Showing posts with label sampah. Show all posts
Showing posts with label sampah. Show all posts

Friday, December 19, 2025

Barang Sekitar Kita yang Lebih Berbahaya daripada Plastik

sumber gambar8
Beberapa waktu yang lalu saya memiliki baju bekas yang sudah tidak layak pakai, seperti warnanya yang sudah memutih, sobek, dan lain sebagainya, saya pun penasaran, jika dibuang ke tempat sampah, bagaimana nasib pakaian ini? apakah bisa didaur ulang atau tidak?, saya pun mencari tahu.

Masalahnya apa?
ternyata berdasarkan hasil penelusuran, setelah berada di tempat pembuangan sampah, pakaian dengan bahan plastik/polyester tidak termasuk sampah yang dicari pemulung karena tidak bisa dijual lagi, sifatnya yang sulit untuk didaur ulang, sehingga tidak memiliki nilai jual, dengan demikian, lama-lama, sampah berupa kain/pakaian polyester hanya menjadi timbunan saja di dalam tanah, bahkan bisa tersimpan lama sampai ratusan tahun3, karena kandungan plastiknya yang sudah sulit diurai oleh mikroorganisme.

Alternatif solusinya?
dibakar?
Sejauh ini, solusi yang terpantau paling bisa dilakukan adalah dibakar di lingkungan masing-masing atau di halaman rumah, namun pasti menimbulkan polusi udara yang membahayakan.

memakai alat pembakaran khusus, namun biaya mahal
Incrinator atau alat pembakaran khusus diklaim lebih bisa mengurangi polusi udara daripada dibakar manual, selain itu ada juga yang memanfaatkan panas pembakaran untuk memanaskan air, sehingga menggerakkan generator untuk diubah menjadi energi listrik.

Namun, peralatan/pabrik/fasilitas incrinator ternyata membutuhkan investasi/biaya yang tinggi, tidak sembarang orang bisa dan mampu membuat. Bahkan sekelas negara pun masih harus kerja sama dengan perusahaan luar negeri untuk teknologi ini4. Sehingga biasanya teknologi ini masih harus mendatangkan Perusahaan dari luar negeri agar mereka mau membuat pabrik di TPA dalam negeri. Selain itu juga ternyata tidak semua sampah itu dibakar, masih perlu dilakukan pemilahan sampah yang harus dilakukan secara otomatis, yang pasti membutuhkan teknologi juga, teknologi sudah pasti harganya tidak murah.
Jadi bila dilihat dari sisi Investor, pasti berpikir-pikir dulu sebelum mengajukan diri untuk mengolah limbah/sampah di suatu daerah, dengan modal sekian, keuntungannya berapa?
Bila menguntungkan, pasti dari dulu sudah berdiri pabrik/incrinator di Bantar Gebang atau di TPA, nyatanya saat ini TPA/Pemerintah masih merasa perlu membayar Perusahaan luar negeri agar mau membuka pabrik di Indonesia, Pembayaran tersebut entah dalam bentuk langsung5, pembelian hasil pembakaran, pembayaran lelang5, atau yang lain. Karena TPA dipaksa menangani sampah yang menumpuk. Uangnya dari mana? ya dari pajak.APBN.
Masalah ini sering terjadi dan sering kali selesai dengan uang pajak/APBN, contoh gampangnya Transportasi di Jakarta yang dulunya dikuasai swasta, angkutan sering ngetem, ugal-ugalan, tanpa AC, menunggu lama, dan lain sebagainya, akhirnya setelah dibantu dengan uang pajak/APBN yang menggerakkan manajemen transportasi publik, akhirnya sopir tetap digaji asalkan kerja sesuai standar.

digiling lagi? namun
Setelah saya telusuri lagi, ada satu lagi pengolahan sampah pakaian yaitu digiling, lalu dijadikann benang sebagai bahan baku kain lagi, namun lagi-lagi mereka, tetap tidak bisa menerima kain/pakaian dengan jenis polyester. Menurut informasi yang saya dapat2, kain/pakaian polyester akan menyulitkan mesin penggiling, karena di dalamnya yang mengandung plastik. pemisahan plastik dengan serat kain ternyata harus melalui bahan kimia yang tentunya lebih mahal, atau tidak ekonomis lagi.

mempercayakan kepada pengolah
akhirnya saya menemukan pihak yang mengklaim dirinya mampu mengolah sampah kain polyester1, mereka mengklaim tetap menerima sampah pakaian polyester. Entah bagaimana caranya, namun setidaknya melalui drop box 6 yang mereka sediakan di beberapa titik, bisa menjadi indikator awal niat baik ini, Salah satu dropboxnya yang berada di Bintaro di kopituku7. Meskipun jumlah drop box tidak terlalu banyak, hanya ada di kota besar, setidaknya itu menjadi pertanggung jawaban uang bantuan dari pemerintah untuk menjadi startup yang mengelola lingkungan. Update Maret 2026, sementara tidak menerima lagi sampah baju bekas
Sayang sekali update terbaru, infonya, mereka saat ini tidak menerima lagi, dengan alasan evaluasi
ini adalaha jawaban mereka ketika saya tanya masih bisa apa tidak
Maaf kak, sementara waktu ini drop box dari Pable yang ada di beberapa tempat itu belum menerima lagi kak, dikarenakan masih tahap evaluasi, sehingga kami baru menerima untuk drop textile waste dengan sistem serapan dan titik dropnya di Surabaya🙏🏻

dari sini, terlihat memang begitu sulitnya mengelola sampah baju polyester, bahkan di negara maju pun, juga tidak mau mengolah, malah banyak yang "dibuang"/diekspor ke negara lain. Sementara duit pajak yang kita bayarkan, dihabiskan dengan program-program yang lain yang lebih populis untuk pemilihnya.



1https://linktr.ee/pableindonesia
2https://www.instagram.com/ecotouch_id/?hl=en
3https://bangka.tribunnews.com/2022/11/15/bahan-baju-sulit-terurai-akademisi-sebut-thrif-shop-jadi-solusi-bantu-atasi-krisis-limbah-pakaian
4https://koranbekasi.id/2023/10/26/perusahaan-asal-cina-akan-kelola-sampah-bantargebang-senilai-rp16-triliun/#google_vignette
5https://koranbekasi.id/2023/10/26/perusahaan-asal-cina-akan-kelola-sampah-bantargebang-senilai-rp16-triliun/
6https://www.instagram.com/stories/highlights/18059462836389067/
7https://www.instagram.com/tokokopituku/
8https://www.scribd.com/document/483561846/Jurnal-Uji-Mikroskop
Read More...

Saturday, February 12, 2022

Mencoba Menabung di Bank Sampah

Sebenarnya rosok ini sudah ada sejak dulu, hanya namanya saja yang berbeda, pemulung, terima barang bekas, bank sampah, dan nama nama yang lain, sebenarnya sama yaitu sama-sama mengumpulkan sampah, cara kerjanya pun juga berbedaa-beda, ada yang modern ada yang tradisional, tradisional jika mengumpulkan sendiri seperti pemulung, ada juga cara modern dengan menggunakan aplikasi, dengan slogan peduli lingkungan, tapi dari semua itu yang paling penting adalah bagaimana mengelompokkannya agar bisa didaur ulang dan bisa jadi laku dijual. OK, kali ini saya berikan salah satu contoh pengelompokan sampah yang bisa kalian lihat pada foto di bawah ya.





Contoh harga beli sampah dan jenisnya, diambil dari salah satu koperasi bank sampah Bulan Januari ini.
Jika pengen mengetahui lebih banyak, sebenarnya kalian bisa gogling sendri, atau mencari di youtube youtube.
Contoh jenis sampah yang bisa ditabung menjadi bank sampah daripada dibuang begitu saja

Read More...

Sunday, July 28, 2019

Sampah Jadi Listrik

Entah ini bagaimana dari sampah dibakar, panasnya jadi listrik, apakah hoax apa bukan silahkan dicari sendiri ya gan, sementara artikelnya saya copast dulu, dari sampah dibakar, memanaskan air, lalu keluar uap, terus dari uap menggerakkan turbin, ya begitulah

Reppie waste-to-energy plant merupakan terobosan terbaru dalam pengolahan sampah dimana sampah dikumpulkan sebanyak-banyaknya lalu dibakar dan menghasilkan panas. Setelah itu panas digunakan untuk memanaskan air. Setelah air mendidih maka akan menghasilkan uap. Uap kemudian dialirkan ke generator untuk menggerakan generator sehingga tercipta pembangkit listrik tenaga uap. Sisa residu kemudian diolah menggunakan teknologi pengolahan gas modern untuk mengurangi pelepasan racun selama proses berlangsung.


Bakar Sampah Jadi Listrik di tangan Pria Ini

Tentu dari pembangunan teknologi pembersih sampah ini kota Addis Ababa’s sebagai pusat Reppie waste-to-enegy plant beroperasi akan mendapatkan suplai listrik sebanyak 30% dari total penggunaan harian negara dan membutuhkan total 80% sampah yang ada di kota tersebut atau sekitar 1400 ton setiap harinya untuk dapat menghasilkan listrik tersebut.


Mekanisme pembakaran sampahnya pun dilakukan dengan cara membakar tumpukan sampah dengan suhu 1800 derajat celcius dan mengkonversinya menjadi 185 Juta KWh listrik pertahun. Proses tersebut telah di uji dan berhasil sehingga Reppie waste-to-energy plantmenjadi bagian dari rencana Negara Ethiopia yang lebih luas untuk meningkatkan standar hidup masyarakat sekaligus membatasi emisinya, strategi ini dinamakan "ekonomi hijau tahan iklim". Berikut potret-potret yang dilakukan disana untuk mengatasi penumpukan sampah menggunakan Reppie waste-to-energy plant


sumber artikel lupa saya catat darimana
Read More...