Monday, April 30, 2012

touring 204, 3 kilometer (Candi Cetho, Candi Ketek, sampai Sangiran)


Rute perjalanan kali ini adalah home base menuju candi Cetho sejauh 84,7 kilometer dengan waktu 2 jam lebih 5 menit. Start pukul 10.50 am, cuaca cerah, matahari terasa menembus kulit karena hanya memakai pelindung sweater bukan jaket khusus.(gara-gara ini pula kulit saya lebih cepat gosong).
Jalur Ampel Boyolali sekarang yang terdiri dua jenis, pertama jalan dengan dua lajur sampai penggung kemudian beralih tiga lajur, yaitu dua lajur ke arah Byl dan satu lajur ke arah Ampel. Bedanya yang arah Byl tidak boleh mendahului dengan tanda garis lurus putih. kemudian jalur Byl-Sampai Sampai Kartasura yang sudah dibuat empat lajur, kondisi lancar memungkinkan memacu sampai 100 kmh tapi harus tetap hati hati dengan penyeberang jalan maupun penyeberang di persimpangan.

Kemudian masuk jalur kota di Solo, lalu lintas ramai, truk bus sampai motor tumpah ruah di jalan, ditambah dengan lampu lalu lintas di persimpangan memaksa saya memperlambat laju, harus bersabar lagi kalau lampu "bangjo" hampir semua berangka lebih dari 40 detik. (tapi bisa diatasi dengan memanfaatkan rambu "belok kiri jalan terus" jika memungkinkan). cara ini saya pakai jika lampu lalu merah masih berangka 50 ke atas, 45 detik ke bawah tidak efektif dengan cara itu, ini hasil pengalaman saja.






kemudian masuk jalur luar kota setelah memasuki Karanganyar menuju Tawangmangu. kondisi lurus dan cenderung sepi kendaraan, 80 ke atas dalam kondisi lurus tidak menjadi masalah, berbeda dengan kondisi berkelok yang dominan diperhatikan juga shock beker, karena seperti cerita saya dulu ada masalah pada pelek, sangat berpengaruh dalam mengurangi kestabilan motor saat berbelok.

memasuki gerbang tulisan "kawasan wisata Candi Cetho dan Candi Sukuh" kondisi jalan mulai berkelok kelok dengan dominasi tanjakan. Awalnya tidak terlalu menanjak, tetapi kemudian tanjakan makin banyak, menjadikan tantangan tersendiri perjalnan menuju Candi Cetho, tapi medan yang sulit menjadi tidak terasa karena pemandangan di kanan dan kiri yang indah. awalnya kiri kanan adalah rumah penduduk, kemudian yang paling menarik tentu saja pemandangan kebun teh di Kemuning, disinilah mereka mereka itu berfoto dengan latar belakang kebun teh yang terkenal ini.

Saat saya sampai di sini cuaca sedang hujan deras, menjadikan perjalanan ini punya sensasi sendiri karena hawa dingin lereng Lawu ditambah curahan air dari angkasa. Mantolpun sangat berguna saat ini, saya lihat mereka berteduh di warung pinggir jalan, menunggu hujan reda, salah sendiri gak bawa mantol?

Tibalah saya menemui rute yang menurut saya paling berkesan, karena tanjakan yang curam, sampai-sampai motor 125ku kubawa ziz zag saat "nanjak". akhirnya setelah dua jam perjalanan kelihatan juga gerbang candi hindu itu. berada di atas ketinggian seolah menyambut para pendatang yang terengah-engah dari bawah.

Parkir motor kemudian bayar karcis masuk Rp.3000,- untuk wisatawan domestik. Candi Cetho adalah Candi Hindu, di sekitarnya pun tidak ada mushola, saya yang mau sholatpun disarankan bapak yang di pos karcis tadi numpang di salah satu rumah warga. Saat wudhu air dingin seperti es.

Candi Cetho berupa Candi di lereng, semakin ke atas maka pengunjung akan menemui gerbang-gerbang dari batu. Beruntung saat saya sampai hujan telah mereda meskipun mendung masih ada. mendung atau cerah bagi saya pemandangan yang tersaji tetap mempesona. bahkan awan kabut yang terlihat jelas dari sela-sela pohon bisa menjadi objek menarik, karena selama ini hanya melihat awan dari jauh, berbeda rasanya melihat awan sedekat ini bahkan melihat awan dari atas.


Selain Candi Cetho, sempatkan pula mengunjungi Candi Kethek, sekilas yang saya baca di papannya, dinamai ketek karena banyak Kera yang ditemui. tapi saat saya kesana tidak pernah saya menemui kera, saat itu memang masih mendung tanda akan turun hujan.

Jalan menuju Candi Ketek masih berupa jalan setapak berupa hasil "keprasan" lereng. dijamin tak tersesat karena ada papan petunjuk menuju arah Candi Ketek yang disitu ada tulisan "kkn ugm 2011" berarti memang belum lama, dan tentu masih bisa dikembangkan, misalnya pembuatan jalan setapak dilengkapi pagar karena kondisi sekarang yang masih licin dan perlu hati-hati melangkah.

Puas melihat, saya pun pulang, didukung kondisi langit yang mulai menurunkan air hujannya mendorong saya untuk segera pulang. sampai di tempat parkir, dari bawah terdengar raungan mesin diesel bus mini berisi rombongan turis, kelihatan dari wajahnya mereka adalah turis dari jepang. Mereka menggunakan dua bus. bus harus antri menaiki tanjakan yang curam tersebut. Ternyata bus cukup kuat menanjak.


Saat saya pulang kabut datang hingga jarak pandang hanya sekitar 10 meter, perjalanan dilanjutkan menuju Sangiran yang tidak jadi karena sudah tutup jam setengah lima, saya sampai jam 5. sampai Solo cuaca hujan, jadilah saya pulang dengan kondisi hujan, laju kendaraan lebih pelan daripada siang, karena kondisi gelap dipadukan bintik air di mika helm membuat siluet siluet tertentu pada pandangan, hal ini menimbulkan pandangan menjadi tidak pasti, dan untuk memastikannya maka laju kendaraan harus pelan, supaya terlihat jelas apa yang ada di depan itu.

di tengah jalan ada kemacetan, ternyata di depan terlihat mobil sedang dievakuasi ke pinggir jalan. bemper lepas, mungkin habis kecelakaan atau mungkin cuman lepas tidak terlalu jelas karena gelap plus hujan. kemudian sampai di Ampel, jalur yang saya kenal hampir 10 tahun, masih seperti dulu, macet, kalau ada satu truk yang berjalan pelan, memaksa "ngeblonk", total perjalanan 203,4 km saya ukur dari selisih angka odometer, tingkat agresifitas tergantung sikon
Read More...

Saturday, April 28, 2012

Keren tapi rapuh


Beberapa hari yang lalu saya pergi ke Jogja melalui jalur Jatinom, jalur ini adalah jalur yang paling dekat menuju Jogjakarta. Sebenarnya ada jalur lain tetapi lebih jauh yaitu lewat jalur bus Kartasura. Ternyata jalur yang saya lewati tidak seperti dulu, sekarang kondisinya rusak, aspal berlubang tergerus air hujan, dan dibeberapa titik sedang dilakukan pengecoran, mau tak mau motor dipaksa lewat jalan yang rusak itu. namun setelah lewat jalan rata, motor oleng ke kiri dan kanan, dikira bocor ternyata tidak, saya simpulkan pelek racing saya bermasalah.
Menyebalkan memang bila motor yang kita tunggangi rewel, hal ini bukan tanpa sebab karena erat kaitannya dengan responsibilitas yang ujung ujungnya tentu keselamatan. Pelek racing lebih mudah bengkong daripada pelek jari tapi pelek racing atau Casting Wheel (CW) lebih keren.

Read More...

Saturday, April 14, 2012

Antara Etika dan Etiket



Saat itu pelajaran sudah dimulai, dari luar terlihat pengajar yang baru saja memulai materi. Tanpa mengetuk pintu saya langung masuk, membungkukkan badan sambil melewati pengajar menuju tempat duduk saya, teman sebelah saya bilang "Eh ijin dulu, itu etika..." kurang lebih seperti itulah yang diucapkannya yang saya pikir sebenarnya juga ga segitunya kali :D, Saya jadi ingat antara etika dan etiket itu berbeda.
Kita juga pernah membaca "Etika bertelpon dengan pelanggan" antara lain harus menggunakan intonasi yang jelas, memilih kata-kata yang halus, harus menjaga sopan santun, dan lain sebagainya. sebenarnya seperti itulah yang dinamakan etiket, karena berhubungan dengan sopan santun, kalau yang dimaksud etika misalnya "bicara di telepon tidak boleh bohong" etika berhubungan dengan moral.

Etika dan etiket dua kata yang hampir sama tapi punya makna yang berbeda, saya ambilkan contoh lain seperti saat menerima telepon dari seseorang yang mengaku dari acara kuis televisi memberitahukan anda mendapat hadiah, dengan tutur bahasa yang halus dan menjaga sopan santun etiketnya bisa dibilang baik, namun sebenarnya dia bermaksud menipu sehingga etikanya buruk.
Read More...

Saturday, January 28, 2012

Real Steel

Real Steel, Film fiksi tentang kehidupan mantan petinju tahun 2020. Dia berhenti bertinju karena petinju telah dilarang, digantikan dengan tinju antar robot. Robot petarung disini begitu canggih, hingga cara mereka bertarungpun memiliki gerakan seperti manusia yang dikendalikan dengan remote control seperti video game. Yang menarik tentu saja robot ini sendiri bagaimana sebuah robot besar yang tingginya mencapai dua meter bertarung.
Charlie Kanton yang menjadi mantan petinju adalah seorang yang punya semangat tinggi. Dia memiliki robot petinju yang dipakainya untuk menghasilkan uang, namun dia lebih banyak mengalami kegagalan dan dikejar hutang. Saat robot-robot miliknya satu persatu (Ambush dan Noisy Boys) kalah, dia tetap berusaha memperbaiki mereka walau harus mencari bagian-bagian di tempat pembuangan, disinilah kisah ini bermula saat dia dan anaknya Max menemukan robot misterius buatan tahun 2014, robot lama yang dulu terkenal karena kontroversinya, yang ternyata punya keistimewaan saat dia berada di atas ring.

Silahkana menontonnya, karena film yang diproduseri Steven Spielberg ini tentu bukan hanya melulu mengandalkan fiksi dan aksi sang robot, tapi juga ada emosi disana yang melibatkan Charlie dan anaknya Max Kenton, oke selamat menonton :D
Read More...

Tuesday, December 13, 2011

HSX Helm In My First Riding

Jalur lurus luar kota berlajur empat antara Boyolali Solo setidaknya bisa memberikan gambaran kesan pertama mengendarai bebek ini, penilaian ini bersifat subjektif dimana bisa saja berbeda. Sebenarnya pernah pula dicoba pada jalan provinsi yaitu jalur Ampel Boyolali yang berkarakter lebar, dua arah, naik turun, berkelok yang punya komposisi truk, bus, mobil, motor, tak ada becak, tak ada kereta atau pejalan kaki, tapi saya lebih suka komentar pada jalur ala pantura daripada jalur pegunungan, karena saya lebih suka mengomentari pada bagian perpindahan gigi dan top speed.


Langsung ke poinnya aja, dimulai dari menyalakan mesin, sempat mikir ini motor baru pasti bagus kalau baru, tapi kalau udah tua, dimana kita nanti sering liat busi(pengalaman), kayaknya susah liat busi motor ini karena letaknya tertutup tebeng, beda sama motor dulu yang g perlu buka tebeng buat mengecek busi, sampai sini saya pikir saya copot saja tebengnya.

kedua soal pembuka jok, saya lebih suka kuncinya dekat di jok, la ini kok buka jok malah lewat kunci kontak di depan, kejauhan! iya sekarang bagus, keliatan modern :) tapi kalau udah lama pasti susah, kayak pembuka pintu blakang mobil yang pake tuas deket sopir, sering saya lihat rusak dan pengemudi harus pakai kunci lagi bukan pakai tuas di deket kursi sopir
Iya mungkin kalau rajin ke beres pasti beres, tapi sekali lagi ini memang bersifat subjektif diri saya yang lebih suka bengkel pinggir jalan daripada pergi ke beres buat servis dan urusan lainnya.

Itu adalah kekurangannya, ga cuman liat dari tampilan tapi juga berkaitan dengan operasionalnya sehari-hari baik itu masalah busi, tambal ban, atau apalah, teknologi canggih boleh saja, tapi kalau bengkelnya tidak cukup kan repot juga.

Kelebihannya, yang pertama soal performa mesin, saya suka lihatnya dari perpindahan gigi, gigi satu ke dua saya rasakan pas di 40 kmh, gigi dua 60 kmh, gigi 3 80 kmh, selanjutnya gigi 4 buat meredam. nafas terasa ringan, 100 kmh terasa mudah dicapai dengan mesin tetap adem rpm belum pol. manstab buat touring hihi :D
kedua soal bagasi ga usah ditanya lagi,
ketiga jok lebar, ini juga ga perlu ditanya
rem ga perlu ditanya karena baru

ini baru sebatas berjalan di jalan aspal, saya belum mencoba off road, tapi dari pengalaman tersebut dapat saya disimpulkan pastilah tetep ok, walau harus punya tenaga eksrtra karena bobotnya juga lebih berat daripada yang 100 cc.
Read More...

Friday, December 2, 2011

Jamila

Entah itu lagu dari mana, perpisahan kali ini memang istimewa, dan setiap perpisahan pada dasarnya memang istimewa, ada yang mengadakan traktir makan di rumah makan, ada yang mengajak traktir di studio karaoke, ada yang mengajak ke pulau antah berantah yang tak berpenghuni sekedar merasakan hidup seperti bocah petualang, namun ujung-ujungnya juga masih bawa alat canggih seabrek.
Sederhana tapi saya yakin akan berkesan buat beliau yang telah pindah meninggalkan tempat ini. Sepasang ikan berukuran paha orang dewasa, dan sepasang udang dibakar di halaman samping rumah, diiringi musik regee dari Papua Nugini berjudul jamila. Lagu yang saya yakin bisa meledak jika muncul di televisi. Download di internet pun tidak ketemu, lagu yang biasa menjadi pelengkap angkot full musik disini.
Read More...

Sunday, November 13, 2011

Shaun the Sheep

Siapa yang belum pernah liat shaun the Sheep, acara yang biasanya muncul malam ini cocok buat ditonton sambil melepas stres, karena mengambil tema ringan namun seru dan menarik. Shaun sendiri adalah seekor kambing di sebuah peternakan di Inggris, dia menjadi kambing lebih pintar dibandingkan kambing lainnya. Selain Shaun ada juga si anjing Bitzer, si Shirley yang suka makan, Timmy seekor kambing yang masih bayi, Ibu Timmy, The Flock, si Petani, The Pigs, dan tak ketinggalan kucing bernama Pidsley.
Dibalik itu semua ternyata pembuatan ini membutuhkan persiapan yang panjang, dimulai dari ide cerita yang kemudian dituangkan dalam menyusun latar, model yang semuanya menggunakan plastisin, dipotret setiap gerakan sampai menimbulkan gerakan yang utuh membentuk adegan. Dalam situs bbc yang menayangkan serial ini mereka membutuhkan 25 gerakan per detik, bisa dibayangkan kalau ceritanya 15 menit aja ada sekitra 22 ribu foto digabung menjadi gerakan, wah.

1. Asal mula
serial ini muncul tahun 1995, walau hanya empat menit tapi langsung diminati penonton, masuk BBC pada 5 Maret 2007

2. Cerita
Ceritanya tentang berbagai macam kejadian di peternakan punya si Peternak, dengan tokoh utama Shaun, dan tokoh jahat si kucing dan si babi.

3. Story Time
Tim pembuat cerita sedang menyusun konsep sketsa episod

4. Setting the scene
Ini lagi nyusun latar, kecil juga ternyata

5. Model Making
menyusun model model tokoh yang ikut tampil



6. proping up / pelengkap dan ekspresi
yang ini lagi nyusun pelengkap. Shaun the Sheep adalah serial film tanpa percakapan, ekspresi diungkapkan lewat gerakan, atau lewat raut wajah mereka, menurut mereka ini adalah bagian yang sulit karena harus bekerja pada objek yang kecil seperti mata, alis.




sumber
Read More...