Saturday, March 12, 2016

Muji Jaya Citra Mandiri Trans CM17

Gak seperti agen-agen yang lain, pas pesen 5 hari sebelum keberangkatan, langsung saja bapak agen langsung nulis kode bus CM 17 di lembar tiketnya, masih penasaran ini pelari apa bukan ya, karena jarang terlihat postingan tentang si CM 17 ini di dunia maya. OK, tinggal menunggu hari, pada hari H, saya datang ke terminal Rawamangun, jam 6 sore, padahal di tiketnya ditulis kumpul jam 17, berangkat jam 18.00, iya setahuku biasanya bus bus pada berangkat jam setengah tujuh malam. dan ternyata benar Bus bermesin Mercedez Benz OH 1626 itu masih bergeming di tempatnya sampai pukul 18.30. Pada jam itu pula Bejeu Berkode B47 entah apa julukannya juga mulai bergerak, HR 90 New Shapira sudah berangkat duluan tadi,

pada saat berangkat ini si B47 langsung belok ke kanan menuju arah Pemuda, sedangkan si MJCM CM 17 Bergerak ke kiri akan melewati cipinang, Seperti biasa jumat sore lalu lintas ramai, Apalagi Jakarta, paling macet pas lewat Jalan Raya Bekasi, sebelum lampu merah, dua lajur jalan penuh dengan kendaraan, macet sampai timur. di saat enak enak menikmati macet ini, wuss, Bejeu livery Kuning api, entah apa nama liverynya, yang jelas bukan livery black gold, tapi livery kuning yang biasa itu, melaju mulus di jalur Busway yang kosong mlompong, Si Bejeu ini sampai di Lampu merah langsung potong kiri, set, trus menghilang, ck ck ck, ini baru permulaan, nanti masih ada lagi.

Masuk Tol, jalannya bus ini santai banget, ga terlalu kenceng, kalau saya bilang samalaha kayak style soloensis, alon-alon asal kelakon. diasepin sama Haryanto entah HR Berapa,
di Cipali diasepin entah KD Berapa, nyalip langsung hilang, di Brebes juga diasepin Bejeu entah B berapa, juga langsung menghilang di depan. Mungkin karena ada Cipali ini ya jadi jalannya nyantai banget. MJCM ini nyampe terboyo aja jam setengah 4 pagi dengan style nyantainya. Harga tiket Haryanto, Shantika MJCM, Bejeu sama-sama 200 K, tapi larinya beda.

Oiya di rumah makan di Cipali ini MJCM berhenti sama Nusantara, trus disitu parkir juga Madu Kismo, la pas di rumah makan ini kan pas di pinggir jalan, sambil menikmati bus-bus yang lewat, eh ada bus Muji Jaya Livery Hitam yang bablas aja, ternyata beda ya servis makan Muji jaya sama MJCM. Sempet lewat juga ada Sinar Jaya, Kramat Djati.

Sepanjang perjalan ga ada overa vantura, apalagi adanya Cipali, ga bakal ketemu lagi jalur mulus Pantura Cirebon ke barat yang bisa dilalui dengan kenceng, karena begitu keluar Tol Cipali masuk Brebes ketimur jalanan bikin bus gemblodag, walau udah pake air sus, nyatanya pak sopir ga berani banter2, lubang jalan masih sering terdeteksi, lagi-lagi disini ketemunya sama truk, mobil, karena tidak ada opra pantura yaudah saya memejamkan mata saja.

Sampai Rumah makan, penumpang ga turun, cuman ganti sopir, entah aturan sebenarnya gimana, tapi kalo menurut saya emang enak gini sih, penumpang udah pada pw tidur pules juga soalnya. Tapi ga tau menurut yang lain, mungkin ada yang pengen berhenti pengen ke toilet, atau pengen turun meregangkan badan, kan ga tau juga.

Comic 8 Casino Kings Part 2


Sebuah film yang anti mainstream, punya perbedaan kebiasaan dengan film film biasa, dikemas dengan rasa humor ala stand up comedian, sehingga penonton tidak melulu disajikan adegan tentang jalan cerita yang gitu-gitu saja alias mainstream, apalagi sajian ala sinetron yang bisa kita tebak stylenya.

Memang di film ini ada adegan berkelahi yang kita tahu itu bukan berkelahi beneran, tapi dengan efek ciamik, perpotongan gerakan, dari atas, samping, kiri kanan, pertarungan tersebut tetap terlihat keren, tidak sadis, juga tidak sekedar menggoyangkan kamera. karena sama sama adegan berkelahi tapi dengan efek yang berbeda, bisa malah terlihat lebih sadis, atau bisa juga malah terlihat lebih kurang mengena.

Selain itu ada juga efek dinosaurus yang menurut saya pribadi memang masih kelihatan animasi, tapi bagi saya juga merupakan pencapaian animasi paling jos sampai saat ini dibandingkan animasi Indonesia yang selama ini saya lihat, perlu ditingkatkan, paling tidak bisa bikin kayak film Men In Black, MIB 1 aja bisa bikin kayak gitu dibikin tahun 1997, sekarang adalah tahun 2016, dan film Indonesia masih belum ada yang membikin kayak gitu. Ok semoga semakin berkembang ya.

Juga Kredit pembuka film juga udah ciamik menurut saya, soal jalan cerita, walau khayalan dan berada entah di dunia mana, namun karena dikemas dengan ciamik, unsur pembawaan lebih menarik menurut saya. Seperti film Dono Kasino Indro yang dilihat berkali-kali orang masih aja ketawa, disini ada tambahan perkembangan ala jaman sekarang. Tak masalah orang mengatakan pertarungan dua wanita niru stylenya Resident Evil.