Saturday, January 30, 2021

Perjalanan Jakarta Bali Etape Boyolali Kediri

Etape ini adalah Etape keempat dari rangkaian perjalanan Bali Jakarta Pulang Pergi, Etape kali ini akan mencoba melakukan perjalanan dari Boyolali ke Kediri masih menggunakan avanza 2013 manual.

14.30 WIB
Perjalanan dimulai sore hari agar sampai tujuan tidak terlalu malam, rencananya Solat Zuhur dijamak dengan solat Ashar, dan mahrib dijamak dengan Isya sesampainya di tujuan. Berangkat dari Boyolali menuju timur, kemudian masuk pintu tol Kartasura, keluar pintu tol Palur, keluar sini karena kalau dilihat di peta jalur tol Palur ke Ngawi masih segaris lurus dengan jalur arteri jalur biasa, yang ternyata perhitungan saya meleset besar mengingat jalur dalam kota Sragen ini sering ketemu lampu merah.

Memasuki hutan Ngawi harus benar-benar tertib mengingat sering ada razia garis marka jalan. saya pun masuk tol Ngawi keluar tol Caruban karena jalan tol ini langsung lurus ke timur tanpa harus memutar-mutar baik melalui maospati maupun karangjati.
Selanjutnya dari Nganjuk, menuju arah selatan, arah Kediri, dimana sepanjang jalan ini sering sekali bertemu dengan motor yang keluar malam minggu.


19.00 WIB Sampai Kediri jam 7 malam, dan langsung mencari tempat makan, pertama kali nyari nasi goreng sampaing sma dua Kediri namun sudah tutup, akhirnya berhenti di tongseng depan Hotel Penataran, karena antriannya banyak, saya sampai menunggu satu jam sampai makanan siap dihidangkan, untuk porsinya cukup kecil menurut saya, jadi lebih baik langsung membeli dua porsi nasi goreng. Ringkasan perjalanan
Waktu tempuh sekitar 4,5 jam Boyolali Kediri, keluar masuk tol, jika full tol mungkin bisa 3,5 jam, biaya tol sekitar 80 ribu dan menghemat 1 jam perjalanan, waktu tempuh 4,5 jam ini sama dengan waktu tempuh saat naik motor melalui jalan biasa, sedangkan jika menggunakan mobil bisa sampai 7 jam melalui jalan biasa.

Perjalanan Jakarta Bali

Kali ini saya akan ceritakan timeline waktu perjalanan dari Jakarta menuju Bali yang saya bagi menjadi beberapa etape, etape III yaitu perjalanan dari Jakarta menuju Boyolali

13.30 WIB
isi bensin dulu sampai full yang ternyata menghabiskan biaya 196.000 sekaligus cek angin ban, dimana pada etape I di bali sudah dicek angin, kali ini yang perlu diisi hanya satu ban sebelah kiri depan saja sehingga biayanya cukup 4000 rupiah.

14.30 WIB
Mulai berangkat, perjalanan kali ini tidak banyak yang bisa diceritakan karena dari Jakarta sampai Semarang full lewat Tol, keluar tol via Sukun dilanjutkan perjalanan melalui jalur arteri Semarang menuju Boyolali. Hanya saja yang menjadi catatan adalah adanya hujan deras dari Palimanan sampai Kendal, Hujan deras ini sempat membuat pandangan menjadi tidak begitu jelas, apalagi saat melewati genangan yang membuat pandangan menjadi buta saking dahsyatnya cipratan air untuk ukuran mobil kecil. Saat hujan ini malah ada yang menyalakan hazard, padahal aturannya cukup menyalakan lampu kabut, hazard digunakan saat berhenti. Namun begitu apapun kondisinya harus tetap waspada ya.

Keluar Tol Sukun menuju Salatiga, rencananya akan mampir di RM Cikal Gading lagi, namun ternyata malah sudah tutup, saat itu sampai sekitar jam 21.00 WIB. Akhirnya melipir-lipir sampai di Kota Salatiga dan mencari makan disana, walaupun makan mie ayam, daripada tidak makan sama sekali ya. Ringkasan perjalanan Jarak tempuh kurang lebih 480 km an, dengan waktu tempuh 6 jam perjalanan, tidak mengisi bensin karena dari Jakarta diisi full, speed dipancang 100 kmh saja, biaya tol sekitar 300 ribu untuk penghematan sekitar 5 jam an.

Perjalanan Bali Jakarta

Setelah menyelesaikan etape I dari Bali menuju Boyolali, saya melanjutkan etape II, yaitu dari Boyolali menuju Jakarta, armada yang digunakan masih sama Avanza G Tahun 2013.

07.00 WIB
Berangkat dari Boyolali

07.30 WIB
Mampir Rumah Makan Cikal Gading yang menunya komplit, makan disini dengan sistem prasmanan atau ambil sendiri, menu yang saya suka adalah sambal tumpang dan tumis kacang, ada juga tahu bakso dan beraneka ragam lauk, biasanya buka 24 jam, namun karena adanya aturan saat pandemi, Rumah makan ini dibatasi bukanya atau tutup di malam hari.

08.00 WIB melanjutkan perjalanan menuju semarang, kali ini saya akan mulai masuk tol via Tol Sukun, karena tentunya jalan arteri dari Salatiga sampai Semarang saat ini seharusnya tidak akan semacet saat belum ada jalan tol. dan ternyata benar saja, pagi itu memang tidak terlalu macet, sesampainya di sukun saya berubah pikiran bablas sampai Jatingaleh, dan akan masuk tol mulai dari sana saja.

08.30 WIB
Masuk Tol Jatingaleh

08.40 WIB
Memasuki pintu tol kalikangkung, terlihat saldo tol masih 1.182.000 yang berarti perjalanan Tol Probolinggo Barat sampai Kartasura menghabiskan biaya tol 340.000 dengan penghematan waktu kurang lebih sampai 4 jam. 09.00 WIB
Mengisi bensin di rest area Kendal sebesar 260 ribu, sampai full diisi pertalite.

10.00 WIB
sampai di Pintu tol Comal Pemalang, artinya sebentar lagi akan berpindah provinsi.

11.30 WIB
Melewati Gerbang Tol Palimanan

12.20 WIB
Melewati Subang, dimana jika keluar akan ketemu rumah makan rosalia indah, gunung mulia

Jam 14.10 WIB
Sampai di Jakarta keluar tol Cikampek Ringkasan perjalanan Jarak Tempuh 488 kilometer,
Waktu Tempuh 7 jam termasuk istirahat 30 menit dan isi bensin 10 menit Biaya Bensin 260 K Biaya Makan 20 K Biaya Tol sekitar 300 ribu yang menghemat sekitar 4-5 jam perjalanan

Perjalanan Bali Jakarta

Perjalanan ini akan saya bagi beberapa etape, Etape I dari Bali-Boyolali, Etape II Boyolali-Jakarta, Etape III Jakarta Boyolali, Etape IV Boyolali-Kediri, Etape V Kediri-Bali
Etape I Bali-Boyolali 06.40 WITA

Berangkat dari Kuta, menggunakan armada avanza tahun 2013 yang ternyata tidak ada indikator radiatornya, entah kenapa ya tidak dikasih, tapi setelah browsing-browsing indikatornya memang bukan menggunakan jarum seperti avanza terdahulu, tapi menggunakan tanda kecil berupa gambar icon termometer yang pada saat itu tidak terlihat jika tidak menyala.

Sampai di Denpasar mampir pom bensin isi angin ban keempat2nya butuh diisih sehingga biayanya 16.000
Perjalanan dari Denpasar menuju utara diawali dengan arus pekerja yang menuju kota Denpasar, yang ternyata pagi itu cukup padat, namun untuk araah keluar kota cukup lengang, ternyata banyak juga pekerja yang berangkat pagi itu menggunakan motor yang didominasi motor matic, entah sekarang mengapa jarang ditemui motor bebek.

Lepas Denpasar, arah menuju Gilimanuk terbilang lebih sepi daripada arah sebaliknya yang sering ketemu dengan antrian truk-truk ekspedisi yang berjalan santai diikuti beberapa mobil pribadi. Memang jalan yang sempit membuat kita tidak dapat langsung mendahului truk-truk yang berjalan santai, tapi harus bersabar menunggu arah sebaliknya kosong. Sempet dibloong Lorena di jalur lurus dan menurun, namun balik saya salip karena ternyata terlalu pelan jalannya.

Untuk kondisi jalan pun cukup halus, hanya ada beberapa lubang yang bisa dihindari mengingat cahaya masih terang, berbeda jika jalan malam, pastilah lubang2 tersebut cukup membuat kesulitan pengendara untuk menghindarinya. Sempat berpapasan dengan Bus Mansion bus jurusan Purwokerto Denpasar, serta Gunung Harta yang tidak sempat teridentifikasi jurusan mana, untuk arah gilimanuk sendiri sempat bertemu Lorena, dan Kramat Djati saat di dalam kapal penyeberangan.

10.00 WITA

Cuaca pagi cerah, dengan melaju santai tanpa harus mosak-masik sampailah saya di Pelabuhan Gilimanuk jam 10 tepat, saya pun menuju tempat cek pertama yang ternyata adalah tempat penjualan tiket offline, padahal saya sudah membelinya semalam, dan biasanya tempat cek pertama tadi ada pemeriksaan rapid antigen yang ternyata tidak ada pemeriksaan sama sekali, jadi sia-sia kemarin periksa rapid sebesar 175K, tapi demi keamanan kita dan orang sekitar, tidak masalah.

Lanjut melaju menuju Kapal dengan menunjukkan bukti pembelian di loket, lalu kita diberikan dua karcis masuk kapal, satu untuk discan saat masuk.

Kapal tidak terisi penuh karena masa pandemi, padahal jika tidak pandemi, kendaraan sampai antri di pintu masuk, para penumpang saat di dalam kapal wajib keluar dari mobil dan beristirahat di dek atas kapal. Tentunya hal ini karena alasan keamanan, saat ada situasi tidak diinginkan seperti goncangan feri yang keras, dapat menggeser kendaraan satu sama lain sampai menjebat pintu. Pada kesempatan ini saya gunakan untuk istirahat sambil makan siang yang tadi saya bawa. sebenernya bisa juga membeli makan pada pedagang asongan agar sekalian mengisi waktu makan siang.

11.00 WIB
sampai di dermaga Ketapang, Mobil langsung berangkat kembali melewati jalur yang berkelok-kelok yang sangat nyaman, karena jarang sekali ketemu truk maupun antrian kendaraan. Perjalanan kemudian dilanjutkan melalui jalur pantura, melewati alas baluran terlihat kera yang berada di samping kiri-kanan, untuk jalur yang berbahaya menurut saya adalah saat keluar alas baluran dimana jalurnya menurun dan lurus, yang ternyata di ujung jalur berupa belokan tajam, jika kalian terlena tidak mengurangi kecepatan akan sangat bahaya. Selain jalur itu, jalur yang berbahaya adalah jalur irung petruk yang saya lupa dimana.

13.00 WIB
Isi bensin di pom bensin Situbondo sebesar 255.000 rupiah pertalite sampai full, setelah itu langsung berangkat


13.10 Melewati pembangkit listrik paiton yang ternyata dicat biru yang kalau malam hanya terlihat kelap-kelip lampunya.

15.30 WIB
masuk pintu tol Probolinggo Barat
di Tol mobil dipacu maksimal 100kmh menggunakan gigi 5 yang ternyata menggunakan rpm 3500, posisi kakipun harus tetap mempertahankan gas selama kurang lebih beberapa jam, saya gunakan trik dengan memakasi sepatu dan menyender di kanan agar tidak cape.

17.30 WIB
Istirahat di Rest area magetan selama setengah jam untuk Sholat jamak Zuhur dan Ashar, setelah itu melanjutkan perjalanan ke barat, di rest area ini, ketemu Bus Haryanto arah barat yang kalau lewat suara knalpotnya lebih mirip suara pesawat. Selain itu di Tol ini ketemu juga bus Pahala Kencana.

19.45 WIB
Keluar Pintu Tol Kartasura, lalu menuju arah barat

19.00
Masuk Kota Boyolali, disini mau mampir soto seger Fatimah, yang ternyata malah sudah habis dan sebentar lagi akan tutup, akhirnya melipir ke sebelahnya di Rumah Makan Joyo Roso yang masih buka, disitu ada menu gule kambing dan bakso. Ternyata sebenarnya Rumah Makan ini juga akan tutup karena adanya aturan harus tutup malam hari saat pandemi.

Saturday, January 9, 2021

Cara Mengatasi Komentar Spam di Blogger


Komentar spam adalah komentar yang bertujuan untuk mencari backlink yang isinya biasanya tidak berkaitan dengan isi postingan kita dengan cara menaruh link aktif pada komentar blog kita, isinya yang bertubi-tubi dan membuat kolom komentar kita tidak bisa menampilkan komentar yang benar-benar berkaitan dengan postingan kita, karena tertutup oleh komentar spam. Cara ini bukan bertujuan untuk menghapus langsung komentarnya, namun sebatas menonaktifkan link aktif.
Caranya:
Pertama-tama buka template blogspotmu

copy link ini
.comment-content a {display: none; }


lalu cari kata2 di bawah ini, harap dicari dengan menggeser manual dari atas ke bawah, sebab jika kalian cari menggunakan fitur search, tidak akan ketemu, lalu pastekan kode di atas tepat di atasnya, sehingga hasil akhir tampak seperti pada gambar di atas

]]></b:skin>
sumber atarezkypedia blog