Thursday, September 9, 2010

Lebaran


Lebaran tiap tahun ditandai dengan mudik ke kampung halaman, Idul fitri menjadi momen yang tepat untuk bersilaturahmi, bertemu, melepas rindu dengan keluarga, serta bersua langsung dengan kawan lama. Orang pun rela berdesak-desakan di kereta, rela antri tiket bus sampai berjam-jam, rela macet, rela membayar tiket yang harganya membumbung tinggi untuk pulang. Namun sebenarnya mudik lebaran bukan hanya mudik biologis pulang kampung, ada makna lain terkandung di dalamnya.

Idul Fitri secara etimologis berasal dari kata Ied dan Al Fithr, Ied berarti kembali dan Fithr artinya berbuka. Dalam arti ini Fitri bukan berasal dari fitrah (suci), namun orang cenderung berargumentasi fitri berasal dari kata fitrah/suci. Sah-sah saja bila diartikan secara substansi, karena setelah kita berpuasa selama satu bulan menahan lapar dan dahaga Allah SWT mengampuni dosa-dosa kita sehingga kita kembali suci. Namun pertanyaannya apakah kita benar-benar telah bebas dari dosa setelah berpuasa Ramadhan? Wallahu alam.

Karena kita sendiri tidak tahu dosa kita diampuni atau tidak Rasulluah SAW mengajarkan kepada kita ucapan saat kita bersua dengan saudara dengan ucapan “Taqobalallahu minna wa minka (waminkum), waja’alana minal aidin wal faizin” Artinya: “Semoga Allah SWT menerima ibadah Ramadhan saya dan anda, dengan demikian kita menjadi orang orang yang kembali dan berbahagia karena memperoleh kemenangan”. Kembali ke agama, kembali mudik menemukan hati nurani, menemukan Allah dalam dirinya, jadi bukan sekedar kembali mudik biologis saja.

Makna Sosial lebaran adalah bertemunya perantau dengan keluarga asalnya di kampung halaman, bersosialisasi langsung dan bersilaturahmi yang mengandung sisi positif bagi mereka. Mengobati kerinduan setelah sekian lama merantau di tempat lain dan mengajarkan anak untuk menghargai orang lain.

Sedangkan dilihat dari ekonomi adalah meningkatnya arus uang perantauan ke daerah asal. Momen ini menjadi kesempatan “desa” menerima uang dari “kota”, dengan catatan tidak berlebihan dan menjadi ajang pamer kekayaan. Yang kedua uang untuk sarana dan prasarana mudik seperti penyempurnaan jalur dan penambahan transportasi.

Semoga lebaran kali ini menjadikan kita kembali kepada kemenangan, dan amal ibadah Ramadhan kita diterima Allah SWT, semoga amanah yang diberikan dapat kita laksanakan dengan sebaik-baiknya, amanat menjaga diri pribadi dari hawa nafsu bukan hanya saat puasa tapi juga di luar ramadhan.
gambar diambil dari e-matahati