Showing posts with label kendaraan. Show all posts
Showing posts with label kendaraan. Show all posts

Friday, April 3, 2026

Jawaban Chatgpt Tentang Baterai Kendaraan Listrik


tanya jawab dengan chatgpt


apa bedanya volt dan watt dalam kendaraan listrik

Perbedaan volt (V) dan watt (W) dalam kendaraan listrik itu penting karena keduanya mengukur hal yang berbeda:

⚡ Volt (Tegangan)
Volt mengukur tekanan listrik.
Ibaratnya seperti tekanan air di dalam pipa.
Semakin tinggi volt, semakin “kuat dorongan” listrik mengalir.

👉 Dalam kendaraan listrik:

Menentukan sistem baterai (misalnya 48V, 72V, 400V, bahkan 800V di mobil modern).
Tegangan tinggi biasanya memungkinkan pengisian lebih cepat dan efisiensi lebih baik.
🔋 Watt (Daya)
Watt mengukur jumlah energi yang digunakan atau dihasilkan per detik.
Rumusnya:
Watt = Volt × Ampere (arus)

👉 Dalam kendaraan listrik:

Menunjukkan seberapa besar tenaga motor.
Misalnya:
1.000 W = motor kecil (sepeda listrik)
50.000 W (50 kW) = mobil listrik
🚗 Contoh Sederhana

Bayangkan dua kendaraan listrik:

Kendaraan A: 400V × 100A = 40.000 W
Kendaraan B: 800V × 50A = 40.000 W

👉 Keduanya punya daya sama (40 kW), tapi:

Yang 800V biasanya lebih efisien (arus lebih kecil → panas lebih sedikit)
🔑 Ringkasnya
Volt (V) = tekanan listrik
Watt (W) = total tenaga/energi listrik
Volt tinggi ≠ selalu lebih kuat, tapi memengaruhi cara tenaga dihantarkan
Watt besar = kendaraan lebih bertenaga

Kalau mau, saya bisa jelaskan juga hubungan volt & watt dengan kecepatan, torsi, atau jarak tempuh kendaraan listrik biar lebih kebayang efeknya di dunia nyata.


y

Oke, kita lanjut ke hubungan volt & watt dengan performa kendaraan listrik biar makin jelas 👇

🚀 1. Watt → Pengaruh ke Kecepatan & Tenaga
Watt besar = tenaga motor lebih kuat
Dampaknya:
Akselerasi lebih cepat
Kecepatan maksimum lebih tinggi

👉 Contoh:

250–500 W → sepeda listrik santai
1.000–2.000 W → motor listrik ringan
50 kW ke atas → mobil listrik (ngebut & responsif)
⚙️ 2. Volt → Pengaruh ke Efisiensi & Sistem

Volt tidak langsung menentukan kecepatan, tapi berpengaruh ke cara tenaga disalurkan:

Volt tinggi:
Arus lebih kecil
Kabel tidak cepat panas
Lebih efisien
Bisa fast charging

👉 Makanya mobil modern pakai:

400V (umum)
800V (lebih canggih & cepat charging)
💪 3. Torsi (Tarikan Awal)

Torsi di kendaraan listrik itu terasa banget:

Dipengaruhi oleh:
Daya (watt)
Desain motor
Arus (ampere)

👉 Hasilnya:

Mobil listrik langsung “narik” dari diam
Tidak perlu nunggu rpm naik seperti mobil bensin
🔋 4. Jarak Tempuh (Range)

Ini lebih ke energi total baterai (Wh atau kWh)

Rumus sederhana:
kWh besar → jarak tempuh lebih jauh
Tapi:
Watt besar → boros kalau sering dipakai ngebut

👉 Contoh:

40 kWh → jarak menengah
60–100 kWh → jarak jauh
🔄 Gambaran Singkat
Volt tinggi → sistem lebih efisien & charging cepat
Watt besar → kendaraan lebih bertenaga
kWh besar → jarak tempuh lebih jauh
🧠 Analogi Biar Kebayang

Bayangkan selang air:

Volt = tekanan air
Ampere = jumlah aliran air
Watt = total kekuatan air yang keluar
kWh = total air di tangki

Kalau kamu mau, saya bisa bantu hitung berapa kecepatan atau jarak tempuh dari spesifikasi kendaraan listrik tertentu (misalnya motor listrik yang kamu pakai).


apa bedanya kapasitas baterai dan motor power di gambar?

Bagus, dari gambar itu ada dua hal yang sering bikin bingung: kapasitas baterai vs motor power. Kita bedah pakai contoh di gambar kamu 👇

🔋 Kapasitas Baterai (74V 30Ah)

Ini menunjukkan berapa banyak energi yang disimpan.

Ditulis: 74V 30Ah
Bisa dihitung jadi energi:
Wh = Volt × Ah
74 × 30 = 2.220 Wh (≈ 2,2 kWh)

👉 Artinya:

Ini “isi bensin”-nya kendaraan listrik
Menentukan jarak tempuh (100 km di gambar)
Semakin besar → semakin jauh bisa jalan
⚡ Motor Power (3000 W)

Ini menunjukkan seberapa besar tenaga motor.

👉 Artinya:

Ini “kekuatan mesin”
Menentukan:
Akselerasi
Kecepatan
Kemampuan nanjak
🚗 Bedanya Secara Sederhana
Kapasitas baterai = berapa lama bisa dipakai
Motor power = seberapa kuat performanya
🧠 Analogi Biar Mudah

Bayangkan motor bensin:

Kapasitas baterai = ukuran tangki bensin
Motor power = tenaga mesin (cc / horsepower)
🔄 Hubungan Keduanya

Di gambar:

Baterai: 2,2 kWh
Motor: 3000 W (3 kW)

👉 Perkiraan kasar:

Kalau dipakai full 3000W terus:
2.200 Wh ÷ 3000 W ≈ 0,7 jam (±40 menit)

Makanya:

Kalau sering ngebut (pakai daya besar) → baterai cepat habis
Kalau santai → bisa sampai klaim 100 km
🔑 Intinya
🔋 Baterai (V & Ah) → jarak tempuh
⚡ Watt (W) → tenaga motor
Keduanya saling terkait, tapi fungsinya beda

Kalau kamu mau, saya bisa bantu analisa:
👉 Apakah spek ini realistis untuk 100 km
👉 Atau kira-kira top speed & tenaga aslinya berapa 🚀


dengan spesifikasi tsb, bisa ngecas di rumah 1300 watt ga?

Jawaban singkatnya: bisa, dengan beberapa catatan penting 👍

⚡ Kenapa Bisa?

Daya listrik rumah kamu: 1300 watt
Kapasitas baterai di gambar: ±2.220 Wh (2,2 kWh)

👉 Artinya:

Energi yang perlu diisi tidak besar
Charger motor listrik biasanya tidak makan 3000W (itu motor power, bukan charger)
🔌 Daya Charger Umumnya

Untuk motor listrik spek seperti ini (74V 30Ah):

Charger biasanya di kisaran 300–800 watt

👉 Jadi:

Masih aman di listrik 1300W
Asal tidak banyak alat berat nyala bersamaan
⏱️ Estimasi Waktu Cas

Kalau pakai charger:

500W → sekitar 4–5 jam
700W → sekitar 3–4 jam

(Tergantung efisiensi & kondisi baterai)

⚠️ Yang Perlu Diperhatikan

Supaya tidak jeglek (MCB turun):

Hindari nyalain:
Rice cooker
Setrika
AC besar
bersamaan saat ngecas

👉 Idealnya:

Cas malam hari saat beban rumah rendah
🔑 Kesimpulan
✅ Bisa dicas di rumah 1300W
⚠️ Aman kalau beban listrik lain tidak berlebihan
⏱️ Waktu cas sekitar 3–5 jam

Kalau kamu mau, saya bisa bantu hitung:
👉 Biaya listrik per sekali cas
👉 atau per km (biar tahu lebih hemat dari bensin atau tidak)


apakah saya boleh mengganti baterai 72 v 55 ah?

Boleh secara konsep, tapi tidak selalu aman langsung pasang. Kita bahas biar jelas 👇

🔋 Perbandingan Spesifikasi

Dari gambar:

Asli: 74V 30Ah → ±2,2 kWh
Rencana: 72V 55Ah → ±4,0 kWh

👉 Artinya:

Kapasitas hampir 2x lebih besar → jarak tempuh bisa jauh lebih panjang
Tegangan hampir sama (74V vs 72V) → ini poin penting
⚡ Apakah Tegangan Aman?
74V vs 72V → beda kecil (≈ 2V)
Umumnya sistem 72V memang:
Full charge bisa sampai ±84V
Jadi masih dalam range normal

👉 Kesimpulan:

Biasanya kompatibel, tapi tetap harus dicek
⚠️ Risiko & Hal Penting

Ini yang sering jadi masalah:

1. 🔌 Controller (ECU motor)
Harus support baterai 72V
Kalau tidak cocok:
Bisa tidak nyala
Atau rusak
2. 🔥 Arus Lebih Besar
55Ah = bisa suplai arus lebih lama
Kalau BMS / controller tidak cocok:
Bisa overheat
Bisa merusak sistem
3. 🔋 Charger Tidak Cocok
Charger bawaan 74V belum tentu cocok untuk 72V
👉 Wajib pakai charger yang sesuai baterai baru
4. ⚖️ Ukuran & Berat
55Ah biasanya:
Lebih besar
Lebih berat
👉 Harus muat di dudukan baterai
🚀 Keuntungan Upgrade

Kalau cocok semua:

Jarak tempuh bisa naik ±1,5–2x
Lebih awet (tidak sering ngecas)
Drop tegangan lebih stabil
❗ Kesimpulan Akhir
✅ Boleh ganti ke 72V 55Ah
⚠️ Tapi harus pastikan:
Controller support 72V
Charger sesuai
Fisik baterai muat
Soket & BMS cocok
💡 Saran Aman

Sebelum ganti:

Cek spesifikasi controller motor kamu
Atau kirim foto/merk motor listriknya ke saya

👉 Nanti saya bantu cek:

Aman atau tidak
Bahkan bisa estimasi jarak tempuh baru & performanya 🔍

maksudnya charger sesuai itu apa? bukanya sama-sama intinya isi listrik? kenapa tidak sesuai?

Pertanyaan bagus—ini yang sering bikin salah paham 👍
Memang sama-sama “ngisi listrik”, tapi charger baterai itu tidak universal. Dia harus cocok dengan tipe dan tegangan baterai.

🔌 Apa maksud “charger harus sesuai”?

Charger itu mengatur:

Tegangan (Volt output)
Arus pengisian (Ampere)
Cara ngecas (algoritma/BMS)

Kalau tidak cocok → bisa tidak penuh, rusak, bahkan berbahaya

⚡ Contoh Kasus Kamu
Baterai lama:
74V 30Ah
Full charge biasanya sekitar ±84V
Baterai baru (72V 55Ah):
Juga disebut “72V”
Full charge juga sekitar ±84V (untuk lithium umum)

👉 Kelihatannya mirip, tapi belum tentu sama persis di setting charger

⚠️ Kenapa Tidak Bisa Sembarangan?
1. 🔋 Tegangan Harus Pas
Kalau charger terlalu rendah:
Baterai tidak akan penuh
Kalau terlalu tinggi:
Bisa overcharge → baterai cepat rusak / bahaya
2. 🔥 Arus (Ampere) Pengisian
Charger kecil (misal 2A):
Aman tapi lama banget
Charger besar (misal 15A):
Bisa terlalu panas kalau baterai/BMS tidak siap
3. 🧠 Sistem BMS (Battery Management System)
Baterai lithium punya “otak” (BMS)
Charger harus “nyambung” dengan batasan BMS
🔄 Analogi Simpel

Bayangkan isi air:

Tegangan = tekanan air
Arus = besar aliran air

👉 Kalau tekanannya terlalu tinggi → galon bisa rusak
👉 Kalau terlalu kecil → lama penuh

🔑 Jadi Intinya
Charger itu bukan sekadar colok listrik
Harus sesuai:
Tegangan baterai (72V system ≈ 84V full)
Arus yang aman untuk baterai
Jenis baterai (lithium, dll)
✅ Untuk Kasus Kamu

Kalau mau ganti ke 72V 55Ah:

Idealnya pakai charger:
Output: 84V (untuk baterai lithium 72V)
Arus: sekitar 5A–10A (aman & tidak terlalu lama)

Kalau kamu mau, kirim:
👉 Foto charger lama kamu (biasanya ada label spesifikasi)

Saya bisa bantu cek:

Masih bisa dipakai atau harus ganti 🔍

berarti tinggal ganti tegangan?

Tidak sesederhana “tinggal ganti tegangan” ⚠️ — itu salah satu faktor, tapi bukan satu-satunya.

🔌 Yang Harus Cocok di Charger
1. ⚡ Tegangan (Volt) → WAJIB cocok
Untuk baterai 72V lithium:
Full charge ≈ 84V
Jadi charger harus output ±84V

👉 Ini yang paling utama

2. 🔋 Arus (Ampere) → juga penting
Menentukan cepat/lambatnya ngecas
Contoh:
5A → aman, tapi agak lama
10A → lebih cepat, masih aman (umumnya)

👉 Kalau terlalu besar:

Bisa bikin baterai panas
Memperpendek umur baterai
3. 🧠 Jenis baterai & BMS
Harus sesuai dengan:
Lithium (Li-ion / LiFePO4, dll)
Karena tiap jenis:
Punya batas tegangan berbeda
Cara charging berbeda
🚫 Kenapa Tidak Cuma Tegangan?

Misalnya:

Tegangan sudah benar (84V)
Tapi arus terlalu besar (misal 20A)

👉 Bisa:

Overheat
BMS cut off
Bahkan merusak baterai
✅ Kesimpulan
✔️ Tegangan harus sesuai
✔️ Arus harus aman
✔️ Jenis baterai harus cocok

👉 Jadi bukan cuma “ganti volt”, tapi:
ganti charger yang spesifik untuk baterai tersebut

💡 Tips Aman

Kalau kamu upgrade ke 72V 55Ah:

Cari charger:
Output: 84V
Arus: 5–10A
Untuk baterai lithium

Kalau mau lebih pasti, kirim:
👉 Spesifikasi charger lama kamu
👉 atau merk baterai baru

Saya bantu cek:

Bisa dipakai atau wajib ganti
Sekalian hitung waktu cas & keamanannya 🔍

orang kadang bilang ngecas disini bisa cepat disitu lambat, apa bedanya? di tegangan apa arus? kita taunya darimana?

Pertanyaan kamu tepat banget—ini inti dari kenapa ada “cas cepat” dan “cas lambat” 👍

Jawaban singkatnya:
👉 Yang paling menentukan cepat/lambat itu ARUS (Ampere), bukan tegangan.
Tapi… keduanya tetap berperan.

⚡ 1. Peran Tegangan (Volt)
Tegangan itu harus sesuai & cukup tinggi untuk mengisi baterai
Tapi:
Kalau volt sudah “cukup” (misalnya 84V untuk baterai 72V)
Nambah volt lagi tidak bikin jauh lebih cepat

👉 Jadi:

Volt = “syarat supaya bisa ngecas dengan benar”
🔥 2. Peran Arus (Ampere) → PENENTU KECEPATAN
Arus = seberapa banyak listrik yang masuk per detik

👉 Semakin besar ampere:

Cas makin cepat
👉 Semakin kecil:
Cas makin lama
🧠 Rumus Simpel

Daya charger (Watt) = Volt × Ampere

Contoh:

Charger A: 84V × 5A = 420W
Charger B: 84V × 10A = 840W

👉 Charger B ≈ 2x lebih cepat

🔍 Kita Tahu dari Mana?
1. Lihat Label Charger

Biasanya tertulis:

Output: 84V 5A
atau
Output: 84V 10A

👉 Itu kunci utama

2. Lihat Watt (kalau ada)

Kadang ditulis:

500W
800W

👉 Semakin besar → semakin cepat

3. Rasakan Waktu Cas
5A → ±6–8 jam
10A → ±3–4 jam

(untuk baterai besar seperti 55Ah)

⚠️ Kenapa Tidak Semua Pakai Arus Besar?

Karena:

🔥 Bisa panas
🔋 Mempercepat keausan baterai
🧠 BMS bisa membatasi

👉 Jadi selalu ada “batas aman”

🧃 Analogi Biar Kebayang

Isi ember:

Volt = tinggi kran (tekanan air)
Ampere = besar aliran air

👉 Mau cepat penuh?

Buka aliran lebih besar (ampere), bukan sekadar tambah tekanan
🔑 Kesimpulan
⚡ Volt = harus sesuai (biar bisa ngecas dengan benar)
🔥 Ampere = menentukan cepat/lambat
🔌 Watt = gambaran total kecepatan (gabungan volt & ampere)

Kalau kamu mau, saya bisa bantu:
👉 Hitung berapa lama cas baterai 72V 55Ah kamu dengan charger tertentu
👉 Atau kasih rekomendasi ampere paling aman biar baterai awet 🔋


bolehkan kita cas baterai saya 72volt 55 ah di cas yang punya tegangan lebih tinggi?

Jawaban jujurnya: tidak boleh sembarangan pakai tegangan lebih tinggi ⚠️
Ini bukan soal lebih cepat—tapi bisa merusak baterai atau berbahaya.

🔋 Kenapa Tidak Boleh Tegangan Lebih Tinggi?

Untuk baterai kamu:

Sistem: 72V
Full charge normal: ±84V

👉 Jadi charger yang benar:

Output: sekitar 84V
⚠️ Kalau Pakai Tegangan Lebih Tinggi (misalnya 90V, 100V)

Risikonya:

1. 🔥 Overcharge
Baterai dipaksa melebihi batas
Bisa:
Cepat rusak
Menggembung
Bahkan terbakar
2. 🧠 BMS Bisa “Cut Off”
BMS (pengaman baterai) akan memutus
Akibatnya:
Ngecas jadi putus-putus
Tidak masuk penuh
Bisa merusak sistem dalam jangka panjang
3. ⚡ Umur Baterai Pendek
Tegangan berlebih = stres ke sel baterai
Kapasitas cepat turun
❗ Tapi Ada Satu Kondisi Aman

Kalau:

Charger memang didisain untuk baterai 72V lithium
Outputnya tetap 84V (bukan lebih tinggi)

👉 Itu aman

🧠 Kesalahpahaman Umum

Banyak orang pikir:

“Tegangan lebih tinggi = cas lebih cepat”

👉 Salah ❌
Yang bikin cepat itu:

Ampere (A) lebih besar
Bukan menaikkan volt sembarangan
🔑 Kesimpulan
❌ Tidak boleh pakai charger dengan volt lebih tinggi dari standar
✅ Harus sesuai: sekitar 84V untuk baterai 72V
⚡ Mau lebih cepat? → naikkan ampere, bukan volt
💡 Saran Aman

Untuk baterai 72V 55Ah:

Gunakan charger:
84V
5–10A

Kalau kamu kepikiran pakai charger tertentu (misalnya pinjam atau beli), kirim saja spesifikasinya—nanti saya bantu cek apakah aman atau tidak 🔍

72V 55Ah apakah bisa ngecas di rumah yang tegangannya jauh lebih tinggi 220 volt?

Nah ini penting—dan jawabannya: BISA, dan memang harus begitu 👍


⚡ Kenapa Bisa Pakai Listrik Rumah 220V?

Listrik rumah kamu:

220V AC (arus bolak-balik)

Baterai kamu:

72V (±84V saat penuh) DC (arus searah)

👉 Di sinilah fungsi charger:

🔌 Charger itu “converter”

Charger akan:

Mengubah 220V AC → 84V DC
Mengatur arus supaya aman ke baterai
🧠 Jadi Alurnya Begini
Dari PLN: 220V AC
Masuk ke charger
Charger ubah jadi:
84V DC
Arus stabil (misalnya 5A / 10A)
Baru masuk ke baterai
❗ Kenapa Aman?

Karena:

Baterai tidak langsung kena 220V
Sudah “diturunkan & diatur” oleh charger

👉 Tanpa charger = bahaya besar (jangan pernah coba) ⚠️

🔥 Analogi Simpel

Kayak adaptor laptop:

Stop kontak: 220V
Laptop: cuma butuh ~19V

👉 Aman karena ada adaptor (charger)

⚠️ Yang Harus Dipastikan

Supaya aman:

✔️ Charger memang untuk 72V battery (output ±84V)
✔️ Bukan charger abal-abal
✔️ Kabel & colokan bagus
✔️ Tidak overloading listrik rumah
🔑 Kesimpulan
✅ Boleh ngecas di rumah 220V
✅ Memang itu standar
⚠️ Tapi wajib pakai charger yang sesuai
❌ Tidak boleh langsung tanpa charger

Kalau kamu mau, saya bisa bantu:
👉 Hitung berapa biaya listrik per sekali cas baterai 72V 55Ah kamu
👉 Biasanya hasilnya bikin kaget karena jauh lebih hemat dari bensin ⛽➡️⚡


kenapa vinvast hanya khusus untuk mobil vinvast? bukannya pemerintah seharusnya ngatur bisa cas semua kendaraan?

Ah, ini pertanyaan bagus dan ada beberapa lapisan yang perlu dipahami. Kita bahas dari sisi teknis, bisnis, dan regulasi.

1️⃣ Alasan Teknis
Mobil VinFast punya tegangan baterai dan sistem pengisian tertentu (misal 400–800V, lithium ion, protokol BMS khusus).
Charger umum atau yang dimiliki orang lain belum tentu kompatibel:
Tegangan terlalu rendah/tinggi → baterai bisa rusak
Arus tidak sesuai → lambat atau berisiko panas
Protokol komunikasi (BMS ↔ charger) unik → charger lain mungkin gagal membaca baterai

👉 Jadi dari sisi keamanan dan umur baterai, VinFast sengaja buat charger khusus untuk mobil mereka.

2️⃣ Alasan Bisnis
Sama seperti Apple dengan iPhone & MagSafe:
Mengunci ekosistem → orang pakai produk resmi → kontrol kualitas, layanan purna jual, dan profit.
VinFast ingin:
Pastikan pengalaman charging konsisten
Meminimalkan klaim garansi akibat baterai rusak oleh charger pihak ketiga
3️⃣ Alasan Regulasi dan Standar
Di beberapa negara, pemerintah memang mulai mendorong standar universal:
Misal di Eropa ada CCS2 (Combined Charging System)
Di AS juga ada beberapa standar charger umum
Tapi di Indonesia:
Standar pengisian EV belum sepenuhnya wajib universal
Jadi pabrikan boleh buat charger proprietary, selama aman dan sesuai aturan PLN
🔑 Ringkasnya
Teknis: baterai & sistem VinFast unik
Bisnis: kontrol kualitas & layanan purna jual
Regulasi: belum ada kewajiban charger universal di Indonesia

Kalau pemerintah menetapkan standar universal charger:

Semua EV bisa pakai charger publik
Tapi pabrikan bisa tetap pakai protokol internal untuk garansi/performa

Kalau mau, saya bisa jelaskan juga perbandingan protokol charger VinFast vs standar CCS/CHAdeMO, biar kelihatan kenapa mereka “tidak bisa sembarangan” dipakai charger umum ⚡.

Apakah mau saya buatkan?


kenapa vinvast tidak membuat saja charger yang bisa 400 an volt, sementara stasiun chargernya dibuat universal saja!

Ah, ini pertanyaan bagus banget, dan jawabannya agak kompleks karena menyentuh teknis, keselamatan, bisnis, dan infrastruktur. Mari kita uraikan satu per satu:

1️⃣ Masalah Teknis: Voltase & Arus Tinggi
Mobil VinFast menggunakan baterai 400–800V (mobil listrik modern).
Membuat charger universal yang bisa menangani semua EV:
Tegangan & arus berbeda-beda tiap merek
Sistem BMS tiap mobil unik → kalau charger asal colok bisa overcharge, panas, atau rusak baterai
Jadi charger “universal” bukan cuma soal tegangan, tapi juga komunikasi dengan BMS tiap kendaraan.
2️⃣ Masalah Keselamatan
Tegangan tinggi (400V+) bahaya bagi manusia jika sistem salah desain.
Charger universal harus:
Mengatur tegangan & arus secara dinamis sesuai mobil
Memastikan disconnect otomatis kalau terjadi masalah
Ini lebih rumit & mahal daripada charger khusus satu merek.
3️⃣ Masalah Infrastruktur
Stasiun charger umum:
Harus bisa mendukung multi-protokol (CCS, CHAdeMO, Tesla)
Harganya jauh lebih mahal daripada charger satu merek
Perawatan lebih kompleks karena banyak tipe kendaraan berbeda
VinFast bisa memilih untuk fokus ke ekosistem mereka dulu agar pengalaman charging konsisten sebelum masuk ke universal.
4️⃣ Alasan Bisnis & Garansi
Jika charger universal rusak atau merusak baterai:
Konsumen bisa klaim garansi
Biaya pabrikan meningkat drastis
Dengan charger khusus:
VinFast bisa kontrol kualitas
Pastikan baterai awet
Minim risiko klaim
5️⃣ Regulasi & Standar
Di Eropa/AS sudah ada standar universal (CCS2, CHAdeMO).
Di Indonesia: belum ada kewajiban standar universal → pabrikan masih bebas buat charger proprietary.
🔑 Ringkasnya
Tidak semudah “buat charger 400V universal” karena:
Mobil punya tegangan & BMS berbeda
Tegangan tinggi → lebih berisiko
Charger universal → mahal & kompleks
Bisnis & garansi → lebih aman pakai sistem sendiri

Kalau mau, saya bisa buatkan diagram sederhana bagaimana charger universal vs charger khusus bekerja, biar kelihatan kenapa “universal” itu jauh lebih rumit daripada kelihatannya ⚡.

Apakah mau saya buatkan?


la iya maksudnya vinvast bikin chargernya sendiri, tapi stasiun chargenya universal, kan tinggal menaikkan voltase?

Ah, sekarang maksudmu sudah lebih jelas 😄 — kamu membayangkan:

VinFast bikin charger sendiri (di mobil) → aman & sesuai BMS
Stasiun charger di tempat umum → universal untuk semua mobil, tinggal atur voltase & arus sesuai mobil

Nah, ini memang terdengar logis, tapi masalahnya jauh lebih kompleks daripada sekadar “menaikkan voltase”. Mari kita urai:

1️⃣ Voltase saja tidak cukup
Mobil listrik tidak hanya butuh voltase tertentu, tapi juga protokol komunikasi BMS:
Charger harus “ngobrol” dengan baterai: berapa arus yang aman, kapan mulai tapering, kapan memutus daya
Kalau cuma menaikkan voltase tapi tidak ada komunikasi, baterai bisa:
Overcharge → rusak / panas
Arus terlalu besar → shorten lifespan
2️⃣ Arus (Ampere) harus dinamis
Setiap mobil punya batas arus maksimal:
Charger universal harus bisa mengatur arus sesuai spesifikasi mobil
Tidak bisa cuma pasang voltase tinggi, karena arus tetap harus aman
3️⃣ Standar dan protokol
EV berbeda-beda: CCS, CHAdeMO, Tesla, VinFast proprietary
Charger universal harus:
Bisa switch protokol otomatis
Menangani tegangan & arus berbeda-beda
Menyertakan safety cut-off, grounding, dll
Ini membuat stasiun charger jauh lebih kompleks dan mahal daripada charger merk tunggal
4️⃣ Keamanan
Tegangan 400V+ sangat berbahaya bagi manusia
Charger universal harus sangat pintar untuk mencegah percikan, short circuit, atau kesalahan koneksi
🔑 Ringkasnya
Iya, “tinggal menaikkan voltase” terdengar sederhana, tapi sebenarnya:
Harus ada komunikasi dengan BMS
Arus harus dinamis & aman
Protokol dan standar harus mendukung berbagai merk
Safety harus dijaga, terutama di stasiun publik

👉 Jadi VinFast bisa bikin charger mobil sendiri, tapi membuat stasiun charger universal 400V aman untuk semua mobil itu tidak sesederhana menaikkan voltase.

Kalau mau, saya bisa buatkan diagram sederhana alur komunikasi charger universal vs charger merk tunggal, biar jelas kenapa stasiun universal itu rumit ⚡.

Apakah mau saya buatkan?


iya makannya kenapa vinvast tidak membuat charger yang bisa komunikasi bms, kok malahh bikin stasiun sendiri

Ah, sekarang jelas maksudmu: kenapa VinFast tidak bikin stasiun charger universal yang bisa “ngobrol” dengan semua BMS mobil, tapi malah bikin ekosistem sendiri. Ini ada beberapa alasan logis, gabungan teknis, bisnis, dan strategi pasar:

1️⃣ Masalah Teknis & Kompleksitas
BMS tiap merk berbeda:
Tesla, Hyundai, Nissan, dan VinFast punya protokol komunikasi internal berbeda
Charger universal harus bisa mendeteksi merk & model, lalu menyesuaikan arus & tegangan dengan aman
Tegangan & arus berbeda-beda:
Mobil high-voltage bisa 400–800V
Mobil 72V motor kecil → jauh lebih rendah
Membuat stasiun universal aman untuk semua mobil berarti charger harus dinamis, pintar, dan mahal
Tidak hanya soal “tinggal komunikasi BMS” saja
2️⃣ Keamanan & Liability
Stasiun charger universal berisiko:
Salah komunikasi → overcharge → baterai rusak → klaim garansi → risiko hukum
Tegangan tinggi → percikan / kebakaran jika ada kesalahan
VinFast lebih aman dengan stasiun proprietary → kendali penuh atas protokol dan standar keamanan
3️⃣ Strategi Bisnis & Ekosistem
Sama seperti Apple dengan iPhone/MagSafe:
Membuat charger dan stasiun sendiri → mengunci ekosistem
Bisa pastikan pengalaman pengguna konsisten
Meminimalkan klaim garansi akibat charger pihak ketiga
4️⃣ Infrastruktur & Biaya
Stasiun universal mahal & kompleks:
Harus mendukung multi-protokol (CCS, CHAdeMO, Tesla, VinFast)
Harus bisa switch arus & voltase otomatis
Lebih murah dan cepat jika VinFast bangun stasiun sendiri dulu, fokus ke pelanggan mereka
🔑 Intinya
Teknis → protokol BMS berbeda-beda, tegangan & arus bervariasi, safety tinggi
Bisnis → kontrol kualitas, garansi, pengalaman pengguna
Ekonomi → stasiun universal lebih mahal & kompleks
Strategi → VinFast membangun ekosistem dulu sebelum mempertimbangkan universal

Kalau mau, saya bisa bikin diagram perbandingan stasiun charger proprietary vs universal, biar kelihatan kenapa stasiun universal itu ribet dan mahal ⚡.

Apakah mau saya buatkan diagramnya?


la iya bms tiap produk berbeda, bukanya bms bisa langsung dipasang di chargernya masing-masing? sementara pln tinggal menyediakan colokannya 220 volt

Nah, sekarang kita sudah mendekati inti masalah, dan jawabannya: secara teori iya, tapi praktiknya jauh lebih rumit ⚡. Mari kita uraikan.

1️⃣ Ide Kamu

Konsepmu:

Setiap mobil punya BMS sendiri di charger → tinggal dihubungkan ke 220V PLN
Stasiun cuma menyediakan colokan listrik AC → semua mobil bisa cas

Secara teori ini terdengar logis, tapi ada beberapa masalah nyata:

2️⃣ Masalah Teknis
a. Tegangan & arus berbeda-beda
Mobil 72V → charger internal harus turunkan 220V AC → 84V DC ± arus tertentu
Mobil 400V → charger internal harus turunkan 220V AC → 400V DC ± arus lebih besar
Charger internal harus cukup pintar untuk menahan arus AC rumah dan tetap aman

⚠️ Kalau semua mobil colok ke colokan rumah biasa (misal 10–16A), mobil high-voltage tidak akan dapat arus cukup → ngecas lama banget

b. Keamanan
Tegangan tinggi (400–800V) → jika ada koneksi langsung ke listrik rumah, risiko sengatan serius dan kebakaran tinggi
Charger harus punya proteksi arus, proteksi short circuit, grounding, dan isolasi
c. Standarisasi plug & socket
Mobil berbeda → colokan berbeda
Mobil kecil 72V → biasanya colokan kecil (domestik)
Mobil 400V → colokan besar (fast charging)
Jadi stasiun tetap harus sesuaikan plug dan safety
3️⃣ Masalah Ekonomi & Infrastruktur
Kalau semua mobil pasang charger internal yang pintar:
Setiap mobil harus bawa charger mahal sendiri
Stasiun cuma colokan → tapi tidak bisa fast charging (aruss besar tidak muat di listrik rumah)
Lebih murah bagi VinFast (dan pabrikan lain) untuk buat stasiun fast charging dengan arus tinggi & safety built-in
🔑 Kesimpulan
Secara teori: “bawa charger di mobil, PLN tinggal colokan 220V” bisa jalan untuk mobil kecil 72V → charging lambat
Tapi untuk mobil modern (400–800V, fast charging), tidak cukup aman dan tidak praktis
Makanya VinFast:
Buat charger internal untuk keamanan & proteksi baterai
Buat stasiun fast charging sendiri untuk arus tinggi & protokol

Kalau mau, saya bisa buatkan diagram alur charging mobil 72V vs 400V, biar kelihatan kenapa fast charging tidak bisa cuma pakai colokan 220V.

Apakah mau saya buatkan diagramnya?


katamu kecepatan hany amper, kenapa kamu nulis "(400–800V, fast charging"? kan ga ada hubungannya sama voltase?

Ah, iya, aku paham kebingunganmu 😄. Memang benar kalau kecepatan ngecas (lama/cepat) itu lebih dipengaruhi oleh arus (Ampere). Tapi saya sebut “400–800V, fast charging” bukan tanpa alasan—ada hubungannya dengan praktik dan keamanan, bukan kecepatan murni. Mari kita luruskan:

1️⃣ Arus = penentu utama kecepatan
Rumus daya listrik:
𝑃
=
𝑉
×
𝐼
P=V×I
Daya (Watt) = Tegangan (V) × Arus (A)
Untuk daya tertentu, arus rendah tapi volt tinggi = bisa ngecas cepat
Arus tinggi tapi volt rendah = juga bisa cepat, tapi arus besar → kabel dan konektor lebih tebal

👉 Jadi, cepat atau lambat ngecas tergantung arus dan daya, bukan voltase sendiri

2️⃣ Lalu kenapa 400–800V disebut fast charging?
Stasiun fast charging modern biasanya tegangan tinggi karena:
Supaya daya tinggi bisa dicapai dengan arus lebih kecil
Contoh: 50 kW charger
Kalau 400V → arus = 125A
Kalau 800V → arus = 62,5A
Arus lebih kecil → kabel lebih tipis, lebih aman, lebih efisien, tidak cepat panas

👉 Jadi voltase tinggi bukan langsung bikin cepat, tapi memungkinkan daya tinggi dengan arus aman → praktis untuk fast charging

3️⃣ Analogi sederhana
Bayangkan selang air:
Volt = tekanan air
Ampere = jumlah air per detik
Untuk isi ember besar cepat:
Bisa pakai tekanan lebih besar atau aliran lebih besar
Kalau tekanannya tinggi, alirannya bisa kecil → tetap cepat penuh

⚡ Sama dengan fast charging: volt tinggi → arus lebih kecil → daya tinggi → ngecas cepat dan aman

🔑 Kesimpulan
Kecepatan ngecas = arus yang masuk ke baterai
Voltase tinggi → memungkinkan daya tinggi dengan arus yang lebih kecil → aman & efisien
Jadi istilah “400–800V, fast charging” bukan berarti volt langsung bikin cepat, tapi mengatur kondisi agar arus tinggi tidak berbahaya

Kalau mau, aku bisa buatkan tabel perbandingan Volt + Ampere vs kecepatan charging, biar kelihatan hubungannya dengan aman & cepat ⚡.

Apakah mau aku buatkan tabelnya?


oooo kalau begitu kenapa tidak semua spklu membuat sekalian 800 volt stasiun charging, toh masing2 brand kan ada chargernya sendiri, kalau butuh volt kecil tinggal dikecilin kan?

Ah, ini pertanyaan bagus, dan memang terdengar logis kalau “tinggal bikin 800V semua, nanti mobil bisa turunkan sendiri kalau perlu”. Tapi ada beberapa alasan teknis, ekonomi, dan keselamatan kenapa ini tidak praktis di stasiun SPKLU. Mari kita urai:

1️⃣ Masalah Teknis: Komponen & Kabel
Stasiun 800V harus:
Kabel dan konektor mampu menahan tegangan tinggi ±800V DC
Semua switch, fuse, dan proteksi di stasiun dirancang untuk voltase tinggi
Harga komponen 800V jauh lebih mahal daripada 400V
Mobil yang cuma butuh 72–400V → tetap harus turunkan voltase tinggi ini di dalam charger mobil
Artinya stasiun “overkill” → mahal tapi tidak dimanfaatkan sepenuhnya
2️⃣ Masalah Keselamatan
Tegangan tinggi → lebih berbahaya bagi manusia dan risiko percikan listrik
SPKLU yang 800V harus:
Isolasi ekstra
Grounding lebih ketat
Sistem proteksi lebih kompleks
Semua ini meningkatkan biaya dan risiko operasional
3️⃣ Masalah Kompatibilitas
Tidak semua mobil punya charger internal yang bisa turunkan dari 800V ke voltase rendah
Misal mobil 72V → tidak semua BMS/charger bisa langsung handle 800V input
Bisa berbahaya → overvoltage → baterai rusak
Jadi, SPKLU tidak bisa “sekadar kasih 800V”, harus sesuai protokol mobil
4️⃣ Masalah Ekonomi
SPKLU 800V = investasi mahal
Banyak mobil masih pakai baterai lebih kecil dari 400V
Dengan kapasitas rendah → 800V terlalu mahal untuk utilitasnya
Lebih praktis bikin stasiun 400–500V fast charging, kompatibel dengan mayoritas EV saat ini
🔑 Ringkasnya
Secara teori bisa “bikin 800V universal”
Praktik nyata sulit karena:
Komponen mahal & lebih kompleks
Keselamatan tinggi → isolasi & proteksi ekstra
Tidak semua mobil bisa handle input tinggi → risiko baterai rusak
Tidak ekonomis untuk EV tegangan rendah

Kalau mau, aku bisa buatkan diagram skema SPKLU: tegangan tinggi vs tegangan rendah & hubungan aman dengan mobil, biar kelihatan kenapa 800V tidak selalu ideal ⚡.

Apakah mau aku buatkan diagramnya?


kalo gitu buat aja spklu 400 volt, toh charger masing2 bisa menyesuaikan sendiri?

Iya, sekarang kita sampai ke inti logikanya, dan jawabanmu hampir tepat ✅. Tapi masih ada beberapa nuance penting yang bikin SPKLU 400V tidak sepenuhnya “pas untuk semua mobil”. Mari kita jelaskan.

1️⃣ Konsep SPKLU 400V + Charger Internal
SPKLU 400V → menyediakan tegangan DC sekitar 400V untuk fast charging
Mobil punya charger internal atau BMS → menyesuaikan arus dan tegangan sesuai baterai

👉 Secara teori:

Mobil 400V → bisa langsung pakai penuh
Mobil 72V → harus turunkan voltase di internal charger → aman tapi ngecas lebih lambat dibanding mobil high-voltage
2️⃣ Kelebihan
Lebih aman dibanding 800V (risiko percikan lebih rendah)
Komponen stasiun lebih murah → kabel, switch, proteksi
Cocok untuk mayoritas EV modern saat ini (baterai 300–400V)
3️⃣ Kekurangan / Limitasi
Mobil dengan baterai lebih kecil (72V):
Bisa ngecas, tapi tidak fast charging optimal karena tegangan input lebih tinggi dari kebutuhan
Arus turunkan → daya maksimal lebih rendah → charging lebih lambat
Mobil dengan baterai lebih tinggi (600–800V):
Tidak bisa langsung pakai SPKLU 400V → harus ada converter internal yang mampu menaikkan tegangan → tambah biaya & kompleksitas
4️⃣ Kenapa SPKLU biasanya tidak “cukup satu tegangan untuk semua”
EV beda tegangan baterai & protokol
Fast charging aman butuh tegangan & arus sesuai spesifikasi mobil
Jadi stasiun biasanya:
400V–500V → aman untuk mayoritas EV
800V → hanya untuk high-end EV tertentu (misal Porsche Taycan, Tesla Model 3 Performance)
🔑 Kesimpulan
SPKLU 400V cukup untuk sebagian besar EV
Mobil punya charger internal → bisa menyesuaikan sendiri → aman
Limitasi:
EV tegangan rendah → ngecas lebih lambat
EV tegangan tinggi → butuh converter internal → tidak optimal

Kalau mau, aku bisa buat diagram “SPKLU 400V vs charger internal mobil tegangan rendah & tinggi”, biar kelihatan kenapa 400V cukup aman tapi ada limitasi ⚡.

Apakah mau aku buatkan diagramnya?


ooo brarti intinya semua colokan pln indonesia 220 volt, tapi khusus vivast jadi 400 volt ?

Ya, inti konsepnya memang begini, tapi mari kita luruskan supaya jelas ⚡:

1️⃣ Colokan PLN di rumah → 220V AC
Semua rumah di Indonesia pakai 220V AC
Ini arus bolak-balik (AC), belum bisa langsung masuk ke baterai EV
Charger (baik di rumah maupun stasiun) akan mengubah 220V AC → DC sesuai kebutuhan baterai
2️⃣ Untuk VinFast & SPKLU
SPKLU VinFast fast charging menyediakan 400V DC (atau lebih tinggi, tergantung stasiun)
Ini DC, siap masuk ke baterai mobil VinFast → ngecas lebih cepat
Mobil tetap punya charger internal / BMS → menyesuaikan arus masuk ke baterai
3️⃣ Perbedaan konsep
Tempat Tegangan & Tipe Catatan
Rumah 220V AC Bisa ngecas lambat via charger mobil internal
SPKLU VinFast 400V DC (fast charging) Tegangan sudah diubah & aman untuk fast charging, BMS mobil mengatur arus
SPKLU universal (ideal) Bisa multi-volt DC Lebih kompleks, harus dukung protokol BMS semua merk
🔑 Ringkasnya
PLN tetap 220V AC → sumber listrik umum
Charger VinFast → ubah 220V AC → 400V DC → cocok untuk baterai VinFast
Mobil punya BMS/charger internal → menyesuaikan arus & tegangan supaya aman
Jadi, colokan PLN sama, tapi stasiun fast charging VinFast spesifik 400V DC

Kalau mau, aku bisa buat diagram alur: 220V AC PLN → charger → 400V DC VinFast → baterai biar visualnya lebih mudah dipahami ⚡.

Apakah mau aku buatkan diagramnya?


kenapa tidak semua baterai voltnya 220 volt agar lebih cepat ngisi, tidak perlu convert, kan pln 220 juga

Ah, ini pertanyaan yang banyak orang kepikiran, dan jawabannya tidak sesederhana “samakan baterai dengan PLN 220V”. Ada beberapa alasan teknis dan keamanan kenapa baterai EV tidak dibuat 220V langsung:

1️⃣ Arus tinggi vs tegangan tinggi

Rumus daya listrik:

𝑃
=
𝑉
×
𝐼
P=V×I
Kalau baterai dibuat 220V, untuk dapat daya 3 kW (charging lambat di rumah):
Arus
𝐼
=
𝑃
/
𝑉
=
3000
/
220

13.6
𝐴
I=P/V=3000/220≈13.6A → masih aman
Tapi untuk fast charging 50 kW:
Arus
𝐼
=
50
,
000
/
220

227
𝐴
I=50,000/220≈227A → sangat besar!
Kabel, konektor, dan switch → harus tebal dan super mahal

⚡ Jadi baterai tegangan rendah = aman tapi arus tinggi untuk fast charging → tidak praktis

2️⃣ Keselamatan
Tegangan 220V DC sangat berbahaya bagi manusia
Bisa menyebabkan sengatan listrik serius atau kematian
Tegangan tinggi pada EV biasanya DC 400–800V, tapi arus lebih rendah → daya sama, tapi lebih aman untuk fast charging
3️⃣ Efisiensi & ukuran kabel
Arus besar = resistansi kabel lebih terasa → panas, rugi daya
Tegangan tinggi = arus lebih kecil untuk daya sama → kabel lebih tipis, lebih ringan, lebih murah
Ini alasan EV modern pakai 400V–800V
4️⃣ Kesimpulan
Tegangan baterai = kompromi antara:
Keamanan manusia
Ukuran & biaya kabel
Kecepatan ngecas (arus)
Membuat baterai 220V tidak mempercepat charging secara praktis karena arus yang dibutuhkan akan sangat besar untuk fast charging
🔑 Analogi simpel
Voltase = “tekanan air”
Arus = “jumlah air per detik”
Mau isi ember besar cepat:
Bisa pakai tekanan tinggi (volt tinggi, arus rendah → aman & efisien)
Kalau pakai tekanan rendah (220V) → aliran air harus sangat besar → selang dan kran harus super tebal → tidak praktis

Kalau mau, aku bisa buat diagram perbandingan arus & voltase untuk rumah 220V vs fast charging 400V, biar kelihatan kenapa baterai EV tidak 220V langsung ⚡.

Apakah mau aku buatkan diagramnya?


baterai alva n3 3,3kwh tapi ada dua mode cas lambat dan boost, apa bedanya? kenapa bisa tidak rusak?

Ah, ini kasus klasik baterai EV kecil dengan dua mode charging ⚡. Mari kita uraikan dengan jelas:

1️⃣ Spesifikasi baterai
Alva N3 → baterai 3,3 kWh
Ada dua mode charging:
Cas Lambat (Normal) → arus lebih kecil
Boost (Cepat / Fast) → arus lebih besar
Tegangan baterai tetap sama (misal 48–60V), yang berubah hanyalah arus masuk (A) → daya (Watt) berbeda
2️⃣ Perbedaan Mode
Mode Arus Daya Waktu Cas Efek ke baterai
Lambat rendah ±300–500W ±6–8 jam Aman, minim panas
Boost tinggi ±1000–1200W ±2–3 jam Aman karena diatur BMS
🔑 Kunci agar tidak rusak
BMS (Battery Management System):
Mengatur arus maksimal masuk → tidak melebihi limit baterai
Memantau suhu → jika panas, turunkan arus atau hentikan charging
Mengatur profil pengisian: tegangan naik perlahan saat mendekati full
Mode Boost bukan berarti sembarangan “dikasih arus tinggi” → BMS memastikan arus & suhu tetap aman
3️⃣ Mengapa bisa aman?
Baterai modern lithium-ion mampu handling arus tinggi untuk waktu terbatas
Proteksi BMS:
Overcurrent cut-off
Overheat cut-off
Overvoltage cut-off
Desain internal baterai sudah mempertimbangkan fast charge kecil (3,3 kWh kecil → lebih toleran dibanding EV besar)
🔑 Ringkasan
Cas Lambat → nyaman untuk malam hari, arus kecil, baterai awet
Boost → lebih cepat tapi tetap aman karena BMS mengatur arus, tegangan, dan suhu
Mode Boost tidak merusak karena baterai dan BMS memang didesain untuk itu

Kalau mau, aku bisa buat diagram visual mode lambat vs boost, lengkap dengan arus, daya, dan waktu cas, supaya kelihatan kenapa baterai aman ⚡.

Apakah mau aku buatkan diagramnya?


apakah di satu colokan yang sama alva n3 bisa dua mode cas?

Ya, bisa, dan inilah prinsipnya ⚡.

1️⃣ Sumber listrik tetap sama
Colokan rumah → 220V AC
Baterai Alva N3 → tetap pakai tegangan input sama dari colokan
Yang berbeda hanyalah cara charger mengatur arus
2️⃣ Cara charger mengubah mode
Mode Arus masuk Daya Waktu cas
Lambat rendah ±300–500 W ±6–8 jam
Boost tinggi ±1000–1200 W ±2–3 jam
Charger internal punya setting untuk memilih mode
Mode lambat → charger membatasi arus → lebih aman & hemat listrik malam hari
Mode boost → charger melepas arus maksimal sesuai batas BMS → cepat
3️⃣ Kenapa tetap aman di satu colokan
Colokan sama → hanya menyalurkan listrik AC
Charger yang mengatur arus → menyesuaikan dengan baterai
Tidak perlu ganti colokan, kabel, atau tegangan
🔑 Ringkasnya
Satu colokan 220V AC cukup untuk dua mode
Mode lambat/boost diatur oleh charger, bukan colokan
BMS baterai menjaga agar arus & suhu tetap aman, jadi baterai tidak rusak

Kalau mau, aku bisa buatkan diagram Alur Cas Lambat vs Boost Alva N3 di satu colokan, biar kelihatan visual perbedaan arus dan waktu ⚡.

Apakah mau aku buatkan diagramnya?


yang satu cepat yg satu cas lambat, apa bedanya?

Oke, kita luruskan dengan jelas dan sederhana ⚡

1️⃣ Perbedaan utama: arus masuk ke baterai
Mode Arus (Ampere) Daya (Watt) Waktu Cas Efek ke baterai
Lambat (Normal) rendah ±300–500 W ±6–8 jam Minim panas, lebih awet
Cepat (Boost) tinggi ±1000–1200 W ±2–3 jam Aman karena BMS membatasi arus & suhu
Tegangan baterai tetap sama
Yang berubah hanyalah seberapa besar arus yang masuk
2️⃣ Cara kerjanya
Charger internal membaca mode yang dipilih
Mode lambat → charger membatasi arus kecil
Mode cepat → charger melepas arus maksimal yang masih aman menurut BMS
BMS: memantau suhu, tegangan, dan arus → mencegah kerusakan
3️⃣ Intinya
Mode lambat = aman, hemat panas, cocok untuk ngecas malam hari
Mode cepat = lebih cepat penuh, tapi tetap aman karena dikontrol BMS
Kedua mode bisa pakai colokan sama karena charger internal yang mengatur arus

Kalau mau, aku bisa buat diagram visual arus & daya mode lambat vs boost, biar kelihatan kenapa baterai aman dan waktu ngecas berbeda ⚡.

Apakah mau aku buatkan diagramnya?


kalau baterai rusak itu apakah bisa diganti cell yang rusak?

Bisa, tapi ada beberapa catatan penting ⚡. Mari kita bedah:

1️⃣ Struktur baterai EV
Baterai seperti Alva N3 3,3 kWh terdiri dari beberapa cell lithium-ion yang disusun seri & paralel
BMS (Battery Management System) mengontrol semua cell agar:
Tegangan masing-masing cell seimbang
Arus masuk/keluar aman
Temperatur tetap stabil
2️⃣ Mengganti cell tunggal → secara teori
Jika hanya satu cell rusak, bisa diganti cell yang rusak saja
Tapi harus memastikan keseragaman cell:
Tegangan dan kapasitas sama dengan cell lain
Internal resistance mirip agar BMS tetap stabil
3️⃣ Kendala praktis
Baterai EV modern biasanya disegel rapat, bukan modular untuk ganti cell cepat
Mengganti cell satu-satu butuh teknisi ahli karena:
Risiko korsleting / kebakaran
Harus balance ulang semua cell → BMS harus dikalibrasi ulang
Untuk baterai kecil (Alva N3), kadang lebih murah mengganti satu modul baterai lengkap daripada satu cell
4️⃣ Ringkasan
Secara teknis bisa, tapi tidak praktis untuk pengguna biasa
Risiko tinggi jika tidak ahli → korsleting, overheat, baterai rusak permanen
Opsi umum: ganti modul/baterai lengkap → lebih aman & kompatibel dengan BMS

Kalau mau, aku bisa buatkan diagram struktur baterai EV + cell + BMS, dan tunjukkan mana bagian yang bisa diganti dan risikonya, biar lebih jelas ⚡.

Apakah mau aku buatkan diagramnya?


baterai rusak itu apa bisa didaur ulang?

Iya, baterai EV bisa didaur ulang, tapi prosesnya tidak sederhana ⚡. Mari kita uraikan dengan detail:

1️⃣ Mengapa baterai EV perlu didaur ulang
Baterai lithium-ion mengandung logam berharga seperti:
Lithium (Li)
Kobalt (Co)
Nikel (Ni)
Mangan (Mn)
Jika dibuang sembarangan → bahaya lingkungan dan bahan berharga terbuang
2️⃣ Proses daur ulang baterai EV

Ada beberapa tahap utama:

Tahap Penjelasan
Pengumpulan & pemeriksaan Baterai rusak dikumpulkan, diperiksa kondisi, dipisahkan yang masih bisa dipakai
Pembongkaran / disassembly Modul dan cell dibongkar secara hati-hati
Pemulihan bahan aktif Lithium, kobalt, nikel, tembaga dipisahkan melalui proses kimia atau peleburan
Pembuatan bahan baru Logam yang diambil bisa dibuat menjadi cell baterai baru atau produk lain
3️⃣ Metode populer
Hydrometallurgy → larutkan logam dengan cairan kimia, lalu dipisahkan
Pyrometallurgy → lebur baterai untuk ambil logam
Direct recycling → ambil material aktif langsung, bisa lebih hemat energi dan kualitas lebih tinggi
4️⃣ Kenapa baterai EV bisa aman didaur ulang
BMS dan casing baterai dilepas dulu
Selama proses, arus listrik sudah diputus → aman dari percikan atau ledakan
Logam dipisahkan, residu kimia diolah → ramah lingkungan
5️⃣ Ringkasan
Baterai EV rusak bisa didaur ulang → ambil logam berharga & hemat sumber daya
Prosesnya kompleks, butuh fasilitas khusus
Tidak bisa dibuang sembarangan karena berbahaya bagi lingkungan

Kalau mau, aku bisa buat diagram alur daur ulang baterai EV dari cell → logam → bahan baru, biar gampang dipahami ⚡.

Apakah mau aku buatkan diagramnya?
apakah ngecas di rumah lebih murah tarifnya dibandingkan ngecas di rest area?

Iya, biasanya ngecas di rumah lebih murah dibandingkan di SPKLU atau rest area, tapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ⚡:

1️⃣ Tarif listrik rumah
Rumah di Indonesia pakai PLN 220V AC, tarif listrik tergantung golongan rumah tangga (R1, R2, dst.)
Contoh R1 1300 VA → tarif rata-rata ± Rp1.500–1.700 per kWh
Jadi ngecas baterai 3,3 kWh → biaya ± 3,3 × 1.600 ≈ Rp5.280 per full charge
2️⃣ Tarif SPKLU / rest area
Stasiun pengisian cepat biasanya mengenakan tarif per kWh lebih tinggi, karena:
Infrastruktur mahal → kabel, converter, proteksi
Fast charging → arus besar, tegangan tinggi → perawatan lebih mahal
Bisa ± Rp3.500–7.000 per kWh tergantung operator
3️⃣ Ringkasnya
Ngecas di rumah = lebih murah, tapi lebih lambat (AC charging)
Ngecas di rest area/SPKLU = lebih cepat (fast charging), tapi lebih mahal

Kalau mau, aku bisa buat tabel perbandingan biaya & waktu cas rumah vs SPKLU untuk Alva N3 3,3 kWh, supaya lebih jelas ⚡.

Apakah mau aku buatkan tabelnya?
apakah vinvast bisa ngecas di rumah?

Ya, VinFast bisa ngecas di rumah, tapi ada beberapa hal penting yang perlu dipahami ⚡:

1️⃣ Sumber listrik rumah
Rumah di Indonesia → PLN 220V AC
Charger VinFast yang dipasang di rumah → mengubah AC 220V → DC sesuai baterai mobil
Bisa pakai charging lambat (AC charging)
2️⃣ Kecepatan ngecas
Tempat Tegangan & Arus Waktu cas
Rumah 220V AC (lambat) ±6–8 jam (tergantung kapasitas baterai)
SPKLU VinFast 400V DC (fast charging) ±30–60 menit
Kesimpulan: di rumah → lebih murah, lebih lambat; di SPKLU → cepat, lebih mahal
3️⃣ Keamanan
Charger rumah & BMS VinFast → mengatur arus masuk ke baterai
Aman untuk baterai, tidak perlu takut overvoltage atau kerusakan

Jadi intinya: VinFast bisa ngecas di rumah dengan charger khusus, tapi waktu cas lebih lama dibanding SPKLU.

Jika mau, aku bisa buat diagram alur: PLN 220V → charger rumah → baterai VinFast, biar lebih mudah dipahami ⚡.

Apakah mau aku buatkan diagramnya?

Read More...

Sunday, December 8, 2024

Alur Bayar Pajak Motor Lima Tahunan di Samsat Tahun 2024


Selamat sore semuanya, kali ini saya akan update lagi proses alur pembayaran pajak motor 5 tahunan untuk motor yang berdomisili di luar daerah plat motor. Ceritanya kita sekarang sudah mendapatkan lembar hasil cek fisk bantuan 1, dari Samsat perantauan, nah kali ini kita akan langsung proses di Samsat daerah. Jadi di daerah asal hanya perlu membawa surat hasil cek fisik bantuannnya saja, tidak perlu membawa motor yang bila dikirim bisa menghabiskan Rp.700.000 sekali pengiriman.


Berkas yang dibawa yaitu
BPKP
STNK
SIM


Samsat buka mulai pukul 08:00 WIB, namun ternyata sudah ada antrian sebelum jam 8, pertama-tama kita pergi ke

Loket Fotocopy
Menyerahkan
STNK
KTP
BPKP
berkas disusun sesuai urutan, jadi kita tinggal terima beres saja.
Bayar Rp.5000,-

Loket Legalisir
menyerahkan kertas hasil cek fisik bantuan1

Loket Satpam
disini sekaligus mendapatkan nomor antrian, datang jam 08:05 ternyata sudah antri nomor B09.

Loket PMI
Menyumbang PMI Rp.3000,-

Masuk Gedung
Memasukkan berkas ke loket pendaftaran, disini ada dua loket yang dibedakan berdasarkan kode nomor antrian, keranjang hijau untuk kode antrian A dan B, keranjang merah untuk kode antrian C dan D. Disini bisa langsung dimasukkan berkasnya, karena sudah ada nomor antriannya, jadinya tidak perlu sengaja menaruh berkas di posisi paling bawah atau paling atas dengan harapan didahulukan petugasnya, karena hal itu tidak akan berpengaruh, karena sudah ada nomor antriannya.

Menunggu panggilan kurang lebih 15 menit an.

Bayar pajak di kasir, Rp.290.000,-

Menunggu lagi dipanggil loket II, kalau menunggu yang ini agak lama karena disini sedang menunggu STNK dan lembar SWDKLLJnya jadi

akhirnya dipanggil mendapatkan STNK dan lembar Pajak SWDKLLJ


Menuju loket pengambilan plat
menyerahkan STNK dan lembar SWLDJJP
tidak terllau lama akhirnya plat motor berhasil jadi, saat ini plat kendaraan sudah berwarna putih, agar mudah terlihat di CCTV.

Total waktu kurang lebih 50 menit saja

1https://myspacenote.blogspot.com/2023/12/alur-cek-fisik-bantuan-part-2-samsat.html
Read More...

Friday, March 29, 2024

Pasang Latex di Jok Motor Supra 125


Beberapa waktu yang lalu saya melakukan perjalanan kurang lebih 25 kilometer, perjalanan memakan waktu kurang lebih 1 jam dengan kondisi macet. Sebagai pemakai Supra 125 selama kurang lebih 10 tahun, bisa dibilang ergonomi Supra 125 ini tergolong unik, bokong terasa lebih cepat panas ketika jalanan macet dibandingkan saat jalan lancar, dengan waktu tempuh yang sama, entah apa penyebabnya, mungkin pada posisi jalan lancar, sirkulasi udara lebih lancar karena saya juga memakai jaring jok, atau mungkin ada faktor lain yang belum diketahui, kurang tahu juga. Akhirnya saya mencari tahu pilihan berikut ini, untuk mengatasinya.

Memakai bantal hydro pad
Alternatif pertama adalah memakai bantal hydro pad berisi air,

sumber gambar3
Kekurangan memakai bantal hydro pad
informasi dari youtube, kekurangannya yaitu ketika terkena panas matahari, maka bantal akan ikut panas, lama dinginnya,
posisi lebih tinggi/jinjit
dan posisi riding menjadi lebih tinggi, kemungkinan harus jinjit,
luas terbatas
selain itu manfaatnya hanya terbatas buat pengendaranya saja, penumpang tidak mendapat.

isi terkadang bukan air beneran
saya pernah membeli satu hydropad, namun ternyata isinya bukan air, namun hanya kapas, tidak sesuai namanya, jadinya malah sama saja seperti jok biasa berlapis kulit sintetis yang terasa panas. Bagaimana membedakannya? Jika kalian membelinya, tinggal diperhatikan baik-baik pada gambarny apakah ada semacam jahitan, bila ada jahitan, maka kemungkinan besar isinya hanya kapas, karena jika ada jahitan, logikanya air akan rembes.

Kelebihan memakai hdydro pad
Setelah tadi membahas kekurangannya, kelebihannya yaitu biayanya lebih murah.
kedua, mudah dipasang
ketiga, bisa dipasang untuk keperluan lain, misalnya saat lesehan di rumah
itula kekurangan dan kelebihan memakai hydropad

Memakai bantal motor jaring

sumber gambar2
Kekurangannya
Alternatif kedua adalah memakai bantal motor yang bentuknya seperti jaring-jaring

Kekurangan
belum banyak reviu youtube, jadi masih diragukan fungsinya, terlihat tidak ada sirkulasi udara masuk dari depan, karena posisi lubangnya vertikal, kemungkinan besar ya kurang maksimal.

Kelebihannya,
mudah dipasang, relatif murah juga


Akhirnya dipilih alternatif ketiga, yaitu memakai lapisan latex,
Memakai lapisan latex

kekurangannya
harganya lebih mahal,

Kelebihan
bisa diaplikasikan secara lebih luas, jadi bukan hanya dirasakan pengendara, tapi juga penumpang.
Melihat reviu ojek online yang memakai latex di layer tengah, meyakinkan saya untuk memakai ini, dalam reviu tersebut, ojol menambahkan latex di layer tengah, diapit layer busa di atas dan bawahnya.

namun saya kali ini hanya memasangnya di layer atas, dan mencobanya apakah tetap panas atau bisa dingin.
Pemasangan saya lakukan di bengkel latip4

Reviu pemasangan lapisan latex

Harga
Latex dengan ketebalan 2,5 cm harga 200K
Ongkos pemasangan 40K, dengan penutup masih memakai sarung jok yang lama

Langkah pengerjaan,
Pertama-tama jok yang lama dibongkar dulu, terlihat cekatan sekali abang dalam membongkar staples, mengggunakan obeng dan tang. cetak cetek cetak cetek, karena sudah terbiasa.

setelah dibongkar, busa bawaan ternyata perlu dikepras sedikit agar tidak terlalu tinggi,


selanjutnya latex diletakkan di atas jok tadi, lalu disesuaikan ukurannya dengan cara dipotong menggunakan gergaji besi, pemotongan dilakukan seadanya, belum dilakukan pemotongan secara presisi.

selanjutnya memberi lem di permukaan latex dan di permukaan busa jok bawaan yang sudah dikepras tadi, entah lem apa yang dipakai, karena hanya dimasukkan ke dalam botol bekas akua saja, cairan lem berwarna oranye seperti sirup, sehingga perlu diratakan menggunakan plastik, seperti meratakan selai di permukaan roti.

didiamkan kurang lebih 15 menit, sambil abangnya mengerjakan pesanan yang lain

setelah itu, jok dan latex tadi baru disatukan, lapisan latex kali ini ditaruh di posisi paling atas

latex kemudian dipotong lagi, kali ini dipotong dengan lebih presisi, dan diparut di bagian pinggir untuk menyesuaikan kemiringannya mengikuti bentuk bawaan jok.

Selanjutnya pemasangan Lapisan luar, memakai kulit jok yang lama, masih bisa dipakai, namun efeknya harus sedikit lebih ditarik mengingat luasnya lebih sempit.

Memakai alat pistol angin staples otomatis, jadinya tidak perlu tenaga, sesekali terdengar alat kompresornya menyala sendiri melakukan pengisian udara dengan tenaga listrik.

Impresi pemakaian:
Dibandingkan jok bawaan motor, tentu saja lebih empuk, namun untuk perjalanan jauh, saya belum berkesempatan mencobanya, jadi bila nanti sudah ada kesempatan, akan saya tulis impresinya disini.

Referensi
1https://myspacenote.blogspot.com/2024/02/melihat-alun-alun-karawang-dari-dekat.html
2https://www.blibli.com/p/3d-antivibration-cushion-pad-omextra-bantal-motor-sarung-jok-motor-mat/ps--BES-70688-04168
3https://www.tokopedia.com/rndautomotive/bantal-jok-motor-air-hydropad-untuk-semua-motor
4https://maps.app.goo.gl/hKw2nyD86LjJAsG39
Read More...

Saturday, December 2, 2023

Alur Cek Fisik Bantuan Part 2 Samsat Jakarta Timur


Selamat pagi semuanya, kali ini saya akan cerita lagi mengenai alur cek fisik bantuan di Samsat Jakarta Timur dalam rangka bayar pajak motor 5 tahunan, kenapa disebut bantuan? ya karena memang buat membantu saja kendaraan yang akan bayar pajak 5 tahunan, namun berada di luar kota plat asli, sebelumnya saya juga pernah melakukan cek fisik bantuan di tahun 2019 yang lalu1, namun ternyata sekarang alurnya sedikit berbeda ya, silahkan baca saja tulisan di bawah ini.


Lokasi Samsat
Pertama-tama lokasi samsat bisa bertanya pada orang di pinggir jalan atau mencarinya di google

Alur
Ambil tiket parkir
ambil tiket parkir di pintu masuk, dengan cara menutup sensornya agar kertas parkirnya keluar, terpantau harga parkir motor satu jam pertama Rp.4000,-, jam berikutnya Rp.2000,-, (hehe sebagai perbandingan ke depan.)

Menuju lokasi cek fisik bantuan motor
Langsung saja arahkan motor ke bagian belakang gedung, ikuti saja tulisan "cek fisik", nanti ketemu antrian motor yang banyak sekali.

Antri
saya datang sekitar jam 8 an, ternyata sudah banyak yang mengantri, antrian dibagi menjadi 4 lajur, kemudian menyempit menjadi 3 lajur, kemudian sampai di ujung menjadi 4 lajur lagi.


Cek Fisik
selesai antri kurang lebih 15 menit, sampailah kita pada petugas gosok rangka mesin, saat itu Petugas gosok yang melayani berjumlah 2 orang, melayani 2 lajur kir kanan bergantian, karena memang cara itulah cara tercepat, karena kalau satu lajur harus masih harus menunggu motor siap.
hari masih pagi, namun keringat kedua petugas bercucuran deras, menandakan pekerjaannya ternyata tidak sesimpel kelihatannya ya haha, hanya gosok rangka, namun ternyata harus menjangkau kolong motor, jadinya membutuhkan fisik yang kuat, ok back to the laptop,

Begitu sampai, saya langsung sampaikan keperluan, yaitu untuk cek fisik bantuan, petugas langsung sat set mengambil kertas, lalu ditempel di mesin, menggosok rangka motor tanpa bertanya di sebelah mana, karena sudah hapal.

. Terpantau untuk motor matic digosok di bagian jok dan satu lagi di bagian dekat roda depan, sedangkan motor saya, motor supra 125 DD, digosok dua kali juga, satu di bagian bawah mesin, satu lagi di bagian dekat roda depan,
selesai gosok, kertas tersebut dilekatkan pada selembar formulir dan diserahkan kepada kita.

Mendapatkan formulir
selesai cek fisik, kita akan dapat formulir semacam berita acara pengesahan cek fisik, motor kita bawa maju lagi.


Parkir motor
Kita parkir dulu di parkiran motor, lalu dilanjutkan ke gedung pengesahan.

Update Desember 2024
Setelah parkir, kita mengisi secara mandiri data-data pada lembar ini tadi menggunakan ballpoint, jadi lebih baik siapkan ballpoint saat ke sana, atau bisa membeli di ibu2 penjaja ballpoint di sana.

Pengesahan Formulir
disini kita serahkan STNK dan formulir Berita acara cek fisik tadi, lalu menunggu giliran dipanggil nama.
bedanya dengan yang dulu1 ternyata kali ni saya tidak diminta memfoto kendaraan kita seperti dulu1, namun langsung diminta menunggu di ruang tunggu.

Menunggu panggilan
Menunggu di samping kurang lebih 15 menitan




Selesai
Begitu dipanggil, kita akan menerima STNK dan formulir tadi yang sudah disahkan.

kalau plat B bisa dilanjutka menuju gedung utama lantai 4 untuk motor, dan lantai 2 untuk mobil, sedangkan untuk plat luar jakarta seperti saya dilanjutkan dengan membawa formulir ini ke Samsat kota plat asal.




1https://myspacenote.blogspot.com/2019/10/alur-cek-fisik-bantuan-motor-samsat.html
Read More...

Saturday, May 29, 2021

Langkah Perpanjangan SIM Online

Berikut ini tata cara perpanjangan sim online, cara ini belum pernah saya coba, silahkan yang sudah mencoba, komentar saja di kolom komentar bagaimana caranya dan kelancarannya
Langkah perpanjang SIM A dan SIM C online melalui HP via aplikasi SINAR:
1. Download aplikasi SINAR (Digital Korlantas POLRI) melalui playstore/appstore
2. Verifikasi No. HP (menggunakan kode OTP)
3. Verifikasi E-KTP dan SIM
4. Pilih menu SIM dan Perpanjangan SIM
Syarat :
- Foto fisik E-KTP
- Foto fisik SIM
- Foto tanda tangan diatas kertas putih
- Pas foto (latar biru, 480x640 pixel)
- Melakukan pengecekan kesehatan melalui aplikasi erikkes.id dan tes psikologi pada aplikasi epPsi
5. Registrasi Identitas dan unggah dokumen persyaratan
6. Melengkapi dan Verifikasi hasil cek kesehatan dan tes psikologi
7. Pilih lokasi SATPAS
8. Pengisian data rekening pengembalian (dalam hal dilakukan pembatalan atau persyaratan tidak memenuhi maka biaya yang telah dibayarkan akan dikembalikan)
9. Pilih metode pengiriman (via pos, gosend, pengambilan sendiri)
10. Konfirmasi Data dan Rincian Biaya (PNBP SIM, biaya layanan, dan biaya pengiriman)
11. Melakukan pembayaran dengan memilih metode pembayaran yang tersedia, invoice dan tata cara pembayaran akan dikirimkan melalui e-mail
12. Setelah pembayaran berhasil, proses pelayanan dapat dilihat melalui menu Transaksi .
Read More...

Friday, August 28, 2020

Mengatur Posisi Stir Mobil yang Nyaman Sebelum Mengemudi

Banyak artikel mengatur posisi setir mobil untuk seorang driver agar nyaman, namun setelah ditelusuri hanya berkutat tentang tombol-tombol dan tuas tuas yang perlu disentuh atau ditarik, dan disesuaikan dengan selera, nah selera ini yang bagaimana, tentu hal ini sangat subjektif sekali kalau demikiian, bisa saja menurut si A ini adalah posisi yang enak, padahal itu salah, kali ini saya tulis salah satu cara mengatur posisi kursi yang bisa kalian pakai agar posisi stir kalian lebih nyaman dan tidak membuat pegal saat mengemudi, cara ini berlaku untuk berbagai kendaraan baik itu multi purpose vehicle maupun mobil yang lain.

OK langsung saja untuk mengatur posisi duduk yang tepat dan nyaman, pegang kemudi pada jam 12, lalu sambil memegang, atur posisi duduk geser ke depan dan belakang, agar tangan kita pas lurus tidak menekuk saat memegang kemudi di jam 12. jadi kalau posisi tangan kita masih nekuk, berarti kursi kurang ke belakang, gampang kan? Mengenai masalah pandangan, kalian akan menyesuaikan sendiri. Langkah selanjutnya kalian tinggal jalan dengan posisi tangan di jam 9 dan jam 3 atau 2.
Read More...

Saturday, November 2, 2019

Pajak Motor 5 Tahunan Part II

Helo kali ini adalah cerita part dua meneruskan cerita part satu yaitu alur bantuan cek fisik, part dua ini akan bercerita alur bayar pajak motor lima tahunan di kota asal motor.



Loket Informasi
Pagi-pagi datang, bingung mau kemana dulu, ada berbagai macam loket, ada kantin juga diasitu, dan juga tempat fotocopyan,dan juga ada meja informasi, bagi yang belum pernah sama sekali bisa langsung mencari info di meja informasi,akhirnya saya nyerah daripada nebak-nebak, langsung menuju bagian informasi, ternyata harus fotocopy dulu berkas-berkasnya, mulai dari BPKB, STNK, dan KTP,

Tempat fotocopy
langsung menuju tempat fotocoy, antri kurang lebih 5 orang, selanjutnya sama tukang fotocopyannya, diarahkan menuju bagian formulir,

Tempat formulir
di tempat dengan nama formulir ini si Pak Polisinya ternyata mengambil map berkas saya yang tersimpan di situ, dan menyerahkannya pada saya, di map berkas itu ada berbagai macam dokumen yang dulu-dulu pernah ngurus lima tahun yang lalu. selesai dari sini menuju loket di dalam paling kiri

Tempat loket pendaftar
sampai di loket berkas saya bilang mau pajak 5 tahunan, lalu menyerahkan map berikut formulir hasil bantuan cek fisik dari Jakarta Timur tadi, ternyata sama Bapaknya diminta pengesahan formulir bantuan cek fisik tadi di luar, kemudian balik lagi ke luar buat pengesahan,

Loket pengesahan
di tempat pengesahan tidak terlalu banyak antrian, hanya antri satu orang, Pak Polisinya langsung minta cek fisik, namun saya jawab sudah ada Pak, ternyata nyelip di dalam, lalu oleh Pak Polisinya, lembar bantuan saya tadi dicap sana sini, diberi tanda tangan, dicoret-coret dengan sangat cepat. selsesai dari sini, berkas dikembalikan, kembali ke loket pendaftar

Loket pendaftaran
menuju loket pendaftaran tadi, cuman bapaknya lagi di belakang, hanya ada adik-adik pkl yang belum tahu, lalu saya diminta menunggu nanti dipanggil, beberapa saat kemudian dipanggil, lalu beberapa saat kemudian oleh bapak mengambil berkas tadi dan saya diminta mengambil nomor antrian di meja informasi

Loket Informasi
disini diberikan nomor antrian langsung

Loket pembayaran
menunggu kurang lebih 15 menitan, kurang lebih 30 antrian lagi, dan tibalah giliran saya melakukan pembayaran, disini saya bayar cash, entah kalau pakai kartu bisa apa engga, selesai bayar, KTP dikembalikan, kemudian nunggu lagi dipanggil

Loket pendaftaran
kemudia petugas di loket pendaftaran memanggil nama, lalu menyerahkan STNK baru dan Bukti bayar pajak yang baru, ternyata pembayaran tadi juga sekalian pajak tahunan, petugas kemudian menginfokan agar segera menuju loket pengambilan plat di luar

Loket pengambilan plat
disini antrian cukup banyak, saya tanya orang yang antri di sana apa yang diserahkan, ternyata cukup STNK tadi plastiknya dibawa sendiri saja, lalu selesai menyerahkan nunggu kurang lebih 15 menitan, dipanggil nama lalu kita menerima STNK dan plat yang baru tadi dengan cat yang masih basah.

itulah sekelumit alur pembayaran pajak motor lima tahunan, untuk pajak tahunan lebih simpel, hanya perlu bawa STNK dan KTP asli, berikut ceritanya

Bayar pajak Tahunan
Loket antrian
Langsung menuju meja informasi untuk dilihat STNK dan KTP aslinya kemudian petugasnya memberikan nomor antrian

Loket Pendaftaran II
di loket pembayaran, langsung dipanggil nomor antrian kita tadi, kemudian STNK dan KTP tadi diperiksa lagi, KTP lalu dikembalikan, dan menunggu

Loket pembayaran
petugas loket pembayaran memanggil nama saya dan menyebutkan nominal uang pajak yang harus dibayar, pembayaran saya lakukan dengan cara manual, entah kalau pakai kartu bisa apa engga,
selesai bayar, dapet bukti bayar pajak yang baru.

Pendapat saya:
Alur pajak lima tahunan motor di atas masih manual, berbeda dengan pembayaran pajak tahunan yang sudah ada pilihan menggunakan sistem online, memang sistem manual ini memiliki sistem yang handal manakala mati lampu alias saat database tidak dapat teridentifikasi, karena dengan sistem manual data data yang dilihat adalah data kasat mata, dan sudah teridentifikasi secara langsung, tidak perlu melihat komputer yang memedihkan mata memandang. juga kelebihan sistem manual adalah memberikan kesabaran bagi petugas untuk selalu menjelaskan alur pendaftaran ke setiap orang yang datang.

namun
alangkah baiknya ke depannya dilengkapi dengan sistem online, sistem online ini bukan menggantikan sistem manual karena sistem manual menurut saya tidak bisa digantikan dengan sistem online, misalnya untuk meyakinkan petugas mengenai pemilik kendaraan, sudah sewajarnya petugas harus melihat BPKB asli, juga untuk meyakinkan identitas juga lebih nyaman melihat KTP secara langsung daripada melihat di komputer.

Read More...

Saturday, October 26, 2019

Alur Cek Fisik Bantuan Motor Samsat Jakarta Timur

Cek Fisik bantuan dapat dilakukan di samsat Jakarta Timur bila kendaraan berplat luar kota Jakarta yang ingin memperpanjang pajak 5 tahunan kendaraan bermotor, jadi kita tidak perlu membawa pulang kampung motor kita saat mengganti plat yang habis masa berlakunya selama lima tahun. Ini adalah pengalaman alur cek fisik bantuan di samsat Jakarta Timur

Lokasi Samsat berada di jalur jalan raya, sebaiknya dicari dulu di google map, lalu diingat-ingat posisinya, setelah siap, bawa motor menuju kesana, nyalakan lampu di siang hari, karena ada razia di jalan raya, lengkapi surat surat sim stnk, helm, jika sudah mau sampai, jalankan motor dengan pelan, kalau perlu tanya orang dimana samsat, jika sudah masuk, langsung saja masuk, muter ke arah cek fisik, tidak perlu kita parkir di tempat parkiran.

setelah ketemu antri dahulu, seperti ini

setelah menuju petugasnya mesin akan dicek nomor rangka dan nomor mesinnnya, petugas akan menggosok selembar kertas kecil pada nomor rangka, selesai gosok, kertas hasil gosok akan ditempelkan pada selembar kertas tebal, dan diserahkan kepada kita setelah itu kita akan diminta ke tempat berikutnya untuk foto dan legalisir, jalan sekitar 10 meter ke depan, antri, lalu bilang mau bantuan cek fisik, kertas tebal dan stnk tadi kita serahkan ke petugas, lalu kita akan diminta foto motor kita dengan posisi foto terlihat plat nomor,

selesai foto kita kembalikan foto tadi ke petugasnya, kita menunggu dipanggil, dipanggil nama kita kita akan dapat kertas tebal yang sudah dicap dan ditandatangan beserta stnk kita tadi, setelah itu selesai, dan kertas hasil cek fisik nanti kita bawa ke kota tempat asal motor.
itu tadi adalah part 1, part 2nya bisa baca di sini


Untuk cek fisik terbaru bisa mampir di https://myspacenote.blogspot.com/2023/12/alur-cek-fisik-bantuan-part-2-samsat.html



Read More...

Sunday, July 16, 2017

Download Mod UKTS Bus Legacy SR 2


Sebenarnya mod ini sudah lama dirilis ya, cuman baru nyobain baru saja, status mod ini boleh disebar kemana saja jadi bisa saya share disini, untuk mencari password jika kesulitan, silahkan googling saja, karena saya juga dapet jawabannya juga dari googling, ane kira makanan yang murah meriah itu krupuk hehe, ternyata bukan itu, googling aja pokoknya. Legacy SR 2 by Muhammad Nasir Convert by VP edit RB (ini yang tau kepanjangannya tolong coment di bawah ya gan hehe)

OK langsung saja saya bagikan linknya ya gan, link yang saya pakai adalah yang ini ukuran file sekitar 33 MB saja, baca petunjuknya, masukkan ke folder mod, kalau masih ada yang lupa cara cepat pakai mod bus ini tanpa harus pergi ke dealer bisa dibaca artikel ini,

Jika berhasil mod bus yang terpakai adalah seperti yang tampak pada gambar di atas, yaitu Bus Legacy SR versi 2 dengan livery Dewi Sri julukan Hanida


berikut ini adalah copasan readmenya

Ada Ikan Di Aquarium....
Assalamualaikum...

SHARE Mod Legacy SR2 MN Cvt VP Edit RB

Thank's For
-Allah SWT
-Orangtua
-Lepi
-PLN
-ZMod
-Bantal Guling
-Satrio BL (Sensei)
-Novan F
-DLL

>Ingat Mod Ini BerStatus Jomblo :v (Free) Soalnya Yg ngeditnya juga Jomblo :v
>Ingat Kalo mau Edit Harus Izin dulu :v Jangan Izinnya ke Orangtua :v
>Ingat Mod ini Mereplace Mercedes.actros.c :v
>Ingat Jangan memperjualkan Mod ini (Allah maha melihat Brayy :v)
>Ingat Hargai Karya Orang lain :v
>Ingat Kalo Kawan" Punya temen Perempuan yang masih nganggur boleh lah sedekahin ke ane :v (Efek kelamaan Jomblo -_-)

Mohon Maaf kalau ada kata" yang Kurang berkenan
Mohon Maaf kalo lawakannya Garing ^_^
Mohon Maaf Lahin Dan Batin

Contact :
Facebook : Rizky Fadhilah Iqbal
Youtube : Rizky Batavia (Subscribe)
: 2R

Dah Sekian nanti malah gak maen" gara" liat ginian wkwkwkwk :v

Wassalamualaikum Wr.Wb

Bekasi, 18 Maret 2017




(Rizky Fadhilah Iqbal)

Clue Password : Makanan Murah Tapi Nyampah :v
Read More...

Wednesday, July 12, 2017

Catatan Perjalanan Arus Balik 2017 Naik Motor Supra 125

Berikut ini saya catatkan perjalanan arus balik dengan menggunakan Motor Supra X 125 oleh kawan saya
KM 0 sekitar jam 05.30 WIB
Mulai berangkat

KM 84 07.11 WIB
Berhenti cari bensin 20 K Pertalite di daerah jalur lingkar Kaliwungu antara Mangkang Kendal, sekaligus istirahat kurang lebih 15 menit an

KM 218 09.42
Berhenti di Tegal, Isi bensin 20 K Premium plus istirahat setengah jam, Konsumsi BBM Kendal sampai Tegal 134 Kilometer memakai 20 Ribu Pertalite

KM 391 Jam 13.08 WIB
Berhenti di Indramayu, Isi bensin 20 Ribu Pertalite, Plus Istirahat dan Sholat kurang lebih 30 menit
Konsumsi BBM dari Tegal Brebes Cirebon, Indramayu, 20 ribu Premium untuk 173 kilometer

km 537 Jam 16.47 WIB
Alhamdulilah sampai di tujuan, Konsumsi BBM terakhir dari Indramayu Subang Cikampek Karawang Bekasi Jakarta 146 Kilometer, 20 Ribu pertalite, sampai sini bensin kosong dan hampir macet hehe




Read More...

Catatan Perjalanan Mudik 2017 Naik Motor Supra 125

Mudik naik motor masih menjadi pilihan transportasi bagi sebagian orang untuk menuju kampung halaman, karena dirasakan memiliki keunggulan dibandingkan moda transportasi lainnya, misalnya mudik naik motor memiliki fleksibilitas yang lebih tinggi, waktu yang lebih cepaT, tidak terikat dengan waktu, bisa menikmati pemandangan, dan juga tentu sangat membantu transportasi di tempat tinggal nantinya, namun ada juga yang memiliki pendapat lain, terlepas dari berbagai pendapat disini saya catatkan perjalanan mudik naik motor yang dilakukan oleh kawan saya dari Jakarta menuju Solo.

Berangkat dari Jakarta Timur pukul 05.09 pagi selepas Sholat Subuh

06.30 WIB
Kampas Jatuh
memang kampas jatuh ini terjadi diluar dugaan karena sebelum-sebelumnya tidak pernah ada masalah pada bagian ini, lokasi jatuh masih berada di Bekasi. Awalnya saat riding terdengar suara seperti logam berbenturan di jalan, saya pikir ini hanya karena logam yang terlindas oleh pengendara samping saya, ternyata setelah itu, rem kaki saya injak tidak ngerem, malah blong, ternyata yang tadi asalnya dari rem saya nih, akhirnya berhenti pelan-pelan memakai rem depan, dan mengecek kondisi rem belakang, dan benar ternyata kampas rem jatuh. Mau putar arah bermaksud mencari si kampas yang jatuh saya urungkan karena kondisi jalan yang ramai serta pasti nanti sulit mencari logam sekecil itu di tengah jalan raya selebar itu, juga pasti malah tambah macet ya.

Tukang Bengkel Bingung pasang kampas rem
Jalan pelan-pelan, sampailah saya di bengkel pinggir jalan.
dibantulah saya oleh tukang di bengkel tersebut, dan diganti dengan kampas yang baru, akhirnya si mas mas bengkel mencoba memasang lagi, namun terlihat mas-masnya kesulitan mensetting rem cakram belakang supra x 125, saya pun menyuruh mas-mas bengkel pokoknya pasang dulu nanti mampir bengkel berikutnya saja sambil jalan pelan pelan, berhenti di bengkel ini sampai dua jam, setelah membayar, perjalanan dilanjutkan. penyebabnya baca terus ada dibawah ya, baca terus.

Cari bengkel Resmi masih 5 kilo an
Berbekal smartphone yang ada aplikasi google mapnya, saya mencoba mencari bengkel resmi terdekat, ternyata masih sekitar 6 kilo di depan, okelah saya jalan pelan-pelan saja.
Jalan pelan pelan dengan kondisi kampas rem belakang masih kendor suka menghantam pusat velg, saya ga ambil gambar karena ga sempat, jalan pelan pelan dengan kecepatan maksimal 20 kmh

Ketemulah sama Bengkel resmi Honda dan ternyata penyebab mas bengkel tadi susah pasang kampas belakang, ternyata yang diambil adalah kampas rem depan, oalah pantesan bingung tadi ya, tapi gapapa lah, semoga jadi pelajaran bagi ane dan ente pembaca budiman sekalian. hehehe

Pasang di Bengkel resmi tanpa antri karena pas mekaniknya ada yang lagi ga ngerjaian apa-apa, pasang kampas baru, sedangkan kampas depan tadi saya simpan untuk persediaan. Sama sekalian setting rantai biar tidak terlalu kendor maupun tidak terlalu kencang.

Ngejoss lagi sampai Subang, isi pertalite 20 ribu pertama

Kampas rem hampir lepas lagi.
Sampai di Indramayu, rem belakang terasa ngeblong lagi, diinjak ga mau ngerem, tapi rem depan masih ok, saya mencoba berhenti di pinggir jalan, ngecek lagi rem belakang, ndilalah kampas belakang mau ucul lagi, waduh, padahal udah masuk bengkel resmi ya, alhasil nyari lagi bengkel resmi paka smartphone lagi, dan ketemu di depan, Jalan pelan-pelan masuklah saya ke bengkel resmi untuk yang kedua kalinya.

Masuk bengkel ketiga (jam 11 siang)
disini rem dibetulkan serta cek rantai lagi, setelah selesai saya cek lagi ban belakang apakah ada seret-seretnya selepas bongkar pasang rem tadi, ternyata lancar, ok perjalanan dilanjutkan

Waktu menunjukkan kurang lebih jam 11 siang menuju zuhur dan saya masih berkutat di Jawa Barat, masih berkutat di Indramayu memasuki Cirebon, Total waktu masuk ke bengkel kurang lebih 3 jam an, artinya jika perjalanan normal, posisi saya sudah masuk Brebes Tegal, tapi hal ini tidak menjadi masalah ya gan hehe.

Istirahat di brebes jam 2 siang

lanjut lagi

Istirahat di Jalur Pekalongan Batang sudah menunjukkan pukul 5 sore memasuki waktunya buka puasa.
Memasuki jalur Batang Subah cuaca diguyur hujan deras, jadi harus berhenti sejenak untuk memakai mantol, Sampai di Kota Kendal hujan reda, mantol saya lepas, Jalan Kota sudah macet lagi.

Semarang macet di Mangkang sampai kalibanteng, mobil pribadi berjejer sampai pinggir, bahkan sampai dilakukan contra flow arah timur, namun malah yang ikut contra flow jalannya lebih lambat karena arus kendaraan dari arah timur masih ramai.

Semarang Salatiga Boyolali Solo perjalanan lancar jaya
Berhenti dulu di Tuntang jam setengah sepuluh

Lanjut perjalanan sampai Solo kurang lebih jam sepuluh malam.

Total perjalanan Jakarta Solo kurang lebih 17 Jam (sudah termasuk Istirahat di bengkel 3 jam, Istirahat di Pom bensin dan rest area 2 jam)
Read More...

Monday, August 1, 2016

Balada rem cakram seret Part III

Kali ini ngalamin lagi yang namanya rem cakram motor seret untuk yang ketiga kalinya, pertama kali bisa dibaca disini, kedua disini. Kali ini sih awal mulanya gara-gara pas kejadian velg retak pas dibawa mudik kemaren, sampai rumah langsung ganti velg jari2, nah habis dipasang velg jari-jari ini peristiwa rem cakram seret mulai terjadi. Masalah ini memang gak semua bengkel bisa mengatasi, terbukti setelah saya ke bengkel a, b, belum bisa memperbaikinya, dengan catatan tanpa penggantian sparepart.

Akhirnya dibawa ke bengkel resminya, dibongkar kaliper remnya dibersihin sana sini, trus dipasang lagi eh tetep aja cakramnya seret. Katanya sih masalah pada cakram yang mungkin sudah bengkok. Karena budget belum mendukung, ganti sparepart cakram belum dilakukan.

Lanjut cerita saya beli velg supra ori di penjual kolong jembatan jatinegara seharga 330 ribu, tapi kondisinya masih bengkong, entah gimana riwayatnya bisa seperti itu, saya curiga ini bekas laka, namun entah mungkin juga karena melewati jalan yang ekstrim, sehingga bisa seperti itu. Di bagian pinggir terlihat bekas congkelan yang mungkin saja pas membongkar ban tidak memakai kain, sehingga besi beradu langsung dengan besi menghasilkan bekas-bekas seperti itu. Saya coba pasang di bengkel, ternyata cakram masih seret.

Stel velg racing ternyata ada juga bengkelnya

Kemudian saya ke bengkel press velg di daerah pasar minggu (yang pengen tau dimana letaknya, coba search aja di google map dengan kata kunci “Press velg motor jakarta” nanti ketemu di daerah stasiun pasar minggu disitu ada bengkel velg), disitu ternyata bukan velg jari-jari saja seperti tukang velg pada umumny, ternyata setelah saya nanya bisa juga menangani velg racing. Disitu velg disetel, dipasang pada dudukan, diputar-putar, setelah itu, diberi tanda dengan kapur, dicopot dari dudukan, dipukulah di bagian yang ditandati tersebut menggunakan palu khusus, bukan palu besi, bukan palu kayu, trus dipasang lagi pada dudukan, dicopot lagi, begitu seterusnya kurang lebih selama dua jam, sampai velg benar-benar lebih lurus. Belum sempat saya tanyakan apakah semua velg bisa diperbaiki seperti itu, mengingat untuk velg yang kw kan biasanaya tidak selentur velg ori. Sebelumnya saya coba datang ke bengkel press velg di jbb press saharjo, namun pas hari minggu datang jam 8 an masih tutup. Emang sekarang gampang ya cari bengkel yang diinginkan via google map. Selain stel velg cw, saya juga sekalian ganti cakram yang baru sesuai rekomendasi bengkel sebelumnya.

Akhirnya setelah ganti cakram yang baru di bengkel press pasar minggu, cakram gak seret lagi, jadi kesimpulannya kali ini yang jadi penyebab seretnya cakram supri 125 adalah cakramnya, adapun biaya pressnya 75 ribu, harga cakramnya 145 ribu jadi totalnya 220 ribu. Kalau pengalaman kedua yang diganti adalah kampas remnya biarg gakseret lagi, dan itu memang setelah diganti gak seret lagi.

Mungkin memang kalau di bengkel pinggir jalan enggan kali ya buat mengatakan bahwa penyebab seretnya roda belakang karena cakram harus ganti sparepart ini dan itu, kan biasanya kan emang orang cenderung sengaja membuat pelanggan gak terlalu terbebani dengan penggantian sparepart yang harganya mahal. La masalahnya kalau ternyata setelah diganti nanti rodanya masih tetap seret, berarti diagnosa awal kan ga bener tadinya, kepercayaan menjadi pertimbangan. Selain itu biasanya masalah seret ban karena cakram, bengkel sering kesulitan pada saat ngepasin ban pas dipasang, karena ya itu tadi karena emang cakram atau kampasnya bermasalah atau sudah abnormal, sehingga tidak seperti pada umumnya. Nah tulisan ini semoga menjadi referensi pembaca yang punya pengalaman ban belakang seret gara-gara rem bermasalah dengan rem cakramnya, pengalaman saya biar ga seret lagi, kalau gak cakramnya yang diganti ya ganti kampas remnya.

Tambahan lagi, setelah ganti cakram dan saya bawa jalan beberapa kilometer, ternyata kampas rem yang menempel pada cakram saat melakukan pengereman tidak merata, jadi emang menurut perkiraan saya dari dulu itu emang cakram udah bengkok, trus diganti kampas rem, nah habisnya kampas rem juga gak rata, ganti tromol, cakram seret, trus pas ganti cakram yang baru baru langsung lancar jaya, pas di rem, keliatan bahwa bekas kampas rem gak rata nempelnya pada cakram yang baru, ini baru sebatas teori saja, belum dibuktikan. Oke sekian dulu dari saya, terima kasih telah membaca.
Read More...

Monday, May 30, 2016

Supra X GTR 150 vs Jupiter MX King 150


Karena sekarang lagi banyak yang ngomongin Motor Supra baru ini saya jadi pengen ikut juga ngomongin motor yang satu ini, biar kekinian gitu hehe, namun ini hanyalah sebatas pengetahuan dari hasil browsing saja, bukan dari hasil survey serius ke pabriknya langsung, langsung saja cek this out.

Bagasi
Baik MX King sama Supra X menurut saya bagasi sama-sama sempit, melihat review blog blog keduanya sama saja menurut saya, jadi tidak bisa diunggulkan salah satu.
Kick Starter
Dari Informasi internet, ternyata Supra GTR cuman ditulis electric doang, sementara MX King ditulis Electric/Kick, ini artinya apa? Lah berarti kalo Supra cuman pake tombol dong? Misalnya electricnya rusak kalo MX masih bisa pake kick, la kalo GTR?
Harga dan Model
Harga GTR lebih mahal, kalau model sih menurut saya sama aja.
Kapasitas mesin
Ini juga menurut saya ga ada yang menang ga ada yang kalah, sama-sama mengusung kelas 150 cc, kalau sama-sama digeber sebelas dua belas lah, tergantung jokinya saja.
Bobot motor
Nah ini menurut berbagai info yang saya dapat, bobot MX King lebih ringan, yaitu 115 kg, sedangkan GTR 150 mencapai 122, bisa dibayangkan misalnya pas ban bocor lebih berat mana hehe, sebagai perbandingan, supra x 100 cc, bobotnya sekitar 97 kg, supra x 125 bobotnya 106, helm in beratnya 107 kg, mx 135 beratnya 109. Berat ini menurut saya kaitannya sama manuver saat di jalan raya. Bobot motor yang berat membutuhkan space manuver yang lebih luas juga.
Mesin
SpesifikasI Supra GTR ditulis
Tenaga Maksimal 15,74 dk(11,6 Kw)/9000 rpm, Torsi Maksimal 13,5 Nm/6500 rpm,
Pada MX King
Tenaga Maksimum 15,4 ps(11,3 Kw)/8500 rpm, Torsi maksimum 13,8 Nm/7000 rpm
Sebagai perbandingan pada Supra x 125 ditulis
Tenaga maksimum 10,1 ps(7,4 kW)/8000 rpm, Torsi maksimum 9,3 Nm/4000 rpm
Dan Helm In
Daya maksimum 9,63 ps/7500 rpm, torsi maksimum 1,08 kgf.m/5500 rpm
Jika informasi-informasi tersebut saya gabungkan, antara bobot kendaraan, torsi dan daya, yaitu rpm dan bobot saya setarakan dengan motor supra x 125, bobot saya jadikan semuanya dalam 106 kg, rpm saya sesuaikan dengan rpm supra 125 maka akan menghasilkan angka berikut (data ini bukan informasi yang valid, karena berdasarkan pemahaman pribadi penulis saja yang belum tentu benar, penulis juga sudah berusaha mencari cara yang tepat dalam membandingkan di atas kertas dengan data yang ada di spesifikasi motor, namun sampai sekarang masih belum nemu juga artikel yang jelas dan bikin penulis paham cara mbandingin motor tanpa dibawa ke jalan raya) kolom ini dibuat hanya sebagai coret2an otak-atik catatan penulis saja, dan bukan bertujuan untuk iklan, promosi, dsb, apabila ada kesalahan harap diperbaiki di kolom komentar yang telah disediakan) :
Kolom-kolom di atas saya asumsikan sebagai berikut :
Untuk data Daya Maksimum dan Torsi maksimum saya dapatkan dari internet, blog otomotif, dan bukan dari sumber resmi,
Saya gunakan Motor Supra 125 sebagai perbandingan biar memudahkan penulis sendiri dalam membandingkan, mengingat motor harian yang pernah saya pakai adalah Supra x 125, Shogun 125, HelmIn sama Supra 100.
Semua motor, bobot, rpm saya setarakan dengan Supra 125 sebagai perbandingan (kolom berwarna coklat)
Dengan analisis yang belum teruji kevalidannya ini, alias cara bodohnya saya simpulkan sebagai berikut :
Untuk top speed dipegang sama MX King bila dibandingkan sama GTR
Akselerasi bawah kedua motor MX King dan GTR ga jauh beda sama Helm In, tapi masih kalah sama Supra x 125.
Pada coret-coretan yang belum teruji kevalidannya ini, terlihat Shogun 125 RR berada di posisi bawah, dibawah Supra 125 maupun Helm In, namun pada kenyataanya saya pakai sehari2 tenaga Shogun RR ga kalah sama Supra 125 dan Helm In, naik tanjakan Gombel sama-sama kuat dengan speed 80 kmh, namun ternyata yang saya rasakan Shogun RR ini terasa lebih boros, mungkin ini adalah konsekuensi dari tarikan yang kuat kali ya.
Antara Helm In sama supra x 125, saya bandingkan pada saat pemakaian harian, memang untuk akselerasi, menurut saya Helm In lebih ngeden dibandingkan Supra 125, ini sesuai dengan coret-coretan excell saya di atas, sehingga bila saya ingin akselerasi Helm In seperti Supra X 125, harus membuka gas Helm In lebih dalam, beda banget pas pakai Supra 125, ga perlu digas ngeden ngeden amat, motor udah lari.
Masih antara Helm In vs Supra 125 untuk ukuran Jok menurut saya kok sama aja ya, untuk pemakaian jarak jauh jok lebar semacam helm in juga ga menjamin lepas dari rasa pegel, Helm In n pernah saya pakai Semarang-Lamongan PP dan tetep pegel juga, Supra x 125 pernah saya pakai Jakarta-Boyolali, juga sama pegelnya, tapi kedua-duanya masih lebih baik bila dibandingkan Supra 100.
Back to the laptop
GTR VS MX King, untuk tarikan bawah menurut analisis abal-abal saya, tarikan bawah akan seperti Helm In, namun untuk urusan top speed akan menang MX King, namun pada saat kecepatan tinggi bukaan gas MX King akan lebih tinggi rpmnya, karena hanya ada 5 speed, sedangkan Supra GTR kemungkinan masih bisa menambah kecepatan pada gigi 6 nya. Namun ini juga perlu dibuktika, top speednya gigi 5 MX king apakah setara dengan top speednya gigi 5 GTR.
Jadi menurutmu pilih GTR apa MX King? Saya juga masih belum punya prioritas mana yang harus saya pilih. Karena saya masih nyaman saya supra x125, karena saya juga lebih memperhatikan juga kapasitas bagasi yang lebih luas daripada keduanya, dan saya tidak terlalu mengejar speed diatas 100 kmh, 100 kmh di pantura menurut saya udah cukup, mengingat kondisi jalan, juga kondisi kiri kanan yang mungkin tidak bisa saya prediksikan. Tapi itu tergantung pilihan masing-masing ya. Kalau di Jakarta mau cc besar kecil kok rasanya ga ada bedanya ya. Di jalan pernah disalip Moge yang mosak masik, eh kesalip juga pas di lampu merah, ya kan sama aja ya, bedanya cuman suara knalpot lebih garang membuat pengendara motor di depan seperti terintimadsi sehingga memberikan jalan buat si moge (true story) hehe.
Selain itu faktor bobot motor, misalnya pas mau ndorong ndorong di garasi atau pas di parkiran gitu, juga satu lagi yang kurang sreg bagi saya GTR electric starternya cuman electric doang ya, ga ada kick starter gitu misalnya pas kondisi darurat.
Read More...