Showing posts with label sehat. Show all posts
Showing posts with label sehat. Show all posts

Saturday, May 9, 2026

Reviu Rute Jogging di Kota Tua Semarang dan Polder Stasiun Tawang


Selamat siang semuanya, kali ini saya akan mencatat lagi reviu rute lari di daerah Kota Lama/Tua Semarang, bagi yang penasaran silahkan baca terus tulisan di bawah ini.


Catper kesana
Angkutan umum
Perjalanan berangkat naik KA Menoreh JNG 13:46 - SMT 19:22
13:10 WIB (36 menit sebelum jadwal)
Start awal

13:20 WIB (26 menit sebelum jadwal)
Sampe Halte awal, transit di JNG, TJ 11 lama sekali datangnya, akhirnya turun halte jalan kaki lari kecil ke stasiun,

13:25 WIB(21 menit sebelum jadwal)
Sampai Stasiun, dengan kondisi penuh keringat, langsung masuk menuju lantai 2, print tiket di mesin cek in mandiri dengan memasukkan kode booking.



Catper versi II
12:47 WIB
Start awal

13:10 WIB
Sampai Stasiun (masih 36 an menit)
jadi kesimpulannya sebaiknya 1 jam sebelum keberangkatan start awalnya


13:46 WIB
Start JNG
ternyata konfigurasi kursi memakai kelas ekonomi model terbaru versi 1 yang awal awal banget yang sempit, yang kapasitasnya 88 kursi terdiri dari 22 baris x 4 kursi per baris=88kursi.
yang ternyata benar terlalu sempit menurut saya, terutama di bagian kaki, karena di depan kaki tulang kering ada besi kursi depan kita yang terlalu rendah. Selain itu pijakan tangannya juga keras, tidak ada pelapisnya. Positifnya kereta ini yaitu berhenti di stasiun sangat singkat.

19:20 WIB
Sampai St Tawang, sampai sini isi perut dulu langsung.

Makan malam
untuk makan malam, dulu saya pernah ke warung sego bancakan pawone Simbah1, entah sekarang masih buka apa tidak, karena kali ini, saya makan di stasiun saja. Bagi yang paham kuliner disini silahkan komentar saja di bawah ya.

Nginap dimana?
Lari tanpa tidur menurut para ahli, sangat berisiko bagi jantung, jadinya tidak ada salahnya merencanakan akan nginep dimana sebelum lari.
Untuk nginep, bisa saja langsung nginep di tempat teman/saudara, atau juga bisa menginap di hotel sekitar sana, ada yang mahal ada yang murah, kalau saya pernah mencoba hotel sleep and sleep, dari hasil pencarian dari google mana yang dekat, tarif promo 45K semalam, diskon karena memang pas bukan hari libur/weekend.

Untuk menuju penginapan tadi, dari Stasiun Tawang jalan kaki sekitar 1 km, sayang sekali beberapa titik, harus turun ke jalan raya bersanding dengan kendaraan umum, karena tidak ada trotoar pejalan kakinya, kalau bawa koper sesekali harus diangkat karena melewati jalur paving.

Fasilitas penginapan
Hotel dengan model kamar kapsul ala backpacker, fasilitasnya buka 24 jam, CCTV, AC, loker pribadi, kamar tidur dan kamar mandi terpisah laki-laki dan perempuan, kamar mandinya khusus di luar kamar semua, mushola, bagi yang pengen jajan, disitu dijual makanan ringan pop mie kopi dll, terpantau juga jual kemeja batik, mungkin menyediakan bagi yang lupa bawa baju batik saat kondangan ya.

Di dalam kapsul ini dilarang telepon, karena pemisahnya bukan tembok beton, selain itu dilarang makan di dalam kapsul, ya memang agar kecoa/tikus tidak datang, tapi tenang saja ada tempat khusus di luar, bagi yang pengen makan/minum/telepon.
Biaya tambahannya seperti handuk 10K, dan alat mandi 10K, jika pindah tingkat 1, ada tambahan lagi 20K(yang 45K tadi ternyata tingkat 2)


Bentuk kapsulnya seperti ini, untuk lantai 2 dan 3 perlu memanjat melalui besi, unik juga


Rute lari
Selesai urusan istirahat, kita back to the topic, Rute larinya dimana? ya di sekitar kota tua saja, keliling-keliling saja, ternyata yang paling ramai orang lari adalah rute lari melingkar di polder Tawang dengan jarak melingkarnya sekitar 400 meter.

Apakah bebas asap?
bila larinya habis subuh pas, tentunya kendaraannya masih sedikit, jadinya begitu lepas jam 6 pagi, jalur utamanya sudah sangat ramai kendaraan dari arah timur, apalagi pas hari kerja. Namun masih bisa disiasati dengan memilih jalur di gangnya saja, yang tidak dilewati jalur kendaraan umumm.

Jalurnya rata?
jalurnya tidak serata jika lari di trek lari stadion, namun tetap masih bisa dipakai untuk lari, namun juga tidak sampai harus melompati undakan beton/portal.

Lokasi toilet
bagi yang kebelet pipis, terpantau ada toilet umum di depan gereja, namun entah buka atau tidak pagi itu, tidak mengeceknya.

beberapa spot foto










Alternatif Rute lari
Bagi yang pengen bener-bener lari di trek khusus, bukan di jalan umum, bebas lalu lalang kendaraan, bisa pergi ke gelanggan Tri Lomba Juang, namun kekurangannya harus menempuh perjalanan naik kendaraan umum untuk kesana dari penginapan tadi, karena kalau jalan kaki atau langsung lari kesana, jaraknya sudah lumayan jauh, sekitar 3-4km, sudah menghabiskan kuota lari 5 km ya.

Lokasi yang menurut saya berpotensi bisa dikembangkan untuk dibuat trek lari
saat melewati di daerah bangunan Syahbandar Kota Tua Semarang, terpantau sekilas lapangan di depannya menggoda sekali untuk dijadikan trek lari, sebuah lapangan terbuka, pinggirnya pepohonan, tidak bersebelahan dengan jalan raya, hanya bersebelahan dengan jalur rel kereta yang sudah dipisahkan tembok. Entah akan dijadikan apa lokasi tersebut ya, apakah dijadikan museum atau dijadikan tempat komersial. Kalau dijadikan rute lari, kondisinya lumayan juga sebagai alternatif selain jalur polder, apalagi jika jalurnya dibuat mulus seperti di bawah ini, tanpa pagar, akan menjadi destinasi ruto jogging baru di tempat ini.


Sarapan?
Untuk sarapan pagi sebenarnya ada penjual pecel di warung arah Stasiun Tawang, Warung Senggol Bu Yanti, jaraknya hanya 60 meteran dari hotel, hanya saja sayang sekali saat itu belum sempat kesana, karena taunya pas pulang.

Angkutan umum keluar kota?
Bila akan menuju ke selatan, dari penginapan bisa langsung menuju Halte Bata Johar, dengan jalan kaki sekitar 300 meter saja.

Catper dari sini
07:30 WIB
Start Sleep and sleep
jalan kaki ke arah halte Bata Johar

07:35 WIB
Sampai Halte
disini sempat ada Trans Jateng lewat, namun karena penuh, nunggu di belakangnya, pas bus belakang datang, saya kelewatan lagi karena kodenya lain, saya kira harus naik Trans Jateng kode 2 ya. Ternyata bisa naik yang kode K1 untuk menuju TIC.

07:40 WIB
Bus K1 datang, naik dari jalan raya, karena berhentinya nanggung ya.

07:50 WIB
sampai di TIC ganti bus sekitar 10 menit, lalu lanjut perjalanan arah selatan
jalur TIC sampai Bawen hanya macet di daerah Semilir Bawen, disini melewati Bus AC Lux yang jalannya pelan banget, entah rusak atau sedang ngepur bus belakangnya.

09:00 WIB
Finish Terminal Bawen
nunggu bus sebentar, ternyata Safari Lux tadi baru sampai sini, sebenarnya pengen nunggu belakangnya saja, karena terpantau Safari Lux ini tadi jalannya seperti siput. Namun akhirnya tetap naik ini saja daripada lama nunggu, kalau dulu mungkin masih berani nunggu karena jaraknya dekat, kalau sekarang jarak bus belakangnya relatif lebih jauh, jadinya naik apa yang ada saja, ternyata, diluar perkiraan, Bawen Salatiga ngebut juga.

09:35 WIB
Sampai di Terminal Tingkir, tidak masuk terminal, hanya berhenti di pinggir jalan.

10:15 WIB
sampai, total perjalanannya 2 jam 45 menit

Ongkos Trans Jateng 5K
Safari Lux 25K Bawen By

Reviu lokasi sleep and sleep
-Jalur menuju kesana dari Stasiun Tawang, beberapa melewati jalur yang tidak ramah pejalan kaki
+Dekat dengan halte Trans Semarang
-tidak ada kunci khusus kapsul, hanya tirai saja
-harus hati-hati saat akan naik ke capsul lantai 2 atau 3, karena harus memanjat
+bersih, worth it untuk sekedar tidur agar tidak kecapekan

Reviu lokasi lari
-Beberapa lorong jalan melewati bangunan yang rawan roboh sesuai plang tulisannya, jadinya harus hati-hati memilih rute.
+Ada indomaret sekitar Gereja yang sudah buka di pagi hari, saat itu menjual buah potong seperti jambu biji, pepaya, cocok untuk menambah nutrisi golden time habis lari.

Biaya
TJ 3K, KA Menoreh 230K, Hotel 45K+Ametis 10K, Handuk 10K=65K, Trans Semarang 5K, Safari Lux 5K, SJ2 221K,
=530K(belum termasuk makan, beli akua)

Referensi
1https://myspacenote.blogspot.com/2024/04/perjalanan-arus-balik-lebaran-2024.html
2https://myspacenote.blogspot.com/2026/05/sinar-jaya-78re-angkatan-pagi-matesih.html
Read More...

Wednesday, November 7, 2018

Si Bungsu

Si Bungsu, yang keluar antara 20 sampai 30 tiba-tiba merengek meminta perhatian, Lubang yang sudah sampai di pulpa membuat syaraf berasa sekali manakala makanan menyentuh-nyentuhnya. Dengan rasa penuh penyesalan terpaksa si bungsu ini rela terbuang begitu saja karena ketidaktahuan akan pentingnya membersihkan dan memperhatikan gigi.

Menurut hasil penerawangan sinar x dengan tehnik panorama, si bungsu ini posisinya tidak tegak seperti saudara di depannya, posisi si bungsu miring ke depan, meskipun miring, si bungsu ini masih mending daripada kejadian-kejadian yang saya temui di google, ada yang tertanam di gusi, yang bisa saja pertumbuhannya menabrak gigi di depannya tanpa sepengetahuan.

Foto Panoramic memperlihatkan dengan jelas posisi gigi kita dengan melihatnya seolah-olah gigi direntangkan dalam posisi mendatar, dari sini si bungsu kelihatan miring ke depan, yang membuat saya berkesimpulan lubang yang muncul ini ada kaitannya dengan posisi si bungsu ini.

Lubang tersebut dimulai dari lapisan terluar yang disebut email gigi, pada tahap ini biasanya orang belum menyadari, selanjutnya lama-lama lubang sampai pada lapisan kedua yang disebut dentin, pada kondisi ini, ditandai dengan rasa ngilu saat terkena dingin maupun panas, dan bila tidak segera ditambal, lubang akan merembet sampai pulpa yang di dalamnya terdapat syaraf gigi, bila sudah sampai pulpa, gigi tidak dapat ditambal, sebab bila ditambal, infeksi akan terus menyerang sampai akar gigi. Pilihan yang ada adala perawatan syaraf gigi, namun karena kasusnya adalah gigi bungsu yang posisinya kompleks, cabut gigi menjadi pilihan ini.

Pilihan opsi perawatan akar dilakukan dengan jalan membuang saluran akar termasuk membuang pulpa di dalamnya, pulpa merupakan tempat menyalurkan nutrisi pada gigi, bila bagian ini mati, suatu saat warna gigi akan memudar, dan perlu dibersihkan suatu saat.

Sebelum dicabut, sakitnya perlu dihilangkan terlebih dahulu, dengan cara mematikan syaraf giginya, obat ditempelkan di lubang gigi lalu ditambal dengan tambalan sementara selama seminggu, bila lebih dari 7 hari akan berbahaya karena bisa sampai tulang.

Proses pencabutan berjalan kurang lebih 50 menit dihitung sejak masuk ruang praktik sampai keluar, bius lokal mulai disuntikkan melalui gusi, selanjutnya berbagai macam peralatan digunakan dokter untuk mencabut gigi, Alhamdulilah selama proses ini tidak perlu merasakan sakit karena penemuan anestesi lokal ini, kadang gigi harus dihancurkan untuk memudahkan mengambilnya dari rahang, setelah beberapa menit, tinggalah akar gigi yang masih menancap karena posisinya yang bengkok, daripada tulang rahang di obok-obok, dibiarkan saja disitu, suatu saat akan keluar sendiri. Sungguh pertahanan tubuh yang luar biasa. Ending dari operasi kecil ini adalah ditutupnya bekas lubang gigi tadi dengan beberapa jahitan di gusi.

5 Jam pertama, beberapa keping kapas berbentuk tabung menjadi teman setia sisa hasil pencabutan untuk menyerap darah yang dikeluarkan. 10 butir antibiotik Cyndamicin, 10 butir pereda sakit asam mefanamic, dan 10 butir methylprednisolone menjadi teman setia untuk beberapa hari ke depan. Kurangi aktivitas fisik, istirahat yang cukup, makan makanan yang lunak menjadi kebiasan beberapa hari ke depan. 7 hari balik buat mencopot benang.


Read More...