Showing posts with label jalan. Show all posts
Showing posts with label jalan. Show all posts

Friday, March 29, 2024

Pasang Latex di Jok Motor Supra 125


Beberapa waktu yang lalu saya melakukan perjalanan kurang lebih 25 kilometer, perjalanan memakan waktu kurang lebih 1 jam dengan kondisi macet. Sebagai pemakai Supra 125 selama kurang lebih 10 tahun, bisa dibilang ergonomi Supra 125 ini tergolong unik, bokong terasa lebih cepat panas ketika jalanan macet dibandingkan saat jalan lancar, dengan waktu tempuh yang sama, entah apa penyebabnya, mungkin pada posisi jalan lancar, sirkulasi udara lebih lancar karena saya juga memakai jaring jok, atau mungkin ada faktor lain yang belum diketahui, kurang tahu juga. Akhirnya saya mencari tahu pilihan berikut ini, untuk mengatasinya.

Memakai bantal hydro pad
Alternatif pertama adalah memakai bantal hydro pad berisi air,

sumber gambar3
Kekurangan memakai bantal hydro pad
informasi dari youtube, kekurangannya yaitu ketika terkena panas matahari, maka bantal akan ikut panas, lama dinginnya,
posisi lebih tinggi/jinjit
dan posisi riding menjadi lebih tinggi, kemungkinan harus jinjit,
luas terbatas
selain itu manfaatnya hanya terbatas buat pengendaranya saja, penumpang tidak mendapat.

isi terkadang bukan air beneran
saya pernah membeli satu hydropad, namun ternyata isinya bukan air, namun hanya kapas, tidak sesuai namanya, jadinya malah sama saja seperti jok biasa berlapis kulit sintetis yang terasa panas. Bagaimana membedakannya? Jika kalian membelinya, tinggal diperhatikan baik-baik pada gambarny apakah ada semacam jahitan, bila ada jahitan, maka kemungkinan besar isinya hanya kapas, karena jika ada jahitan, logikanya air akan rembes.

Kelebihan memakai hdydro pad
Setelah tadi membahas kekurangannya, kelebihannya yaitu biayanya lebih murah.
kedua, mudah dipasang
ketiga, bisa dipasang untuk keperluan lain, misalnya saat lesehan di rumah
itula kekurangan dan kelebihan memakai hydropad

Memakai bantal motor jaring

sumber gambar2
Kekurangannya
Alternatif kedua adalah memakai bantal motor yang bentuknya seperti jaring-jaring

Kekurangan
belum banyak reviu youtube, jadi masih diragukan fungsinya, terlihat tidak ada sirkulasi udara masuk dari depan, karena posisi lubangnya vertikal, kemungkinan besar ya kurang maksimal.

Kelebihannya,
mudah dipasang, relatif murah juga


Akhirnya dipilih alternatif ketiga, yaitu memakai lapisan latex,
Memakai lapisan latex

kekurangannya
harganya lebih mahal,

Kelebihan
bisa diaplikasikan secara lebih luas, jadi bukan hanya dirasakan pengendara, tapi juga penumpang.
Melihat reviu ojek online yang memakai latex di layer tengah, meyakinkan saya untuk memakai ini, dalam reviu tersebut, ojol menambahkan latex di layer tengah, diapit layer busa di atas dan bawahnya.

namun saya kali ini hanya memasangnya di layer atas, dan mencobanya apakah tetap panas atau bisa dingin.
Pemasangan saya lakukan di bengkel latip4

Reviu pemasangan lapisan latex

Harga
Latex dengan ketebalan 2,5 cm harga 200K
Ongkos pemasangan 40K, dengan penutup masih memakai sarung jok yang lama

Langkah pengerjaan,
Pertama-tama jok yang lama dibongkar dulu, terlihat cekatan sekali abang dalam membongkar staples, mengggunakan obeng dan tang. cetak cetek cetak cetek, karena sudah terbiasa.

setelah dibongkar, busa bawaan ternyata perlu dikepras sedikit agar tidak terlalu tinggi,


selanjutnya latex diletakkan di atas jok tadi, lalu disesuaikan ukurannya dengan cara dipotong menggunakan gergaji besi, pemotongan dilakukan seadanya, belum dilakukan pemotongan secara presisi.

selanjutnya memberi lem di permukaan latex dan di permukaan busa jok bawaan yang sudah dikepras tadi, entah lem apa yang dipakai, karena hanya dimasukkan ke dalam botol bekas akua saja, cairan lem berwarna oranye seperti sirup, sehingga perlu diratakan menggunakan plastik, seperti meratakan selai di permukaan roti.

didiamkan kurang lebih 15 menit, sambil abangnya mengerjakan pesanan yang lain

setelah itu, jok dan latex tadi baru disatukan, lapisan latex kali ini ditaruh di posisi paling atas

latex kemudian dipotong lagi, kali ini dipotong dengan lebih presisi, dan diparut di bagian pinggir untuk menyesuaikan kemiringannya mengikuti bentuk bawaan jok.

Selanjutnya pemasangan Lapisan luar, memakai kulit jok yang lama, masih bisa dipakai, namun efeknya harus sedikit lebih ditarik mengingat luasnya lebih sempit.

Memakai alat pistol angin staples otomatis, jadinya tidak perlu tenaga, sesekali terdengar alat kompresornya menyala sendiri melakukan pengisian udara dengan tenaga listrik.

Impresi pemakaian:
Dibandingkan jok bawaan motor, tentu saja lebih empuk, namun untuk perjalanan jauh, saya belum berkesempatan mencobanya, jadi bila nanti sudah ada kesempatan, akan saya tulis impresinya disini.

Referensi
1https://myspacenote.blogspot.com/2024/02/melihat-alun-alun-karawang-dari-dekat.html
2https://www.blibli.com/p/3d-antivibration-cushion-pad-omextra-bantal-motor-sarung-jok-motor-mat/ps--BES-70688-04168
3https://www.tokopedia.com/rndautomotive/bantal-jok-motor-air-hydropad-untuk-semua-motor
4https://maps.app.goo.gl/hKw2nyD86LjJAsG39
Read More...

Sunday, January 7, 2024

Pengalaman Pasang Ban Dalam Palsu


Sekarang muncul berbagai macam produk kawe, asli tapi palsu dengan kualitas yang menyerupai aslinya, namun ternyata tidak semua produk palsu kw tersebut bisa kita pakai, contohnya pada produk komponen kendaraan kerena menyangkut keselamatan, apalagi ban. Kali ini saya akan menceritakan pengalaman memakai ban dalam palsu.

Pertama kali memakai ban dalam,
yak betul, sudah lama sekali saya tidak memakai ban dalam di motor saya, karena selama ini saya memakai ban tubeless untuk perjalanan jarak jauh. Nah karena tidak ada lagi rencana perjalanan jarak jauh, serta kondisi jalan sehari-hari lebih banyak menemui jalan rusak dan polisi tidur, jadinya ban motor saya ganti menggunakan ban dalam agar lebih pas. Jika tetap memakai ban tubeless, tidak akan cocok karena terasa keras, ban tubeless memang didesain lebih keras.


Perjalanan dari Cawang menuju Tanjung Priok
sesampai di fly over Cempaka Cempaka Mas, posisi menuruni fly over tiba-tiba ban belakang terdengar sesuatu, namun tidak keras seperti ban meletus, saya kira hanya kerikil yang terlindas kemudian terlempar menimbulkan bunyi. Laju motor tetap stabil, ban belum terasa kempes, sampai bawah saya minggir berhenti sejenak mencoba mengecek, eh ternyata ban belakang sudah posisi kempes, dan hampir habis, mlenent, istilah bahasa Jawanya.

Mencoba bertanya satpam di depan Astra, Ada tambal ban, namun di seberang jalan, dan harus memutar jauh mencari putar arah/u turn, namun Alhamdulilah, ternyata ada yang lebih dekat, tepatnya di jalan samping Sungai Sunter, akhirnya saya dorong tuntun motor dengan dorongan dari gas, jadi tidak terlalu berat. Jaraknya sekitar 300 an meter saja, posisi tepatnya di google map ada di https://maps.app.goo.gl/NvHCEiQZ64XkX6Vq5.

Selesai dibongkar ternyata ada kebocoran memanjang sekitar 0,5 cm, dan harus ganti ban dalam, jadinya saya ngikut saja, penyebab tidak bisa ditambal, tidak dijelaskan.

Kemudian dia mengambil ban dalam baru, dalam sebuah kemasan kardus berwarna biru, merk tidak teridentifikasi karena saya juga tidak terlalu memperhatikan, kemudian mulai mencopot ban untuk mengganti ban dalam, Selesai diganti kemudian membayar ongkos seluruhnya saat itu Rp.60.000,-.

Beberapa hari kemudian
Laju motor seperti ngempos, tidak bertenaga, mungkin ban kempes yang menyebabkan laju motor menjadi berat, benar saja setelah saya pompa ban depan dan belakang, laju motor kembali bertenaga, digas sedikit terasa tenaganya, eh, selang sehari dua hari, tenaga motor kembali ngempos, dicek di bagian ban, ternyata kempes lagi, kesimpulan sementara ban belakang bocor alus, padahal baru saja ganti, harus dibawa ke tukang tambal ban lagi, aneh juga ya.

Akhirnya dibawa lagi ke tambal ban langganan
Tukang tambal ban membuka ban, setelah dibuka jreng... langsung beliau bilang ke saya bahwa ban dalam palsu, dikatakan karetnya lebih seperti balon udara mainan, namun dengan lebih tebal.

Kaget juga mendengarnya, karena mengapa komponen vital seperti ini bisa ada yang membuat tiruan namun dengan kualitas yang lebih buruk ya, apakah ini merk Ch*na? atau dari pabrik dalam negeri ya? Jika dari Ch*na, belinya dimana? apakah tidak ada SNI? mungkin saja memang tidak ada SNI, karena biasanya persyaratan tersebut dianggap mengganggu kelancaran arus barang di pelabuhan, demi menarik investor luar negeri.

Ciri ciri ban dalam palsu
fisik ban setelah saya raba terasa lebih kenyal, jika ditarik sedikit terasa lebih mudah melar dibandingkan ban asli.

dan ciri kedua yang sudah dirasakan yaitu gampang sekali kempes/bocor alus, sekarang dipompa, besoknya sudah kempes lagi.


Akhirnya diganti lagi dengan ban dalam yang asli, ongkos penggantian Rp.60.000,-, sedangkan ongkos tambal biasa saat ini terpantau Rp.15.000,- sampai Rp.20.000,-

ban dalam palsu merk Alvero




Read More...

Monday, March 13, 2023

Mencoba Naik Bus Listrik Trans Jakarta


pic by inilah dot com

Transportasi di Jakarta saat ini bisa kita katakan relatif semakin lengkap, bukan maju menurut pendapat orang-orang pada umumnya yang hanya melihat baru/lama mesinnya, dan indikatornya analog/digital, tapi "maju" disini maksudnya semakin akuratnya sebuah informasi, misalnya estimasi kedatangan, kejelasan informasi, dan lain sebagainya. Hal ini karena sudah terintegrasi bus kota dengan google map, jadi kalian yang buta transportasi di Jakarta pun tidak perlu bingung lagi ketika menggunakan transportasi di Jakarta yang semakin hari semakin bertambah baik jenis maupun rutenya. Asalkan menginstal google map di smartphone. Selain informasi rute, juga tak kalah penting adalah informasi estimasi waktu tempuh perjalanan juga tersedia di google map, bahkan sampai perhitungan waktu tempuh saat berjalan kaki. Berbekal hal tersebut, kali ini saya berkesempatan mencoba salah satu rute Bus Trans Jakarta yang ternyata diisi oleh bus listrik, kebetulan waktu itu saya mencoba rute 2P, jurusan Blok M Pasar Senen. Awalnya hanya mengincar rute dengan kode 2P, eh ternyata dapet yang elektrik, Ya sudahlah sekalian saya akan buat konten dan mereviu bus ini, Kira-kira bagaimana sensasinya silahkan baca terus artikel di bawah.




Bus elektrik ini merupakan salah satu jenis layanan Trans Jakarta, bagi yang pengen mencobanya, kalian bisa mencoba rute 2P Blok M Pasar Senen.

Bagaimana mencari rute di google map?
Saat itu saya mencari di google map untuk rute Bundaran HI menuju Lapangan Banteng, setelah saya tentukan titik awal dan titik akhir, lalu ketemulah beberapa alternatif, ada yang harus melalui beberapa transit, ada juga yang bisa langsung dengan menaiki trans jakarta dengan kode 2P.



Sedangkan untuk mengetahui rute angkutan umum ini kemana saja kita bisa langsung mengetap gambar icon bus, nanti akan muncul trayek apa yang melintasi halte tersebut, contohnya ketika kita mengetap salah satu icon bus di layar, ternyata halte tersebut dilewati beberapa trayek yang digambarkan dengan garis rute yang berbeda warnanya.
garis warna merah untuk rute 1P, garis warna hijau untuk rute 6H dan seterusnya,
namun sayangnya fitur ini masih terbatas pada google map pada smartphone, pada google map versi desktop komputer, tidak ada fitur ini.


beberapa bus yang melintas disini



Setelah menunggu beberapa lama, datanglah dari kejauhan sebuah bus dengan kode tulisan layar elektronik 2P, namun bus tersebut bedanya tidak melewati jalur trans jakarta ya, bus tersebut melalui jalur biasa bersama mobil-mobil pada umumnya. Bus ini kemudian berhenti di halte. seorang kernet menyambut penumpang yang akan naik. bus ini ada dua pintu, satu di depan, satunya di tengah, keduanya memiliki pintu masuk yang ceper, cocok banget untuk naik turun pinggir jalan, ya karena kan memang namanya bus kota. Bus ini hanya berhenti di halte saja, jadi bila pengen naik bus ini bisa menunggu di halte bus. Walau tidak ada penumpang yang naik turun pun, bus ini tetap berhenti di halte ya. Entah peraturan yang aneh juga ya.


Model bus yang ceper mempermudah penumpang naik/turn. Fasilitas di dalamnya cukup lengkap, tempat duduk, pegangan tangan berdiri, tempat duduk khusus, alat elektronik untuk tap kartu, serta informasi-informasi lain baik dalam bentuk suara maupun tulisan, lengkap sekali, dan kalian tidak akan bingung ini sampai mana karena sudah ada papan elektronik tulisan sampai mana dan pengumuman melalui rekaman suara, lengkap sekali sesuai dengan kebutuhan penumpang bus kota. Bus ini juga menggunakan AC. Entah sekali ces bisa bertahan berapa lama ya kalau digunakan untuk berbagai macam kelengkapan tadi.



Sensasi tarikan bus listrik dibandingkan bus diesel?
Bus listrik sensasi tarikannya lebih kencang, sesuai karakter kendaraan listrik pada umumnya yang memiliki torsi besar di putaran bawah. Seperti kalian naik motor matic di tengah kemacetan, namun ini dalam bentuk bus, bahkan bisa dibilang tarikannya lebih kencang daripada mobil-mobil pribadi di putaran bawah ya.


Pembayaran di bus ini menggunakan apa?
Pembayarannya hanya menggunakan kartu e money yang di tap dua kali, yaitu tap in pada saat masuk dan tap out pada saat akan keluar dari bus, mesin tap yang disediakan di dalam bus ini ada dua, satu di belakang sopir, satu lagi di dekat pintu tengah.

Berapa tarifnya?
Tarif yang terpotong saat itu untuk jauh dekat adalah Rp.3500,-.

Bagaimana cara mendapatkan kartu e money?
E money sendiri bila kita membeli di Indomaret/Alfamaret ada e money mandiri yang harga barunya adalah Rp.28.000,-, belum termasuk saldo, jika ingin mengisi, minimal harus diisi saldo Rp.50.000,-. Sedangkan bila membeli di halte bus mungkin bisa lebih murah ya, karena saya melihat iklan e money seharga Rp.30.000,- sudah termasuk pulsa Rp.10.000,-, namun belum tahu itu menggunakan bank apa.


Kekurangan : jumlah penumpangnya saja yang masih kurang

Kelebihan :
Sudah terintegrasi di aplikasigoogle map,

Read More...

Sunday, March 5, 2023

Mencoba Mass Rapid Transit Jakarta


Perjalanan kali ini saya akan mereviu perjalanan menggunakan transportasi darat Kereta Api Mass Rapid Transit Jakarta, saya mencoba rute dari ujung ke ujung, yaitu dari Stasiun Bundaran HI menuju Stasiun Lebak Bulus.



Sebelumnya MRT ini milik siapa? MRT ini milik Badan Usaha Milik Daerah yang sahamnya sebagian besar dimiliki oleh Pemerintah Provinsi Jakarta, sedangkan pembiayaannya sebesar belasan triliyun bersumber dari pajak (APBN dan APBD) dan pinjaman luar negeri (dari JICA Jepang). (kompas, 2019)

biaya pembangunan MRT yang bersumber dari APBN dan APBD mencapai Rp 16 triliun. Untuk balik modal, pemerintah tidak berharap dari harga tiket, yang direncanakan hanya sebesar Rp 10.000 per orang dari Bundaran HI hingga Lebak Bulus, dan sebaliknya
(cnbc 2019)



Rute MRT
Untuk mencari rute MRT, kita bisa googling saja ya, dan ternyata setelah saya cari rute MRT baru sampai di Stasiun Bundaran HI.

Pembayaran
Pembayaran menggunakan kartu e money yang di tap saat berada di stasiun keberangkatan lalu di tap lagi saat berada di stasiun tujuan.



Perjalanan masuk stasiun
stasiun MRT sebagian besar berada di bawah tanah, saat masuk akan melewati tangga yang cukup tinggi juga, selain itu juga disediakan tangga eskalator, bagi yang membawa sepeda juga disediakan rel sepeda di tangganya, terlihat di gambar di bawah ini, ada jalur buat ban sepeda di sisi kanan.


setelah sampai bawah, kita akan melewati pemindai x ray yang dijaga petugas sebelum menuju pintu tap kartu.


Fasilitas
Fasilitas di Stasiun bawah tanah ini ternyata sudah cukup lengkap, ada mushola, toilet, lengkap dengan petugas kebersihannya, juga papan petunjuk juga cukup lengkap, papan jadwal keberangkatan juga ada. Di sini ternyata juga ada semacam alat berupa bangunan seperti telepon umum jaman dulu, namun di dalamnya ada layar touch screen untuk menghubungi petugas, cukup smart juga daripada menempatkan petugas di setiap stasiun, lebih baik menempatkan alat komunikasi di situ ya.

untuk jadwal bisa dicek langsung melalui website officialnya https://jakartamrt.co.id, dan yang pasti jadwalnya on time.



Akhirnya kereta yang ditunggu tiba juga, penumpang tidak terlalu padat.


setelah masuk, ada kejadian lucu saat ada rombongan yang baru saja turun, namun akhirnya pengen langsung balik ke Blok M, akhirnya bertanya kepada satpam kereta, apakah bisa naik kereta ini lagi, namun oleh petugasnya malah disuruh tap kartu dulu, padahal kan aslinya tidak perlu tap kartu juga bisa ya, karena lokasinya masih di dalam stasiun kereta. Kelihatannya rombongan tersebut memang sedang rekreasi naik kereta api MRT.


Ini adalah kondisi di dalam kereta
cukup lengkap informasi di dalamnya, setiap pintu dilengkapi layar yang berisi tulisan posisi sampai mana, dan dua stasiun tujuan, jadinya penumpang tidak bertanya-tanya sampai mana, selain itu setiap stasiun selalu ada pengumumman melalui rekaman pengeras suara.


Bangku kereta menggunakan bahan plastik itu ya, jadinya keras, dan memang dirancang untuk duduk sebentar saja, ya memang sesuai kebutuhannya sih ya.


kereta kemudian mulai berjalan tepat sesuai jadwal, menyusuri terowongan, jadinya tidak ada pemandangan, barulah setelah melewati Stasiun Senayan, jalur yang dilalui beralih ke jalur layang, sehingga bisa menikmati pemandangan.

sekitar 30 menit akhirnya sampai juga di Stasiun Lebak Bulus, waktu tempuh yang cukup cepat ya.



Tarif Bundaran HI ke Lebak Bulus Rp.15.000,- sedangkan untuk rute Bundaran HI ke Senayan Rp.6000,-, jadi tarifnya menyesuaikan jaraknya.

Kelebihan :
On time

Kekurangan :
setiap masuk harus melalui x ray, entah ini efeknya bagi kesehatan ya
okupansi penumpang yang terlihat sedikit (namun entah saat jam kerja)


Referensi
kompas 2019 (https://megapolitan.kompas.com/read/2019/04/08/22393811/utang-mrt-jakarta-ke-jepang-akan-lunas-dalam-40-tahun?page=all) diakses 5 Maret 2023
cnbc 2019 (www.cnbcindonesia.com/news/20190306191422-4-59335/sri-mulyani-biaya-mrt-rp-16-t-tak-balik-modal-via-tiket) diakses 5 Maret 2023







Read More...

Tuesday, February 2, 2021

Perjalanan Jakarta Bali PP Etape Kediri Bali

8.40 WIB
Start Kediri, menuju arah Braan, jalan tidak terlalu ramai, hanya beberapa truk yang mudah disalip, ketemu Harapan Jaya, Menyalip di Mrican, tapi berhasil disalip saat menurunkan penumpang. Dari Braan lanjut ke timur menuju pintu tol, jalan Provinsi tapi sudah banyak lubang.

11.00 WIB
Sampai di Surabaya untuk test antigen di halodoc drive thru, menunggu sekitar 3 mobil di depan, tidak terlalu lama juga. Kurang lebih 40 menitan sampai selesai, untuk hasil akan dikirim melalui aplikasi halodoc sekitar jam satu siang. Langsung melanjutkan menuju Bali, rapid antigen pas berangkat karena untuk masuk bali melalui darat harus rapid antigen maksimal 24 jam sebelum masuk Bali.
Jalur Surabaya menuju Pasuruan tidak terlalu macet, meskipun banyak truk-turk, tapi masih bisa menyalip dari kiri dan kanan.

12.15 WIB
Sampai di rest area Rembang, Pasuruan, sebenarnya kalau mengemudi sampai Pelabuhan pun masih kuat, namun karena sudah memasuki waktu Sholat Zuhur, maka saya mampir dulu di Rest Area untuk Sholat Zuhur dan sekaligus makan siang, Tempat Sholat berupa Hangar bekas kontainer yang dimodifikasi menjadi Mushola, begitu juga toiletnya, yang mana bangunannya kalau dilihat dari luar, berbentuk hangar/kontainer yang dimodifikasi. Namun untuk kebersihan sudah terjaga dengan baik.
Untuk makannya, ada soto, pecel, dsb, saya memesan pecel seharga Rp.20.000.

Selesai makan, saya pesan tiket kapal feri terlebih dahulu melalui website ferizy, ternyata untuk mengisi NIK tidak perlu lengkap sekali, cukup isi dengan angka seadanya, pembayaran melalui internet banking. Namun yang bermasalah disini adalah pembayaran melalui mandiri banking yang ternyata tidak bisa digunakan karena di dalam e banking mandiri tidak mendukung pembayaran Virtual Account, akhirnya melalui menu atm bank permata bisa. Harga tiket sekitar 180 ribu.

Akhirnya perjalanan dilanjutkan kembali melalui tol sampai Probolinggo, saya hanya memacu dengan kecepatan maksimal 100kmh yang kalau pakai aplikasi GPS aslinya hanya sekitar 97 kmh. Mobil Avanza New tahun 2013 ternyata hanya menghasilkan RPM 3500 pada gigi 5 di kecepatan itu, yang menurut saya masih lebih tinggi daripada Ertiga yang mampu bertahan di kisaran 3000 RPM, bahcan Calya pun hanya berkisar 3000 RPM saja.

Saya memutuskan keluar melalui pintu tol Grati untuk menghemat biaya tol, mengingat juga pengen merasakan jalur yang belum pernah dilewati, jika biasanya orang-orang melalui Pintu Tol Probolinggo Barat. Ternyata setelah keluar tol Grati, jalur arteri yang dilewati cukup mulus, terawat, berbeda sekali saat melalui Jalur Nganjuk Jombang tadi. Jalur menuju Probolinggo ini halus dan cukup lebar untuk salip kiri, meskipun harus sedikit meminta jalan dengan sopir2 truk yang berjalan pelan. Karena masih belum paham medan, marka tetap patuhi, berbeda dengan orang yang sudah sering lewat situ, sudah paham mana yang bisa nyaman untuk menyalip.

Akhirnya masuk kota Probolinggo yang perlu santai bawanya karena sering bertemu dengan kemacetan dan lampu merah, hal ini wajar, jika bawanya langsung main gas pol, akan sia-sia karena di depan ada lampu merah, jadi nanti sampainya tidak ada bedanya, namun walau santai, tetap memanfaatkan celak dari kiri dan kanan.

Keluar Probolinggo, perjalanan dilanjutkan ke timur sampai Kraksaan, hujan rintik mengguyur dari sini, motor pun terlihat lebih sedikit karena seperti biasa jika hujan, motor seakan hilang.
Lepas Kraksaan perjalanan dilanjut ke timur dengan kecepatan yang santai tapi tetap terus menyalip kendaraan di depan.

Sempet ketemu bus pariwisata di sekitar Pasir Putih, cukup susah untuk mendahului bis di jalur yang berkelok-kelok, pada suatu kesempatan, ada jalan yang lumayan lebar bahu jalannya, di depan bus ini ada truk, depan truk ini ada matic, saya salip kiri bus dan truk yang berjalan pelan, begitu akan melanjutkan menyalip truk dari kiri, ternyata bus pariwisata menyalip truk dari kanan. dan ternyata matic yang di depan truk minggir ke kiri dan memelan, akhirnya mobil saya terpaksa harus mengerem. Memang matic kalau dilepas gas pas jalan datar, seolah-olah ngerem mendadak. Jadi berhati-hatilah di belakang matic yang lagi ngebut, tiba-tiba ngerem sendiri tanpa lampu rem menyala seolah-olah ngerem.

Akhirnya bus berhasil disalip setelah beberapa tikungan, dan walaupun harus lewat kiri, posisi motor masih di depan.

15.30 WIB
Isi Bensin di sekitar sebelum alas baluran 250.000 Rupiah sampai full, setelah selesai lanjut gas melalui alas baluran di tengah rintik hujan tipis. Memasuki Ketapang harus menyalip rombongan truk besar yang berjalan pelan, padahal tadinya tidak terlalu ketemu dengan rombongan truk, disini sempat papsan dengan bus sleeper Tami Jaya arah barat, serta Gunung Harta arah barat.

17.00 WIB
Memasuki Pelabuhan Gilimanuk, langsung menunjukkan bukti pembelian tiket kapal feri melalui ferizi, discan barcode langsung bisa masuk. Sebelum masuk kapal, mencari toilet di pelabuhan kurang lebih 20 menit, yang ternyata feri masih menunggu dan belum berangkat.



Gambar kondisi kendaraan dalam kapal, cukup sepi dan tidak terisi penuh. 20.00 WITA
Alhamdulilah berhasil menyeberang dengan selamat, tidak ada goncangan-goncangan yang besar karena cuaca bagus. Di pelabuhan Gilimamnuk ini diperiksa STNK dan SIM oleh Polisi, setelah itu diarahkan ke pemeriksaan oleh Kemenkes untuuk pemeriksaan rapid antigen. Oleh petugas kesehatan disarankan lain kali bukti periksa diprint agar bisa divalidasi, karena saat itu saya bawa hasil tes dalam bentuk aplikasi halodoc, setelah diperiksa ternyata bisa langsung pergi, tidak ada pemeriksaan validasi, jadi sebenarnya bisa saja sih langsung bablas.

Selanjutnya perjalanan saya arahkan menuju Rumah Makan, karena sudah masuk waktunya makan, dan karena kesulitan mencari Rumah Makan, pilihan saya tetapkan pada rumah makan Bidadari yang kelihatan bagus di reviu google map. Untuk menuju kesana cukup membutuhkan waktu kurang lebih setengah jam saja, kondisi masih hujan rintik-rintik, ditambah belum hapal tikungan jalan memaksa saya melajukan kendaran dengan pelan, tidak bisa secepat yang sudah hapal jalan seperti angkutan-angkutan komoditas.

Sesampainya di Rumah Makan Bidadari ternyata sudah ada satu mobil kecil, satu elf, dan satu Bus De Nasima warna hitam arah Gilimanuk, karena selesai makan bus ini mengarah ke Gilimanuk, selesai berlibur dari Bali. Untuk kondisi rumah makan disini standar seperti rumah makan Bus-Bus pada umumnya, saya mengambil nasi, sayur, telur dikenai biaya sekitar 20ribu saja, untung tidak menggetok harga ya.

Mushola juga apa adanya sekelas mushola Rumah makan bus, karpet/sajadah yang sudah usang, dan toilet yang cukup bersih. Rumah makan ini cukup luas sebenarnya, namun malam itu hanya sedikit yang makan disitu.

Sebenernya saya pengen makan di Rumah makan Sari Asih, tapi karena lupa lokasinya di google Map dan ragu masih buka apa belum, jadinya saya makan di Rumah Makan Bidadari saja yang ternyata jelas sudah buka, daripada yang Bidadari dilewatin, ternyata di depan belum tau udah tutup apa masih buka.

21.30 WITA
Selesai makan, perjalanan dilanjutkan walaupun hujan masih turun. Jalan berkelok kiri dan kanan perlu kesabaran dan kehati-hatian.

00.00 WITA
Sampai di Kuta Bali


Read More...

Friday, August 28, 2020

Mengatur Posisi Stir Mobil yang Nyaman Sebelum Mengemudi

Banyak artikel mengatur posisi setir mobil untuk seorang driver agar nyaman, namun setelah ditelusuri hanya berkutat tentang tombol-tombol dan tuas tuas yang perlu disentuh atau ditarik, dan disesuaikan dengan selera, nah selera ini yang bagaimana, tentu hal ini sangat subjektif sekali kalau demikiian, bisa saja menurut si A ini adalah posisi yang enak, padahal itu salah, kali ini saya tulis salah satu cara mengatur posisi kursi yang bisa kalian pakai agar posisi stir kalian lebih nyaman dan tidak membuat pegal saat mengemudi, cara ini berlaku untuk berbagai kendaraan baik itu multi purpose vehicle maupun mobil yang lain.

OK langsung saja untuk mengatur posisi duduk yang tepat dan nyaman, pegang kemudi pada jam 12, lalu sambil memegang, atur posisi duduk geser ke depan dan belakang, agar tangan kita pas lurus tidak menekuk saat memegang kemudi di jam 12. jadi kalau posisi tangan kita masih nekuk, berarti kursi kurang ke belakang, gampang kan? Mengenai masalah pandangan, kalian akan menyesuaikan sendiri. Langkah selanjutnya kalian tinggal jalan dengan posisi tangan di jam 9 dan jam 3 atau 2.
Read More...

Thursday, July 30, 2020

12 Hal Terlarang Mobil Matic

Berikut ini rangkuman mengenai beberapa hal terlarang menggunakan mobil matic seperti yang disampaikan di youtubenya Pak Widi Mandiri, karena bisa menimbulkan kerugian material bagi pemiliknya.
1. Jangan menerjang genangan air, jikalau terpaksa, paling setengah ban, dan jangan ngebut, hal ini karena ada lobang penguapan pada gearbox yang rentang kemasukan air, hal ini sangat penting, bagaimana bila ternyata airnya masuk? jika masuk cek pada oli transmisi metic, ambil sticknya bila ada warna putih, mending kuras oli transmisinya. menurut Pak Widi bila kena, dapat menimbulkan kerugian uangyang cukup signifikan.

2. Pergantian oli transmisi, pengalaman Pak Widi oli habis pas kilometer 55 ribu, sebelum jarak standard 60.000, makannya oli transmisi ini harus rajin dicek, karena adanya penguapan yang terus menerus, selain rutin dicek, juga pilih oli sesuai anjuran dari dealernya. kemudian umur mobil juga pengaruh, untuk mobil lama ganti sekitar 20 ribu kilometer.

3. Kalau ganti R ke D harus pada saat mobil stop, kalau mobil manual yang buat balap-balap ga masalah, kalau tips ini bisa bikin hancur gearbox, yang butuh biaya puluhan juta.

4. Hati-hati saat bawa anak-anak, pengalaman Pak Widi, ternyata anaknya pernah nyenggol tuas transmisi pas berhenti di lampu merah, langsung deh mobil jalan sendiri walaupun sudah di hand rem. hal ini sangat berbahaya sekali.

5. Ukuran ban mending pake ban standard, jangan pake ban yang terlalu gede agar tidak membebani.

6. Kebiasaan saat berhenti di lampu merah, jangan sampai pas berhenti tapi posisi transmisi di D sambil direm, ini bisa bikin aus roda kopling matic, saran Pak Widi, masukin posisi gigi ke N, dan di hand rem.

7. seperti yang disampaikan Pak Widi minimal 4 detik untuk dipindahkan ke D, keliatannya sepele tapi luar biasa bagi kalian.

8. Saat akan parkir, pastikan gigi di posisi P, jangan hanya di N, kalau di N, ada bahayanya karena berbahaya, jika pakai P, ada bantuan Rem.

9. di tanjakan kalau berhenti lama pakai gigi P, dan didukung dengan rem tangan

10. Saat start, harusnya setelah pindah ke D, ngegasnya harus slow, jangan langsung injak full gas, karena onderdil gearbox bisa rusak.

11.Pemakaian triptonik, jangan langsung gas pol, harus gas pelan2, smooth, karena bisa saja gearbox rusak 30 juta melayang.

12. Tips saat parkir paraler tanpa handle aktif, caranya sebelum mesin mati, arahkan posisi transmisi ke P, matikan mesin, cabut kunci, masukkan kunci ke lubang shift lock, baru ganti tuas ke transmisi N. Hal ini penting saat menghadapi tempat parkir yang sempit.
Read More...

Wednesday, July 12, 2017

Catatan Perjalanan Mudik 2017 Naik Motor Supra 125

Mudik naik motor masih menjadi pilihan transportasi bagi sebagian orang untuk menuju kampung halaman, karena dirasakan memiliki keunggulan dibandingkan moda transportasi lainnya, misalnya mudik naik motor memiliki fleksibilitas yang lebih tinggi, waktu yang lebih cepaT, tidak terikat dengan waktu, bisa menikmati pemandangan, dan juga tentu sangat membantu transportasi di tempat tinggal nantinya, namun ada juga yang memiliki pendapat lain, terlepas dari berbagai pendapat disini saya catatkan perjalanan mudik naik motor yang dilakukan oleh kawan saya dari Jakarta menuju Solo.

Berangkat dari Jakarta Timur pukul 05.09 pagi selepas Sholat Subuh

06.30 WIB
Kampas Jatuh
memang kampas jatuh ini terjadi diluar dugaan karena sebelum-sebelumnya tidak pernah ada masalah pada bagian ini, lokasi jatuh masih berada di Bekasi. Awalnya saat riding terdengar suara seperti logam berbenturan di jalan, saya pikir ini hanya karena logam yang terlindas oleh pengendara samping saya, ternyata setelah itu, rem kaki saya injak tidak ngerem, malah blong, ternyata yang tadi asalnya dari rem saya nih, akhirnya berhenti pelan-pelan memakai rem depan, dan mengecek kondisi rem belakang, dan benar ternyata kampas rem jatuh. Mau putar arah bermaksud mencari si kampas yang jatuh saya urungkan karena kondisi jalan yang ramai serta pasti nanti sulit mencari logam sekecil itu di tengah jalan raya selebar itu, juga pasti malah tambah macet ya.

Tukang Bengkel Bingung pasang kampas rem
Jalan pelan-pelan, sampailah saya di bengkel pinggir jalan.
dibantulah saya oleh tukang di bengkel tersebut, dan diganti dengan kampas yang baru, akhirnya si mas mas bengkel mencoba memasang lagi, namun terlihat mas-masnya kesulitan mensetting rem cakram belakang supra x 125, saya pun menyuruh mas-mas bengkel pokoknya pasang dulu nanti mampir bengkel berikutnya saja sambil jalan pelan pelan, berhenti di bengkel ini sampai dua jam, setelah membayar, perjalanan dilanjutkan. penyebabnya baca terus ada dibawah ya, baca terus.

Cari bengkel Resmi masih 5 kilo an
Berbekal smartphone yang ada aplikasi google mapnya, saya mencoba mencari bengkel resmi terdekat, ternyata masih sekitar 6 kilo di depan, okelah saya jalan pelan-pelan saja.
Jalan pelan pelan dengan kondisi kampas rem belakang masih kendor suka menghantam pusat velg, saya ga ambil gambar karena ga sempat, jalan pelan pelan dengan kecepatan maksimal 20 kmh

Ketemulah sama Bengkel resmi Honda dan ternyata penyebab mas bengkel tadi susah pasang kampas belakang, ternyata yang diambil adalah kampas rem depan, oalah pantesan bingung tadi ya, tapi gapapa lah, semoga jadi pelajaran bagi ane dan ente pembaca budiman sekalian. hehehe

Pasang di Bengkel resmi tanpa antri karena pas mekaniknya ada yang lagi ga ngerjaian apa-apa, pasang kampas baru, sedangkan kampas depan tadi saya simpan untuk persediaan. Sama sekalian setting rantai biar tidak terlalu kendor maupun tidak terlalu kencang.

Ngejoss lagi sampai Subang, isi pertalite 20 ribu pertama

Kampas rem hampir lepas lagi.
Sampai di Indramayu, rem belakang terasa ngeblong lagi, diinjak ga mau ngerem, tapi rem depan masih ok, saya mencoba berhenti di pinggir jalan, ngecek lagi rem belakang, ndilalah kampas belakang mau ucul lagi, waduh, padahal udah masuk bengkel resmi ya, alhasil nyari lagi bengkel resmi paka smartphone lagi, dan ketemu di depan, Jalan pelan-pelan masuklah saya ke bengkel resmi untuk yang kedua kalinya.

Masuk bengkel ketiga (jam 11 siang)
disini rem dibetulkan serta cek rantai lagi, setelah selesai saya cek lagi ban belakang apakah ada seret-seretnya selepas bongkar pasang rem tadi, ternyata lancar, ok perjalanan dilanjutkan

Waktu menunjukkan kurang lebih jam 11 siang menuju zuhur dan saya masih berkutat di Jawa Barat, masih berkutat di Indramayu memasuki Cirebon, Total waktu masuk ke bengkel kurang lebih 3 jam an, artinya jika perjalanan normal, posisi saya sudah masuk Brebes Tegal, tapi hal ini tidak menjadi masalah ya gan hehe.

Istirahat di brebes jam 2 siang

lanjut lagi

Istirahat di Jalur Pekalongan Batang sudah menunjukkan pukul 5 sore memasuki waktunya buka puasa.
Memasuki jalur Batang Subah cuaca diguyur hujan deras, jadi harus berhenti sejenak untuk memakai mantol, Sampai di Kota Kendal hujan reda, mantol saya lepas, Jalan Kota sudah macet lagi.

Semarang macet di Mangkang sampai kalibanteng, mobil pribadi berjejer sampai pinggir, bahkan sampai dilakukan contra flow arah timur, namun malah yang ikut contra flow jalannya lebih lambat karena arus kendaraan dari arah timur masih ramai.

Semarang Salatiga Boyolali Solo perjalanan lancar jaya
Berhenti dulu di Tuntang jam setengah sepuluh

Lanjut perjalanan sampai Solo kurang lebih jam sepuluh malam.

Total perjalanan Jakarta Solo kurang lebih 17 Jam (sudah termasuk Istirahat di bengkel 3 jam, Istirahat di Pom bensin dan rest area 2 jam)
Read More...

Wednesday, August 17, 2016

Jakarta Bandung Naik Motor saat Weekend

Berangkat dari Jakarta Timur Jam 9 lebih 9 menit, posisi km masih 0, cuaca cerah, kondisi motor sekarang sudah fit, hanya sekarang masih bermasalah pada rem belakang yang masih kurang pakem dibandingkan sebelum ganti cakram. Oke tapi nanti tak masalah, sebenarnya mau dibawa ke bengkel tapi ane terlanjur pesimis hasilnya akan sama saja, karena ya pasti kata montirnya ini sudah pakem, la sedangkan menurut saya ini belum pakem untuk pemakaian di jalan raya yang suatu saat ketemu hal-hal yang membutuhkan rem yang bukan sekadar ngerem, tapi rem yang benar-benar pakem, seperti rem-rem motor yang masih baru.

Jakarta Bekasi Cikarang

Perjalanan berlangsung normal, tidak menemui kemacetan yang panjang, hanya macet pas lampu merah, pasar, angkot ngetem, sampai Karawang melewati ringroad, isi bensin di ringroad. Setelah isi bensin bermaksud akan memotong dari Kosambi Curug lanjut ke Purwakarta, padahal sebelumnya udah searching di google map, ternyata masih kelewatan, karena apa yang saya ingat di google map, tidak saya temukan di perjalanan, akhirnya saya bablas saja sampai cikampek, fly over lewat pinggir, lalu belok ke kanan, ini kendaraan yang dari barat kalau mau belok arah ke Purwakarta harus muter ke timur dulu, karena pas saya lewat dari bawah, jalur ukuran mobil tertutup oleh patok, jadi hanya bisa dilewati oleh motor saja.

Cikampek Purwakarta Sadang Padalarang

Cuaca mendung, tapi tidak sampai hujan, melewati Purwakarta lalu lintas padat merayap. Dilanjutkan melewati jalur yang berkelok-kelok di jalur Purwakarta-Bandung, kadang memotong tol Cipularang lewat atas, kadang lewat bawah.

Masuk Kota Bandung, Perjalanan dari Cikampek-Bandung memakan waktu kurang lebih 2 jam, sampai di Bandung, ketemu sama macet, melewati Cimahi kemudian sebelum RSUD seharusnya ane belok ke kiri arah Lembang, eh kebablasan lagi, karena tanda-tanda yang ane inget pas searching di google map, ga terdeteksi pas lewat jalur itu, ane tandai Kantor A, eh pas lewat kok ga ktemu ketemu ya kantornya hehe, mungkin ketutupan sama pager entah ane gatau, yang seharusnya setelah melewati Kantor A tersebut ane melipir ke kiri buat belok kiri. Ane lalu cari puteran di depan, ternyata cukup jauh sodara, ini motor masih mending, kalau mobil akan lebih susah kalau mau cari puteran.
Melewati gang-gang kecil

Pas siang gak terlalu macet, tapi pas balik kena macet banget sampai motor aja ga gerak, bahkan kalau orang jalan kaki pun masih lebih cepetan jalan kaki. Mungkin karena hari sabtu malam minggu ya.

Sampai di tujuan di daerah Setiabudhi jam 13 an, total perjalanan kurang lebih 4 jam, sedangkan teman saya yang membawa mobil butuh waktu 5 jam, kena macet di tol. Dengan total jarak 178 kilometer dihitung dengan odometer.
Perjalanan Balik

Karena acara sudah selesai, ane balik lagi ke Jakarta, kali ini perjalanan akan dihabiskan tanpa ditemani sinar matahari karena waktu berangkat adalah pukul 17.36, nyampe di Jakarta pukul 22.40, kali ini jaraknya adalah 166 km, karena pas ane balik, ane gak lewat cikampek, pas di Purwakarta ane ikutin plank papan arah yang menuju Kosambi, Curug yang ternyata bisa memotong jarak sekitar 10 kilometer dibandingkan melalui Cikampek.
Jalur padalarang di malam hari

Malam-malam di jalur ini ga bisa kenceng seperti diwaktu siang hari, jalur yang berkelok-kelok, kondisi mika helm yang baret baret, ditambah Penerangan jalan yang tidak setiap jalur tersedia, ditambah lagi di beberapa tempat garis markanya sudah hilang sehingga harus benar-benar sabar dan hati-hati. Tapi jalur ini termasuk lebih bagus aspalnya dibandingkan melalui Cileungsi, dan tentu kendaraan yang lewat sini terbilang lancar banget, dibandingkan melalui Puncak Ciawi Bogor.

Disini sempet ketemu sama pemotor-pemotor yang kenceng-kenceng, ane aja jalan segini udah ga jelas pandangan jalannya, ini motor kok bisa kenceng gitu, tapi kalau ane buka kaca mika emang jalan menjadi lebih keliatan, ini juga karena pengaruh mika helm ane yang udah baret sana sini, jadi jika dipakai di malam hari akan menimbulkan tingkat keburaman yang lebih tinggi.
Nyasar di Bandung

Ini kejadiannya pas mau balik,dari Setiabudhi mau ke Cimahi ane melewati gang-gang jalan perumahan ya tentunya harus belok sana sini, karena kalo mengikuti jalan raya yang mengarah ke Bandung ane perkirakan bakalam kena macet, jadi ane tentukan pilihan buat lewat jalan perumahan yang arahnya motong langsung ke arah Cimahi. Dengan mengikuti arah google map yang kadang-kadang gak pas posisi koordinatnya ane telusuri jalur gang-gang hingga setelah ketemu jalur yang tadinya dilewati pas berangkat, ane pun lega, ane inget inget pas tadi pagi lewat sini sini, kemudian, pada suatu jalan, lah ini perasan tadi gak lewat jalur halus kayak gini deh, perasaan tadi jalurnya jelek, kok sekarang jadi halus, hehe, ternyata ane kelewatan harusnya belok, ane malah lurus, ya itu tadi jalur yang belok tersebut jalurnya kayak jalur buntu gitu, ane lewatin aja,. Akhirnya muter-muter bentar, dan nyampelah di jalur yang tadi, menyusuri jalur yang tadi, sampailah di jalan raya, kali ini kesasar lagi di jalur satu arah yang ada tulisan stikes ahmad yani, ini kalau dilihat di google map emang keliatannya gampang ya, tinggal ikutin aja jalur satu arahnya, ikutin terus jalur utamanya sampai ketemu jalan raya lagi, lah di kenyataanya ga seperti itu, antara jalan utama sama jalan gak utama ternyata seperti ga ada bedanya ya, ane sampe nyasar.
Read More...

Sunday, July 10, 2016

Selamat Jalan Liputan Pemantauan Arus Lalu Lintas Mudik Lebaran (Google Map Vs Waze)


Jamannya sekarang jamannya smartphone, berbagai aplikasi bisa ada di dalam smartphone, mulai dari game sampai aplikasi aplikasi yang berguna. Salah satu aplikasi yang penting bagi para pemudik adalah google map, yang versi paling akhir sudah ada fitur pantauan arus lalu lintas di jalan raya, memang tidak semua jalan ada pantauan arusnya, jadi tidak sampai ke jalan desa/jalan kecamatan/jalan yang kecil-kecil, hanya jalan utama. namun menurut saya ini sangat berguna sekali. Mungkin ente ada yang pernah memanfaatkan aplikasi sejenis lain untuk memantau tingkat kemacetan lalu lintas semacam Waze, tapi menurut saya setelah saya coba kok masih bagusan google map.

Kalau dulu ya, sebelum ada android, pas kita akan melakukan perjalanan jauh melewati suatu daerah, kita dihadapkan pada rasa penasaran apakah jalur yang kita lewatin nanti kondisinya macet atau tidak, saat itu kita mengandalkan teman kita yang duluan lewat sana, atau kita juga bisa memanfaatkan liputan arus lalu lintas dari televisi, ini biasanya terjadi pada saat mudik seperti sekarang. Namun sekarang jaman serba canggih, dengan berbekal smartphone yang sudah terkoneksi jaringan internet dan aplikasi google map, kita bisa memantau arus lalu lintas melalui google map hanya dengan melihat warna pada jalan tersebut secara real time, bahkan kalau ente buka melalui desktop ada fitur kepadatan lalu lintas berdasarkan profil jam jam tertentu, benar2 canggih ya. Kalau merah tua itu jalannya pelan banget, kalau ijo jalannya lancar, kuning jalannya ramai lancar.

Baik saya akan membahas google map vs waze
Kekurangan Waze dibandingkan google map
Pada waze tidak bisa melihat arah mana yang macet, karena satu jalan hanya terdiri dari satu warna saja, kita belum bisa mengetahui sebenarnya warna merah pada jalan itu macetnya searah kita apa sebaliknya.

bedanya dengan google map, disitu terlihat tingkat kemacetan masing-masing arah. jadi dalam satu jalan disitu ada dua warna, nah kita bisa melihat dengan jelas, apabila ingin mengetahui tingkat kemacetan jalan raya.

Aplikasi waze ada yang mengatakan kebanyakan icon, tapi kalau menurut saya sih ok ok saja, ga masalah, memang kalau saya lihat waze ini sengaja menggabungkan sosial media dengan google map, jadi ya banyak emoticon2 yang disediakan, ada interaksi langsung dari user, user atau pengguna bisa melaporkan apakah disitu ada kemacetan, bisa ngirim foto juga ya (ini ane belum pernah nyoba), beda dengan google map yang lebih simpel, cukup melihat warna lalu lintas saja, namun google map ada juga laporan kecelakaan yang disumberkan dari waze, jadi ternyata ada hubungannya waze sama google map. cuman filter apa yang dipake google map sampai2 di dalam petanya muncul tulisan " kecelakaan, dilaporkan dari aplikasi waze, apakah dengan menghitung total laporan waze yang masuk ataukah dengan cara yang lain, kita ga tau dalemannya ya.

Kekurangan lain dari aplikasi waze yang membikin saya uninstal di android saya adalah karena map pada aplikasi waze kurang detail bila saya bandingkan dengan google map, kalau google map malah sampai nama toko, jalan kecil, elevasi, disitu bisa kelihatan semua. Selain kurang detail, pake aplikasi google map lebih mudah, tinggal buka aplikasi, loading sebentar, taraaaa, disitu langsung kelihatan warna kepadatan lalu lintasnya.

Selain itu aplikasi waze masih kurang jelas kalau melihat lokasi lain. kalau pake google map kan misalnya kita sekarang di Solo, mau melihat arus lalu lintas di Tol Cipali tinggal geser aja mapnya ke Cipali, dari situ keliatan semua warnanya, lah kalau waze kan masih ga jelas warna merah di jalan itu tu arah kemana.

Satu lagi yang saya andalkan dari google map adalah fitur membuat rute dengan lebih dari satu titik poin, pada versi sebelumnya hanya bisa membuat satu titik poin tujuan, titik awal ter set otomatis berada sesuai gps dimana kita berada dan tidak bisa kita ubah, titik selanjutnya kita mencari sendiri. Namun update terakhir google map, ternyata kita bisa membuat beberapa titik poin tujuan,

jadi misalnya kita tau mau ke Semarang jalan raya utama macet ternyata, kita bisa milih titik poin mau dilewatin jalan-jalan desa, kalau sebelum update kan kalau langsung kita set titik tujuan di Semarang google earth tetap memilih jalan raya walaupun itu macet, nah versi update terakhir ini mungkin bisa kita set lewat jalan-jalan desa. (saya belum mencobanya sih)
yang pengen lihat bisa lihat disini
Read More...

Tuesday, July 5, 2016

Mudik 2016 17 Jam


Mudik 2016
Berangkat dari Jakarta Timur Jam 05.15 WIB pagi habis Sahur dan sholat subuh
tidak ketemu macet yang berarti lewat bekasi
begitu masuk ringroad Karawang, ketemu macet banget, semacet jakarta kalo lagi pergi sama pulang kerja di jalan Raya Kramat Djati. Ya semua kendaraan dari barat dimasukkan kesini semua yang arah kota karawang ditutup, banyak toilet dadakan di pinggir jalan, juga penjual pop mie, aneka makanan di pinggir jalan, apalagi di pom bensin antrinya panjang banget, saya pun beli bensin eceran seharga sepuluh ribu satu liter.

Keluar dari ringroad karawang, terus berjalan ke timur, hari udah ga gelap lagi,
Masuk kota Cirebon ketemu macet lagi, motor berjalan pelan sekali, apalagi mobil, H-5 ternyata tidak ada cegatan tilang di perbatasan Cirebon Brebes, di Cirebon sempet juga ngisi bensin eceran 20 ribu.

Nyampe di Brebes ketemu macet panjang, sempet berpikiran mau buka jalur tapi kok sepi ya hehe, ga jadi, tapi ada juga yang buka jalur rombongan RX king, tapi ane nikmatin aja macetnya deh, disini sempet mau ambil jalur tanah namun kok becek ya, yaudah lewat jalur beton aja, dan benar saja di depan ternyata ada beberapa motor yang kejebak dan harus diangkat untuk lewat di atas beton. disini pas lewat jalur tanah berkerikil sempet hampir nabrak motor di depan, pas jalan agak cepet, tiba2 motor di depan belok mau turun ke jalan tanah, ban belakang ane sampe ngunci, untung ga kenapa2, catatan saja kalau lewat jalan kerikil ini ane anti banget pake yang namanya rem depan. ane ngeremnya pake ban belakang terus, kalau rem depan lewat jalan kerikil malah bahaya.

Sempet liat beberapa kecelakaan, pertama pas lewat memasuki cirebon, entah motornya ngantuk ga liat mobil di depannya mau belolk kanan, ya dicium deh mobil sama motornya. Kecelakaan kedua ada motor lewat jalan tanaah mau kembali ke jalan beton, karena mungkin salah memperhitungkan ketinggian jalan beton tadi, alhasil entah yang selip ban depan atau belakang, motor tersebut jatuh, untuk tidak nabrak yang lain, kalau ini kejadiannya di karawang tadi. emang kalau ragu ragu malah bahaya juga ya pas lewat, kan beda tinggi antara jalan beton sama jalan pinggiran tanah kadang tinggi juga lho.

Laka ketiga kejadiannya baru saja, yang jelas pas saya lewat si avanza bemper depan udah penyok, sama truk yang posisinya udah melintang, gitu, ga tau kronologisnya, posisi ada di arah barat, mungkin avanzanya nyeruduk truk yang lagi belok, atau gimana saya ga tau.

Kehabisan Bensin di Pemalang
Karena indikator bensin Supra x 125 yang katanya canggih tersebut udah eror, yah emang ane sebenarnya kurang suka sama indikator bensin yang sok sok an pake digital, suka ngaco padahal motor ane lahir baru tahun 2006, kalah sama yang kelahiran 2000 tapi pake indikator bensin jarum, Karena gitu, ane patokannya pada angka odometer 90 km harus kembali ngisi bensing, eh pas masih sekitar 80 an kilometer motor digas kayak ga ada tenaganya, lama-lama mati, pas dilihat di tangki bensin, ga keliatan air bensinnya, walah, alhasil saya dorong, padahal masih puasa lho, sempet berpikiran mau batalin aja puasanya, cuaca panas, dorong motor lagi, hadeuh, untung baru ndorong sekitar 200 meter keliatan pom bensin di seberang jalan arah barat, masih belum plong siapa tau nanti jalan masuknya malah ditutup, setelah berjalan agak dekat, Alhamdulilah jalan masuknya ga ditutup tong atau portal seperti pom bensin yang sudah sudah. Saya pun mampir di Pom tersebut untuk isi bensin, kali ini saya gak tanggung tanggung, langsung isi pertamax full, habis uang 30 ribu haha, sekalian itung itung bersihin bensin eceran yang tadi, warnanya aja macem2, bensin eceran ada yang warnanya biru ungu gitu entah dicampur apa ya.

Waktu ternyata udah pukul 2 siang, langsung saja menuju Mushola untuk sholat, dan akhirnya karena haus saya keramas sekalian pake air akua yang saya bawa biar ademan dikit. dan saya pun saking capeknya tidur di emperan mushola selama satu jam, jam setengah empat kembali mengarungi macetnya pantura

Velg Retak
Keluar macet Pemalang mau masuk Brebes, kembali pemudik bisa melaju dengan kencang, apes bagi ane, pas lewat situ velg merk V rossi Sprint yang ane beli dulu, retak dan ban gembos.
Ceritanya pas riding di belakang seorang pemudik, gak sengaja ane ngehajar lubang yang keliatannya cukup kecil tapi ternyata dalem saudara. maklum tadinya ketutupan sama biker pemudik tadi, kayaknya sih biasa aja, la dari Jakarta lewat jalan yang naik turun sampe motornya lompat lompat udah biasa aja. Eh ternyata setelah lewat lubang kecil tadi, kok rasanya motor agak oleng, ane pun berhenti untuk ngecek, yah benar saja ban belakang udah kempes, ane pun tetep naikin pelan2 sampe ketemu bengkel, di depan ketemulah sama bengkel pinggir jalan, cuman saya cari orang/tukangnya ga ada, yaudah ane jalan lagi aja, sampai, ane saat itu masih ngira ini ban ane bocor, belum tau kalau habis udaranya gara2 velg retak.

Lalu pas jalan pelan2 ketemulah sama tukang tambal ban, tapi posisinya ada di seberang jalan lagi, arah jakarta, ane pun melipir ke kanan, untuk bisa nyeberang di tengah lautan mobil dan motor, sein ane hidupin.

Setelah sampai ane tanya bisa ga tambal ban tubeless, dan ternyata bapaknya bisa, alhasil ban ane lalu dipompa lalu diberi air sabun dicari mana yang kelihata ada udara yang keluar dari ban, ternyata udaranya keluar dari retakan velg tadi, sedangkan bannya ga ada yang bocor. oleh tukangnya sementara pake ban dalam dulu, dan dipesenin jangan jalan kenceng2 dulu dikhawatirkan velg yang retak tadi bakal bisa pecah dan membahayakan. yaudah deh,manut, biaya habis 50 ribu,

Alhasil ane jalan dari Pekalongan sampai Boyolali max speed cuman dipatok 80 kmh, pelan pelan banget ga bisa lari.

Buka puasa di Pekalongan, mampir di wedangan pinggir jalan, karena ane tadinya haus banget sampe2 ane habis 2 liter air akua langsung. bener2 balas dendam ya kalo ini.

Hujan deras di Batang
Sampe Batang Kendal kadang hujan deras, ketemu Alas Roban ane pilih jalur jalan baru saja belok kanan, di jalur baru ini disalip sam Bus Sahabat yang lagi mosak masik, pas ane di jalur kiri dari belakang Bus sahabat nyalip dari lajur kanan, ane aja ga berani ngebut karena pandangan terbatas, beda dengan pandangan sopir bus yang mungkin lebih jelas, jadi dia berani kenceng, begitu nyalip ane, di depan ane liat bus sahabat nyalip juga bus pariwisata yang sedang berjalan di lajur kanan, pas nyalip dari kiri tersebut, bus sahabat bunyiin telolet, habis nyalip langsung goyang kanan, sensasinya luar biasa kalau dilihat dari atas motor, ternyata di lajur kiri ada truk yang berjalan pelan, mungkin ini kalau dilihat dari atas bus biasa aja, tapi kalau diliat dari atas motor emang memberikan sensasi tersendiri haha, Ini Sahabat kemungkinan besar udah telat banget masuk Semarang, la di Brebes Pekalongan macetnya kayak gitu berjam-jam, bahkan liat di berita ada yang macet sampe 9 jam di Exit Tol Brebes, atau orang menyingkatnya jadi Brexit hehe

Perjalanan pelan2 ane liat para pemudik juga jalannya pelan2 banget, ya wajar karena posisi jalan gelap ditambah jalan licin karena hujan, Akhirnya jam 9 ane nyampe Tuntang Salatiga, mampir makan dulu di Rumah Makan kanan jalan, lupa ane namanya, pokoknya makannya bisa ambil sendiri sepuasnya gitu, nasi lele, mantab pokoknya
Selanjutnya ane malanjutkan perjalanan dan sampai rumah jam 10 malam
Total perjalanan Mudik dengan motor hari sabtu tanggal 2 Juli 2016 17 Jam via Pantura, biasanya ane kalau lancar bisa 9 jam, la ini dua kali lipat waktunya, entah yang pake mobil/bus bisa lebih mungkin bisa lebih.
Met lebaran
Read More...

Wednesday, January 27, 2016

Pengguna Jalan yang bikin kesel, Ah ga juga, bisa jadi Lu nya aja yang sok kesel


Spoiler for Di tengah jalan tapi pelan - pelan:Ini yang bikin jengkel no 1 dengan pedal gas ga sampe separuh injak . Nih ya pengguna jalan, untuk ente yang lagi nganggur atau lagi cari makan di luar bareng doi atau tidak sedang kebelet BAB tolong yah kalo mau jalan pelan - pelan kenapa nggak ambil lajur kiri aja ? Gini kan bisa kasih kesempatan untuk mereka yang kebelet BAB supaya mendahului ente. Nggak sepeda motor atau mobil sama aja dah, apalagi kalo mobil pribadi udah di lajur kanan dan jarak dengan depan space nya terlalu kosong jauh sehingga lajur sebelah bisa memotong jalan. Kita yang di belakang sudah langsung jengkel aja, taunya ternyata sang sopir menyetir sambil hapean . Kalo untuk sepeda motor nih biasanya emak - emak.

Ada mobil di lajur kanan, lah ente kalo pengen lewat kiri ya tinggal lewat aja, kurang kerjaan amat, sampe protes segitunya. Lewat tinggal lewat aja, la ada jalan kosong juga

Di belakang dump truck, fuso, truk tangki atau tronton:
Next, ini biasanya terjadi di tol 2 lajur dan siapkan mental dan kesabaran ente ketika 2 lajur dipenuhi salah satu truk bermuatan berat karena ente pasti akan jengkel, mau masuk di bahu jalan takut kena tilang, mau nyalip tapi ndak bisa. Mau ndak mau ya nunggu salah satu maju sehingga ada celah buat menyalip . Dan ente jangan sekali kali menghujat mereka ya sejengkel apapun dan se kebelet apapun BAB ente, karena mereka juga punya alasan untuk tidak menambah kecepatan karna muatan yang sangat berat. Pernah liat truk gede ngebut ? Kalo muatan kosong mah banyak.

Sebenarnya ini juga bukan untuk dijadikan alasan sebel, namanya juga truk gede, pasti jalannya pelan, bawa muatan ga semudah yang lu kira

Parkir nanggung dan ga rapih
Inget ya, se kebelet apapun BAB ente jangan sampe parkirnya nanggung dan ban depan kagak dirapihin. Itu bikin jengkel orang yang mau parkir setelah ente, kalo di mall biasanya ada tuh garis pemisah antar parkiran mobil maupun motor nah gitu itu masih ada aja yang parkirnya mepet garis pemisah, jadinya kan sopir mobil mengikuti parkir mobil yang nanggung tsb sampe di ujung parkiran tuh ada mobil yang nggak dapet space cukup untuk parkir . Sepeda motor juga kalo mau parkir pinggir jalan jangan ambil space banyak, dan jangan lupa dipepetkan di pembatas jalan supaya motor lain bisa parkir. Jengkel gak ?

Ini pinter2nya ente aja ngambil jalan, kalo ente ga pinter ya nyenggol lah, ini ts mau balapan apa gimana sih?

Spoiler for Jalan sempit dan parkirnya tambah ngawur, orang - orangnya pura pura buta:
Ini kejadian ane alami sendiri, cuman waktu itu ane nggak sedang kebelet BAB. Jadi ane masuk gang sempit yang cukup untuk 2 mobil lajur. Gang tsb nggak seberapa ramai sih cuman banyak orang jualan di pinggir gitu. Nah waktu itu ane bawa mobil, ada lah pas papasan sama mobil berlawanan arah, waktu itu jalan yang harusnya cukup bisa buat papasan, malah harus jadi bergantian gegara ada motor yang parkirnya makan jalan terlalu banyak, pernah ya waktu itu ane klakson tapi yang terjadi sang pemilik kayak tiba2 amnesia sesaat makanya pura - pura nggak tau aja bisanya, akhirnya temen ane dah yang bantu meminggirkan motor tsb. Wah bener - bener bikin jengkel.

Wah kalo ini mending dihindari jalan kayak gini, tapi demi ketertiban ane dukung deh, tapi ga benci2 juga.

Pas putar balik atau belokan
Banyak pahlawan hebat nih yang bikin jengkel ketika putar balik maupun belokan. Masbro yang namanya putar balik itu ketika posisi ente sebelum berputar ada di lajur kanan maka setelah berputar pun posisi ente juga ada di lajur kanan. Rata - rata setelah putar malah ambil lajur kiri, akhirnya lajur kiri yang harusnya ndak berhenti jadi berhenti, ini bikin orang yang kebelet BAB tadi jengkel karena langsung dipotong gitu lajurnya, walaupun ente setelah putar langsung belok, cuman kan harusnya berputar dulu baru belok setelah dari lajur kanan.
Yang kedua ada di belokan, banyak banget orang pinter sampe - sampe mau belok ke jalan yang searah aja nggak lihat jalannya dulu alias asal belok, wah ini bikin mobil atau motor di belakang jadi injek rem depan belakang kaget sampe keluar angin di celananya ups, bukannya jalan lurus itu prioritas ya.Tengok dulu lah jalannya walaupun ente beloknya ke jalan yang searah.

Kalo ini ane ga bisa njelasin gimana situasinya, sesuai pesan ts, yang penting hati2 mengantisipasi hal kayak gitu, kalo ts hati2 ya Insyaallah bisa diantisipasi hal2 seperti ini.

Dikit dikit injek rem:
Biasanya mobil nih, emang ya kita sesama pengguna jalan harus saling menghormati termasuk newbie dalam berkendara yang suka dikit - dikit injek rem, dikit - dikit lampu rem nyala padahal di depan sebenernya masih bisa melaju atau aman. Jangan dihujat gan walau ente jengkel, mungkin ente dulu juga gitu. Tahan aja gan jengkelnya selama ente klakson tuh mobil masih mau minggir memberi jalan (berarti sopirnya sadar kalo di belakang ada yang kebelet BAB)

Kali ini setuju banget

Penyebrang ragu ragu dan nekat !!:
Ini sangar gan, yang biasa dialami pengendara ialah ketika menghadapi penyebrang yang ragu - ragu nyebrangnya. Nah pengendara disini jadi serba salah, mau maju duluan eh yang nyebrang ikut maju, mau berhenti juga si penyebrang malah berhenti. KAN JENGKEL ! Misal jalanan sepi ente kasih aja kesempatan untuk doi nyebrang. Sambil kasih isyarat untuk menyebrang (jangan isyarat jari tengah gan). Menolong itu pahala ya kan gan.

Sebenarnya judulnya jangan hal2 yang bikin kesel kali ya, hal2, menurut ane tepatnya dikasih judul respect di jalan ala ts, karena si ts ini pake sudut pandang dirinya sendiri, dengan harapan didenger oleh mereka yang berkepentingan. Ngomong2 soal respect kayak tema bismania tahun 2016 Respect to others ya.\

Oiya sumber artikelnya dari sini
Read More...

Sunday, January 3, 2016

Mudik Libur Naik Motor

Catatan naik motor mudik
Sebenarnya bingung juga akan menceritakan apa soal mudik naik motor ini, karena sudah banyak artikel yang mengulasnya, kalau kalian search, mudik naik motor sudah pasti nongol artikel tentang mudik naik motor yang sudah sudah, oke, ga papa, kali ini saya tuliskan saja versi saya.
Langsung saja akan saya bagi menjadi dua, yaitu perjalanan pulang kampung, yang kedua perjalanan balik. Biar lebih jelas tak ada salahnya saya catatkan rekapan perjalanannya.
Perjalanan Pulang kampung
Start pukul 03.22 WIB Pagi hari dari Rawamangun Kilometer di odometer 327146(0 kilometer)
Pukul 04.25 WIB nyampe pom bensin jalan baru karawang, 327683(53 kilometer)
Pukul 05.53 WIB berhenti di pom bensin Indramayu, 328143 (kilometer 99)
Pukul 07.45 WIB berhenti di pom bensin Brebes 329891 (kilometer 274)
Pukul 09.23 WIB berhenti di pom bensin Pekalongan 330844 ( kilometer 369)
Pukul 11.13 WIB berhenti di pom bensin Kalibanteng Semarang, arah Solo 331864 (kilometer 470)
Pukul 12.25 WIB finish Boyolali 332482 (kilometer 533,6) 9 jam 3 menit

Perjalanan balik ke Jakarta
03.26 Wib, 333843 berangkat dari Boyolali (kilometer 0)
04.33 WIB, 334610 Solat subuh di Mangkang (kilometer 76)
06.16 WIB 335625 nyampe di Pekalongan-Pemalang (kilometer 178)
07.51 WIB 336716 nyampe di Cirebon (kilometer 287)
08.15 WIB 336882 bengkel kota cirebon, ganti oli (kilometer 303)
09.41 WIB 337676 Bensin Indramayu (kilometer 383)
11.39 WIB 338814 Karawang (kilometer 497)
12.47 WIB 339222 Jakarta Timur (kilometer 537) (9 jam 21 menit)

Rincian detail
Perjalanan Mudik dari Jakarta ke Boyolali
Start pukul 03.22 WIB Pagi hari dari Rawamangun Kilometer di odometer 327146(0 kilometer)
Lewat Jalan raya Bekasi Timur Raya, dari Jatinegara ke timur lurus, kalau sampai di Klender Timur ada jalan layang ambil yang bawah saja karena kalau naik jalan layang, akan mengarah ke utara, ambil yang bawah yang arah lurus ke Bekasi. Mungkin ga biasa ya jalan layang kok malah ngarah ke kiri, biasanya jalan layang kan arahnya lurus, tapi disini beda. Pagi pagi jam setengah empat, jalan tidak begitu ramai, hanya ada satu dua motor yang lewat, tidak sepi sepi amat, beda dengan jam kerja atau menjelang matahari terbit pasti jalur ini sudah ramai dan cenderung macet , terutama di persimpangan-persimpangan. Di jalur ini dilewati juga jalur busway, jadi harus hati-hati terhadap separator yang minim tanda.

Sampai di Bekasi saya kelewatan, yang harusnya belok kanan menuju arah Jalan ke Bogor, Pekayon, Stadion, eh malah lurus, mungkin karena gelap, jadi jalan layang yang saya gunakan sebagai tanda belok kanan terabaikan begitu saja, apalagi pagi itu sepi, jadi bisa agak kenceng larinya.

Alhasil ga belok tadi saya harus lewat pasar tumpah, batin saya jam setengah empat pasar udah pada kerja, benar-benar luar biasa ya, disaat mungkin orang masih terlelap, para pedagang jam segitu sudah menggelar dagangan, terlihat sayur sayuran yang baru diturunkan dari mobil sudah diserbu pembeli yang nantinya mungkin akan dijual lagi disana.
Entah pasar apa, jalan yang tadinya empat lajur, sekarang jadi hanya satu lajur saja di sebelah kanan, karena sebelah kiri digunakan untuk pasar tumpah. Bener-bener macet, motor harus berjalan pelan di belakang mobil yang kebetulan juga lewat situ. Tapi tidak lama kemudian lepas dari kemacetan.

Sempat bertemu motor plat R mengarah ke timur, tapi saya salip dan tinggalkan, karena jalannya pelan-pelan banget.
Pas lewat pasar masih ga sadar ini ada dimana, kok belokan ke kanannya ga nongol nongol ya, sampai lama banget di jalur itu bener apa engga, ah yakin sajalah, pokoknya ngikut jalur besar yang dilewatin bus-bus, pikirku. Karena gelap, sempet kejadian jumping, saat melewati pergantian jalan beton, sempet berpikir was-was sejak memakai velg racing variasi. Kalau pake jari-jari, meloncat seperti itu rasanya tidak terlalu masalah, tapi setelah meloncat tersebut, saya rasakan tidak apa-apa, yaudah lanjut, hehe.

Semakin lama mengendarai di jalur itu masih penasaran, ini bener ga ya, speed saya waktu itu menyesuaikan dengan kondisi, kalau jalanan jelas bisa sampai 100 kmh di spedometer, tapi kalau jalanan ramai, atau keliatannya gelap, ya menyesuaikan, tidak terburu waktu.

Sempat berpikir pasti saya sudah kelewatan tadi jalan belok kanannya, la biasanya kalau belok kanan lewat jalan Stadion Bekasi, ga lewat jalan yang ada pasar-pasarnya gini, kalau lewat jalan yang benar kan ketemunya kendaraan-kendaraan besa, bus tronton, trailer dsb, la tadi kok bisa ya saya lewat jalur kecil. OK gapapa setelah pasar tadi memang tembusnya jalan raya besar yang dilewatin kendaran besar, jadi saya lanjut saja tanpa bertanya-tanya dulu.
Jalur Jakarta yang harus diwaspadai dikala gelap yaitu lubang dijalan yang ditutup besi, tapi dari pengamatan saya tadi tidak menemukan lubang tersebut. Mungkin karena tipe jalan besar ya, maksud saya lubang yang ditutup besi, yang di bawahnya ada semacam saluran air.

Lanjut-lanjut sampai Karawang, (loh udah sampai Karawang saya), saya sendiri juga heran, ketemulah tulisan belok kiri arah Cikampek, lurus arah kota Karawang. Saya ambil langsung ke kiri, sampai sini keyakinan bertambah bahwa inilah jalan yang benar, pagi itu masih sepi ya. Dan di Jalur itu sekarang ada pom bensinnya, perasaan tahun 2010 lewat situ masih belum ada. Sampailah saya di Pom bensin, kemudian mengecek google map, lah udah sampai Ringroad jalan baru Karawang ternyata y.

Pukul 04.25 WIB nyampe pom bensin jalan baru karawang, 327683(53 kilometer)

Disin berhenti sebentar untuk sholat subuh karena waktunya sudah masuk. Selesai solat saya lanjut perjalanan tanpa isi bensin karena masih mencukupi. Pagi masih gelap, di sini karena sepi laju motor cenderung stabil di 100 kmh, karena masih sepi dan tentu kondisi jalur lurus dan bida terpetakan, tidak terlalu banyak lubang, cuman ada beberapa tambalan lubang jalan yang diwaspadai, kenapun tidak masalah, tapi memang lebih nyaman bila saya hindari saja.
Keluar ringroad, saya langsung belok ke kiri arah Cikampek, masih gelap jadi masih bisa melaju dengan lancar jaya, speed masih menyesuaikan denan situasi dan kondisi, di Cikampek ketemu lagi Matic plat R, tapi karena saya lihat jalannya santai, yaudah saya tinggalin saja. Cikampek, Subang menjelang terbitnya matahari banyak sekalih serangga bertebangan di jalan, sampai-sampai kaca mika helm saya entah sudah membunuh berapa banyak serangga yang kebetulan tertabrak, saya usap eh malah jadi blur pandangan saya, jadi saran saya dibiarin saja, nanti dibersihkan saat di tempat peristirahatan. Di Jalur Subang Indramayu ketemu plat E yang jalannya kenceng, mungkin sudah hapal jalan kali ya jadi jalannya kenceng, saya ngekor dibelakang, karena dengan ngekor pas jalan masih gelap akan lebih terbantukan dibandingkan jalan sendiri, terutama soal kondisi jalan, apakah jalannya jelek atau disitu ada apa kan motor depan keliatan duluan, beda dengan jalan sendiri, tidak bisa maksimal. Ngekor tidak terlalu dekat, tapi kok semakin lama semakin jauh ya, motor saya saya batasi maksimal 100 kmh saja, mungkin orang itu kecepatannya lebih, jadi semakin lama semakin menjauh.

Pukul 05.53 WIB berhenti di pom bensin Indramayu, 328143 (kilometer 99)

Disini isi bensin 20 ribu, Setelah itu saya duduk2 sebentar kurang lebih 15 menit menyenderkan punggung di kursi yang ada di depan mushola, jalan sudah keliatan, matahari sudah muncul saya lanjut perjalanan.
Sampai juga di Kota Cirebon, saya jadi inget kalau sampai Cirebon pasti nanti ada razia, berkali-kali saya cek lampu depan saya apakah mati ataukah masih hidup, mengingat tadi banyak melewati goncangan-goncangan. Ternyata masih hidup, jadi aman, hhe,

Dan apa yang saya perkirakan benar, menjelang perbatasan Cirebon Brebes, tapi masih masuk Cirebon, masu jalur Pantura Luar kota pemotor diberhentikan petugas berseragam memeriksa kelengkapan surat. Melihat mereka sayapun langsung cek lampu depan, wah masih hidup, sampai di depan masih merasa aman, saya keluarkan surat2 penting saya STNK dan SIM C, aman, tapi saya kenanya gara2 tas saya saya taruh di depan. Jadi sebaiknya nanti-nanti tas ditaruh dibelakang saja.
Perjalanan dilanjutkan, memasuki Brebes, rasanya jalan semakin kurang bersahabat, saya pun harus berusaha mencari jalan yang mulus yang ga ada jalan rusaknya.

Pukul 07.45 WIB berhenti di pom bensin Brebes 329891 (kilometer 274)

Brebes Tegal, Pemalang saya lewatin begitu saja, pagi-pagi tidak menemui kemacetan yang berarti, juga kendaran cenderung masih sepi dan lancar, Pantura dari Brebes ini jalanan relatif lebih ramai karena ada tambahan arus dari tol. Truk truk juga tidak terlalu banyak, dari Pemalang ini nyalip sama mobil mobil pribadi yang saya ingat nanti saya salip lagi di Mangkang, karena mobil kan jalan terus, sedangkan saya harus berhenti untuk mengisi bensin dan istirahat. Kota Brebes tidak ketemu sama jalan yang lubangnya besar banget seperti tahun 2010 lalu, jalan sebagian besar sudah dibeton, begitu pula di Kota Tegal, lewat jalan Beton yang belum dilapisi aspal, sehingga masih terasa naik turun. Gampang sekali mengarah Semarang karena jalurnya sudah ada papan arah menuju Semarang. Kita tinggal mengikuti saja jalur tersebut. Sampai di Pemalang saya lewat ringroad yang sekarang sudah lebar jalannya, kalau dulu kan sebagian masih dua lajur saja, harus blong-blonga, sekarang sudah lebar selebar jalur pantura yang terdiri empat lajur

Jalan terus dan terus akhirnya memasuki gerbang kota Pekalongan.

Pukul 09.23 WIB berhenti di pom bensin Pekalongan 330844 ( kilometer 369)

Berhenti isi bensin 20 ribu, dan beli cemilan karena tadi belum sarapan sama sekali, biar perut tidak kosong yang kalau ga makan sama sekali bisa menyebabkan magh. Jadi tetep makan walau bukan makan besar. Setelah itu lanjut lagi, perjalanan dilanjutkan mengikuti papan arah Semarang, sampailah di Batang kemudian alas roban, saking kencengnya nyalip bus sampai kelewatan mau belok Jalan baru alas roban, yaudah gapapa lurus saja lewat jalur yang menurun dari arah barat.

Sampai di pertemuan jalur baru tadi ternyata bus yang saya salip tadi sudah berada di depan, walah ternyata memang lebih cepat lewa jalur baru ya. Lanjut melewati jalur Kendal, Terminal Mangkang, akhirnya masuk semarang juga. Lewat Kalibanteng cari jalan arah Solo, selanjutnya isi bensin lagi.

Pukul 11.13 WIB berhenti di pom bensin Kalibanteng Semarang, arah Solo 331864 (kilometer 470)

Boyolali tinggal 60 an kilo, kalau lancar waktu tempuh bisa satu setengah jam lagi, yasudah disini saya ga istirahat, tapi langsung cabut, membelah lalu lintas kota Semarang yang terasa tidak terlalu macet.
Pukul 12.25 WIB finish Boyolali 332482 (kilometer 533,6) 9 jam 3 menit habis bensin 100 ribu, Istirahat dua kali saja. Jalan santai, sesuai kondisi tidak terpatok harus sampai tujuan sampai jam berapa. Tapi rata2 perjalan pulang lancar jaya tidak menemui kemacetan, tidak ketemu pula perbaikan jalan, apalagi jalan tol sudah dibuka, mengurangi beban kendaraan. Motor yang digunakan hsx 125 dd tahun 2006, velg depan belakang sudah diganti velg variasi racing, ban depan ban tube type, ban belakang tubeless, selama di jalan tidak mengalami ban bocor atau kendala mesin. Speed dibatasi maksimal 100 kmh, sebenarnya bisa lebih. Disesuaikan dengan kondisi lalu lintas, jalan, itulah perjalanan Pulang kampung, yang mana yang penting dari perjalanan ini adalah, berdoa sebelum berangkat, konsentrasi di jalan, jangan terpaku sampai tujuan jam berapa, taati peraturan lalu lintas. Perjalanan kali ini juga tidak menemui hujan. Cuaca masih cerah, hanya mendung saat melintasi Semarang sampai Boyolali.


PERJALANAN BALIK KE JAKARTA DARI BOYOLALI

Perjalanan balik ke Jakarta

03.26 Wib, 333843 berangkat dari Boyolali (kilometer 0)

Persiapan mulai dari pakaian, mantol, apa yang perlu dibawa. Setelah siap, jam setengah empat berangkat. Sampai Salatiga lewat ringroad, tanpa melewati kotanya. Sampai di Ungaran ketemu sama travel travel yang jalannya kenceng.

04.33 WIB, 334610 Solat subuh di Mangkang Semarang (kilometer 76) isi bensin 20 ribu)

06.16 WIB 335625 nyampe di Pekalongan-Pemalang (kilometer 178)(isi bensin 20k)

07.51 WIB 336716 nyampe di Cirebon (kilometer 287)

Disini pas berhenti di lampu merah, dikasih tau pengendara lain kalau plat motor belakang mau lepas, terima kasih, akhirnya jalan pelan2 pelan sambil nyari nyari bengkel motor , setelah ketemu walau kelewatan bentar puter balik.

08.15 WIB 336882 bengkel kota cirebon, ganti oli (kilometer 303)

Disini memperbaiki plat polisi yang hampir copot, dicarikan baut pengganti yang sudah hilang. sekalian ganti oli karena perhitungan sudah mencapai 1800 km dari ganti oli terakhir, yaudah saya ganti sekalian, sementara motor diganti oli, saya isitirahat di bengkel tersebut. Saya ganti oli yang kekentalannya SW 20 50 merk federal 0,8 liter.
Setelah selesai perjalanan dilanjutkan menuju barat, sampai persimpangan saya belok kanan, kalau lurus arahnya ke Bandung, ke kiri arahnya Jakarta, yang nantinya ketemu pintu tol Palimanan, setelah itu lurus terus sampai Indramayu.

09.41 WIB 337676 Bensin Indramayu (kilometer 383)
pas istirahat ternyata samping jalan raya adalah pantai
Memasuki ringroad karawang hujan turun dengan deras, motor-motor berhenti untuk memakai jas hujan, sisanya mencari warung-warung buat berteduh karena tidak memakai jas hujan. namun begitu mendekati jalur keluar ringroad, hujan reda.

11.39 WIB 338814 Karawang (kilometer 497)

Disini sempat tidur2an di pom bensin sebentar kurang lebih 15 menitan, sekaligus isi bensin lagi. Perjalanan dilanjutkan menuju Bekasi, dari Cikampek, karawang ini mulai sering ketemu sama macet, lalu lintas semrawut khas Jakarta sudah terasa disini.

12.47 WIB 339222 Jakarta Timur (kilometer 537) (9 jam 21 menit)

Perjalanan tidak sampai nyasar karena sudah hafal, 5 kali lewat, menghabiskan bensin 100 ribu dengan jarak 500 kilometer dengan waktu tempuh 9 jam. Tidak menemui kemacetan yang macet banget, tidak juga ketemu sama perbaikan jalan. Speed max 100 kmh di spedometer, tergantung kondisi juga, tidak terpatok sampai tujuan jam berapa. Masih menggunakan hsx 125.

Sekian catatan perjalanan saya, terima kasih.
Read More...

Wednesday, December 23, 2015

Naik Motor Jakarta Bandung dan Rute Tercepat menurut ane


Naik Motor Jakarta Bandung dan Rute Tercepat menurut ane
Dari Jakarta menuju Bandung atau sebaliknya ada tiga pilihan yang bisa dilalui bila menggunakan sepeda motor, yaitu melalui puncak, kedua melalui Jonggol, ketiga melalui Purwakarta. Kalau saya hitung jarak ketiganya sama sama 150 kilometer jaraknya. Perbedaannya akan saya jelaskan satu persatu.


Melalui Puncak
Dari Jakarta Cawang lurus keselatan melewati Cililitan yang macet, kemudian sampai di Pasar Rebo, fly over naik ke atas. Lurus ke selatan ga usah belak belok pokoknya, di Jalan Raya Bogor ini sempet macet karena pas ada kegiatan penggusuran kios di pinggir jalan. Lurus sampai Bogor Baranangsiang, keselatan lagi, sampai mentok, kalau sudah mentok ketemu tol, baru belok kanan naik ke puncak, hawanya dingin disini, kadang ketemu juga sama kabut, jadi kendaraan sampai harus menyalakan lampu. Di puncak pemandangannya bagus, jalan menikung menanjak, motor bisa dimiring miringkan bak pembalak, apalagi sudah pake tubeless lebih enak buat miring-miring.
Setelah Puncsk, jalan mulai menurun lagi, dan ketemu jalan lurus berarti mau masuk cianjur yang mengingatkan saya dengan ikan bakarnya. Sampai di Cianjur sekitar pukul 2 siang, tadi berangkat dari Jakarta jam setengah 10, 4,5 jam baru sampai di Cianjur, sampai Bandung 6 jam, dengan istirahat sebanyak 2 kali.

Melalui Jonggol

Dari Jakarta menuju arah timur ke Bekasi, sampai Pekayon belok ke selatan mengikuti plang arah Bogor, lurus, disini relatif lebih sepi dibandingkan jalan raya bogor, dan kalaupun macet motor masih bisa melaluinya baik dari sisi kiri maupun kanan, kebanyakan yang lewat sini truk-truk besar. Lurus terus keselatan mentoknya nanti setelah sampai di Cileungsi Harvest city ya karena memang papan petunjuknya ditulis seperti itu. Sampai di Cileungsi, jalan layang belok ke kiri mengikuti papan petunjuk yang mengarah ke Jonggol, Cianjur. Jalur ke Jonggol sudah halus, cuman jalur Jonggol keselatannya yang kadang halus kadang engga, namun tidak terlalu parah jalannya, jalurnya juga lebar berkelok-kelok, melewati pemandangan juga saat melewati perbatasan Bogor Cianjur, kondisinya sudah beraspal, namun sebagianbesar belum dilengkapi marka jalan dan lampu penerangan jalan, sehingga kalau malam harus lebih hati-hati, tidak bisa sekencang siang hari.

Yang perlu diperhatikan disini menurut saya kalau mau mampir ke Cianjur ini jalannya semakin lama semakin menyempit, dan seperti melewati jalan kampung. Juga persimpangan yang menurut saya bisa mengecohkan yang dari Cianjur ke Jonggol, karena harusnya belok kiri, tapi jalannya lurus. Apalagi kalau tidak ada tulisannya, tapi disitu sudah ada tulisannya, jadi tinggal mengikuti saja walaupun keliatannya jalannya semakin lama semakin menyempit.
Cianjur ke Bandung jalurnya lurus lancar jaya, kecuali saat memasuki Padalarang, macetnya panjang banget, kirain ada peristiwa laka atau apa eh ternyata sampai ujung, ga ada kecelakaan, hanya saking padatnya memasuki lampu merah, macet 7 kiloan kira-kira.

Saya ga sempet ngitung berapa lamannya, tapi sempet ngitung jaraknya menggunakan google map jaraknya sekitar 150 kilometer Jakarta Bandung via Bekasi Jonggol Cileungsi. Karena tadi harus muter muter dulu, tapi saya perikirakan lebih dari 4,5 jam.

Melalui Purwakarta

Ini adalah jalur favorit ane, karena jalannya yang lebih sepi, lebih indah pemandangannya, lebih lurus juga. Kalau dari Jakarta arahnya ke timur Bekasi, Cikarang, terus ke timur seperti jalur mudik kalau dari Jakarta, lalu lewat ringroad Karawang, yang ternyata sekarang lebih rame dibandingkan tahun 2010 lalu saat masih baru-barunya. Ketimur sampai Cikampek, cari arah keselatan arah Purwakarta.

Dari Purwakarta ke selatan ini jalurnya enak buat cornering, kanan kiri pemandangannya bagus, kadang melewati atas tol, kadang melewati bawahnya, disini melewati juga rute kereta api Jakarta yang via selatan, total waktu Bandung Jakarta via Purwakarta naik motor, Cikampek Bekasi, 4,5 jam, termasuk waktu istirahat sekali di Cikarang karena mau isi bensin dan waktunya solat kurang lebih setengah jam.

Kesimpulan saya diantara ketiganya, jaraknya sama-sama150 kilometer, Jalan yang paling banyak macetnya adalah lewat Puncak, kedua Jonggol, peringkat tiga lewat Purwakarta. Kalau Paling rame warung-warung kiri-kanan jalan adalah jalur Puncak, kedua Purwakarta, ketiga Jonggol. Jalan paling lebar dan halus adalah lewat Purwakarta, karena lewat pantura, Waktu tercepat adalah lewat Purwakarta 4,5 jam sampai, beda dengan lewat yang lain, 4,5 jam baru sampai Cianjur.

Sekian catatan dari saya, semoga bisa memberikan informasi bagi nyasar ke blog saya.
Read More...