tersebut, penampilan beranting, punk ber tato tidak lagi menjadi masalah, sepanjang kompetensinya sebagai guru memenuhi syarat.
Rupanya penampilan guru yang "begitu" tidak akan ditiru oleh si anak TK karena mereka membentuk kemandirian dan pola pikir si anak, bukan mengajarkan gaya hidup. Mereka menanamkan kemandirian hingga pada suatu hari nanti si anak memilih akan jadi apa atas kemandiriannya berpikir. Ini nilai. Ini budaya. Kita tidak perlu ikut semua budaya barat, tapi yang baik wajib diambil, yang kurang cocok jangan dipakai.
Tuesday, September 17, 2013
Pendekar
Pada jaman dulu Pendekar yang kaya dan memiliki tanah yang luas, berkata “Jo kamu kan sudah lama menjadi pembantuku, kali ini kamu akan kuangkat menjadi muridku, namun ada syarat yang harus kaupanuhi. bukit itu menghalangi pemandangan depan rumahku, bisa kau bantu agar pandangan depan rumahku bisa luas? Pembantu lalu menyanggupinya “Oke Siap Bos, akan saya laksanakan”, mulailah pembantu itu mencangkul bukit itu setiap hari, peluh dan capai dia rasakan setiap dia pulang dikala sore hari, kemudian esoknya pada pagi hari dia berangkat lagi sampai sore lagi dia baru kembali dengan keringat bercucuran.
Selang beberapa bulan akhirnya Pendekar bertanya pada pembantunya, "John gimana ni? sudah lama bukit itu tetap menghalangi pandangan rumahku?" "Maaf tuan, saya ingin menunjukkan sesuatu pada tuan, ikutlah saya", lalu mereka berjalan ke sebelah kiri bukit, menuju sebuah rumah yang terbuat dari bambu dan bentuknya sama dengan rumah sang Pendekar. "Tuan, inilah yang saya kerjakan, dulunya saya ingin menghilangkan bukit itu, namun saya sadar terlalu berat bagi saya seorang diri mengepras bukit itu, lalu saya membuat rumah ini yang sama persis dengan rumah Tuan, sekarang Tuan bisa melihat pemandangan dengan leluasa, dan bisa merasakan melihat munculnya mentari di pagi hari dengan indah”
Ketekunan dan kecerdasan John akan menjadikannya murid yang pandai, kebijaksanaannya akan mengawalnya dalam mengamalkan ilmu, dan kesetiaannya akan memegang teguh ajaran gurunya sampai mati.
Kalimat ga persis sama, tapi isinya sama dengan yang ada di Intisari September 2013 rubrik Lentera
Read More...
Ketekunan dan kecerdasan John akan menjadikannya murid yang pandai, kebijaksanaannya akan mengawalnya dalam mengamalkan ilmu, dan kesetiaannya akan memegang teguh ajaran gurunya sampai mati.
Kalimat ga persis sama, tapi isinya sama dengan yang ada di Intisari September 2013 rubrik Lentera
Thursday, September 9, 2010
Lebaran

Lebaran tiap tahun ditandai dengan mudik ke kampung halaman, Idul fitri menjadi momen yang tepat untuk bersilaturahmi, bertemu, melepas rindu dengan keluarga, serta bersua langsung dengan kawan lama. Orang pun rela berdesak-desakan di kereta, rela antri tiket bus sampai berjam-jam, rela macet, rela membayar tiket yang harganya membumbung tinggi untuk pulang. Namun sebenarnya mudik lebaran bukan hanya mudik biologis pulang kampung, ada makna lain terkandung di dalamnya.
Idul Fitri secara etimologis berasal dari kata Ied dan Al Fithr, Ied berarti kembali dan Fithr artinya berbuka. Dalam arti ini Fitri bukan berasal dari fitrah (suci), namun orang cenderung berargumentasi fitri berasal dari kata fitrah/suci. Sah-sah saja bila diartikan secara substansi, karena setelah kita berpuasa selama satu bulan menahan lapar dan dahaga Allah SWT mengampuni dosa-dosa kita sehingga kita kembali suci. Namun pertanyaannya apakah kita benar-benar telah bebas dari dosa setelah berpuasa Ramadhan? Wallahu alam.
Karena kita sendiri tidak tahu dosa kita diampuni atau tidak Rasulluah SAW mengajarkan kepada kita ucapan saat kita bersua dengan saudara dengan ucapan “Taqobalallahu minna wa minka (waminkum), waja’alana minal aidin wal faizin” Artinya: “Semoga Allah SWT menerima ibadah Ramadhan saya dan anda, dengan demikian kita menjadi orang orang yang kembali dan berbahagia karena memperoleh kemenangan”. Kembali ke agama, kembali mudik menemukan hati nurani, menemukan Allah dalam dirinya, jadi bukan sekedar kembali mudik biologis saja.
Makna Sosial lebaran adalah bertemunya perantau dengan keluarga asalnya di kampung halaman, bersosialisasi langsung dan bersilaturahmi yang mengandung sisi positif bagi mereka. Mengobati kerinduan setelah sekian lama merantau di tempat lain dan mengajarkan anak untuk menghargai orang lain.
Sedangkan dilihat dari ekonomi adalah meningkatnya arus uang perantauan ke daerah asal. Momen ini menjadi kesempatan “desa” menerima uang dari “kota”, dengan catatan tidak berlebihan dan menjadi ajang pamer kekayaan. Yang kedua uang untuk sarana dan prasarana mudik seperti penyempurnaan jalur dan penambahan transportasi.
Semoga lebaran kali ini menjadikan kita kembali kepada kemenangan, dan amal ibadah Ramadhan kita diterima Allah SWT, semoga amanah yang diberikan dapat kita laksanakan dengan sebaik-baiknya, amanat menjaga diri pribadi dari hawa nafsu bukan hanya saat puasa tapi juga di luar ramadhan.
gambar diambil dari e-matahati
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)
